
Sepulangnya dari pondok kayu milik Sebastian. Elizabeth terlihat gugup saat berjalan menuju ruangan tempat Nathan beristirahat untuk memulihkan kondisi terlebih dulu.
"Ah! Bagaimana ini... Apa yang harus aku katakan saat bertemu pria itu?" Elizabeth membenturkan kepala beberapa kali ke tembok karena malu jika berhadapan dengan Nathan.
Pekerja Bar yang melihat Elizabeth membenturkan kepala merasa jika asisten pemimpin besar mereka sudah aneh dan gila meskipun luarnya terlihat sebagai wanita cantik.
Menyadari tatapan aneh dari dua pekerja Bar itu. Elizabeth langsung melirik balik dan memberikan tatapan membunuh yang membuat mereka langsung lari ketakutan.
Setelah dua pekerja Bar itu pergi, Elizabeth kembali bertingkah aneh seperti seorang wanita yang merajuk karena tidak dibelikan sepatu bermerek terkenal oleh kekasihnya.
Ketika sampai di depan pintu ruangan pribadi milik Nathan. Elizabeth menggigit jarinya untuk mengurangi rasa gugup yang masih menyerang mentalnya padahal sangat kokoh jika berhadapan dengan kematian.
Elizabeth menghela nafas panjang dan mengetuk pintu tiga kali sebelum pada akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam ruangan tempat Nathan saat ini sedang beristirahat.
Pandangan Elizabeth seketika tertuju ke arah Nathan yang sedang membaca koran di sofa. Dirinya juga mendapati Jasmine di sana yang sedang menyuntikan serum ke dalam infus milik Nathan atas arahan gurunya yaitu Harold.
Melihat kehadiran Jasmine di sana. Elizabeth tidak bisa menahan diri untuk berdecak kesal dan memberikan kode kepada Jasmine agar segera keluar sebelum urusan di antara mereka menjadi sangat panjang.
Jasmine yang mendapat ancaman dari Elizabeth tentu saja merasa takut. Wanita polos itu kemudian segera pamit kepada Nathan dan Elizabeth untuk memberikan ruang kepada mereka.
Sekarang akhirnya Jasmine mengetahui alasan Katarina memintanya untuk tidak dekat-dekat dengan Nathan setelah melihat ekspresi Elizabeth yang terlihat kesal.
"Tidak biasanya kau bangun pagi-pagi sekali. Apa kau salah makan tadi malam?" Tanya Nathan sambil membaca koran tanpa memperhatikan sosok wanita cantik di dekatnya.
__ADS_1
Tinggal satu atap selama satu bulan bersama Elizabeth membuat Nathan menyadari kebiasaan wanita cantik itu yang sering bangun saat tengah hari.
Mendapati Elizabeth bangun pagi-pagi sekali tentu membuat Nathan merasa penasaran karena tidak biasanya wanita cantik itu pergi tanpa sepengetahuannya.
Telinga Elizabeth seketika menjadi merah begitupun dengan raut wajahnya. Emosi wanita cantik itu seketika memuncak setelah mendengar sindiran keras dari Nathan tentang masalah tidurnya.
Dari yang awalnya gugup dan merasa berempati kepada Nathan. Elizabeth sekarang justru ingin mencekik leher pria itu agar tidak mengeluarkan kata-kata pedas lagi kepada dirinya.
Emosi Elizabeth seketika padam saat mengingat kembali rekaman kamera tersembunyi di dalam pondok kayu milik Sebastian yang memperlihatkan eksekusi Nathan.
Melihat raut wajah Nathan yang terlihat tidak memiliki beban setelah mendapatkan ke-tidak adilan. Membuat Elizabeth merasa kesal dan tiba-tiba menarik kerah baju milik Nathan.
Nathan yang sedang membaca koran tentu saja terkejut saat Elizabeth menarik kerah bajunya dan membuat wajah mereka sekarang hanya berjarak dua jengkal saja.
Secara tidak sadar Nathan mengangkat ke-dua tangan untuk nantinya jika dirinya melakukan tindakan aneh kepada Elizabeth dan dilaporkan, setidaknya dia memiliki pembelaan jika tidak menyentuh sedikitpun wanita cantik itu.
