
Nathan bersama tiga orang mata-matanya tiba di sebuah motel setelah menempuh perjalanan selama setengah jam menggunakan mobil.
Berbeda dengan motel pada umumnya. Motel ini merupakan properti yang sengaja Nathan beli secara diam-diam tanpa sepengetahuan anggota terdekatnya, untuk dijadikan tempat tinggal gratis bagi para tunawisma.
Tiga orang pria yang sedang bersama Nathan sendiri, merupakan tunawisma yang sudah dia bantu dan sekarang bekerja untuk dirinya sebagai mata-mata serta informan.
Melihat kedatangan Nathan, beberapa orang anak yang sedang bermain langsung menghampirinya. Sejumlah tunawisma yang sudah dewasa juga menghampiri Nathan untuk sekedar menyambut kedatangannya.
Nathan dengan senyuman ringan diwajahnya menyapa balik mereka. Dia kemudian masuk ke dalam motel untuk melihat kondisi tempat tersebut setelah dia tinggal beberapa waktu.
Sambutan hangat dari para tunawisma mulai berdatangan saat Nathan memeriksa kondisi di dalam motel bersama dengan beberapa pengurus yang bekerja disana.
Nathan mengajukan beberapa pertanyaan seputar kesehatan, makanan, pakaian, sampai kerusakan bangunan kepada seorang wanita berkulit hitam yang bertugas sebagai kepala pengurus disana.
Julia sebagai ketua disana mulai menjelaskan beberapa kebutuhan yang kurang bagi para tunawisma disana kepada Nathan. Semua laporanya tentu saja didengarkan oleh Nathan.
Apa yang dilakukan oleh Nathan dengan membantu para tunawisma disana, tidak lain merupakan bagian dari program yang sudah dia janjikan kepada Llyod Austin beberapa waktu lalu.
Meski fasilitas yang dia persiapkan belum sepenuhnya maksimal. Nathan masih terus belajar dari beberapa tunawisma disana untuk memperbaiki program yang sedang dia jalankan.
Untuk kedepannya tentu saja Nathan akan memperbaiki fasilitas bagi para tunawisma dan pecandu obat-obatan terlarang. Tujuanya tidak lain untuk merubah pandangan publik jika kawasan Kensington kedepanya bisa aman.
Setelah mengurus semua pekerjaan disana. Nathan kemudian pamit dan tidak lupa menitipkan sejumlah uang kepada Julia untuk kebutuhan para tunawisma disana.
Begitu mobil yang dikendarai oleh Nathan sudah pergi. Dari kejauhan orang misterius keluar dari tempat persembunyian dan melihat kearah fasilitas rehabilitasi.
Orang misterius itu