"Setelah mendapatkan perlakuan tak adil kenapa kau masih bisa terlihat biasa saja? Katakan apa yang sebenarnya kau pikirkan kepadaku!" Elizabeth secara emosional meminta penjelasan kepada Nathan sambil menarik-narik kerah baju milik pria tersebut.
Elizabeth masih tidak bisa habis pikir dengan isi kepala Nathan. Dia bahkan secara terang-terangan menyindir poker face yang selalu di gunakan oleh pria itu untuk menyembunyikan semua perasaannya.
Melihat Elizabeth yang sangat emosional dan meminta sebuah penjelasan. Nathan akhirnya menyadari jika wanita cantik itu sepertinya sudah mengetahui fakta yang sebenarnya.
Nathan langsung menyentil dahi milik Elizabeth dan meminta kepadanya untuk tenang. Bahkan di situasi seperti ini Nathan masih meledek Elizabeth yang tiba-tiba marah tanpa sebab.
__ADS_1
Melihat Nathan yang masih tidak mau menjawab dan masih meledek dirinya. Elizabeth menatap Nathan seolah tidak percaya dengan sikap pria itu karena ingin menutupi masalahnya sendiri.
Tiba-tiba Elizabeth menangis dan berteriak histeris sambil memukul dada Nathan berulangkali untuk melupakan rasa frustasi karena pria itu masih menutup diri rapat-rapat, padahal dirinya sudah mengetahui semua perasaan menyakitkan yang selama ini Nathan simpan sendiri.
Dibandingkan dengan masalah antara dirinya dengan ke-dua orang tuanya. Elizabeth merasa masalah yang dihadapi Nathan jauh lebih besar dan menyakitkan karena di dalamnya terdapat kematian sesekali yang sangat dekat dengan pria itu.
"Tolong katakan semuanya kepadaku. Aku juga akan melakukan hal sebaliknya. Bukankah kau mempercayaiku?" Elizabeth bertanya dengan nada bicara terbata-bata dan terlihat bibirnya yang gemetaran.
Tidak perduli seberapa menyebalkannya sikap dan perkataan Nathan kepada dirinya. Elizabeth justru merasa senang bahkan diam-diam terhibur dengan perlakuan pria itu yang selalu menjaganya selama satu bulan ini.
Hanya saja sekarang Elizabeth merasa jika dirinya tidak tahu malu, karena Nathan selalu berusaha menghiburnya di tengah masalah berat yang sedang dia alami sendiri.
Nathan tersentak melihat Elizabeth yang sangat frustasi karena dirinya. Tetapi untuk sekarang dia masih enggan membuka diri setelah kejadian pahit yang dirinya terima secara berturut-turut dalam waktu berdekatan.
Dengan lembut Nathan menepuk-nepuk bahu Elizabeth dan membawanya ke dalam pelukan untuk menenangkan psikologi wanita cantik itu yang sedang terguncang, setelah menerima fakta bahwa orang kepercayaannya sendiri yaitu Margareth ternyata selama ini hanya memanfaatkannya saja.
Elizabeth mencengkram pakaian Nathan saat menyadari pria itu masih tidak mau membuka diri untuknya. Disisi lain dia juga tambah kesal karena Nathan masih mencoba untuk memenangkan dirinya yang sekarang merasa frustasi.
Wanita cantik itu sekali lagi berteriak histeris dan mencengkram baju Nathan lebih kuat. Elizabeth benar-benar tidak menyangka jika semua keangkuhan yang sudah dia bangun sejak memulai karier, dengan mudahnya dihancurkan oleh pria itu yang hanya dia kenal selama satu bulan.
Elizabeth juga tidak habis pikir bagaimana selama ini dirinya tidak menyadari jika hanya dimanfaatkan oleh Margareth untuk menyingkirkan semua musuh bisnis gelapnya.
Disisi lain Nathan tidak berkata banyak dan hanya berusaha menenangkan psikologi Elizabeth sebelum emosi wanita cantik itu tidak stabil hingga membuatnya kehilangan akal sehat.
__ADS_1
Nathan merasa disisi lain cukup beruntung karena sejak masih kecil sudah dilatih mentalnya. Tidak seperti Elizabeth yang belum siap menerima kenyataan jika selama ini hanya diperalat oleh Margareth.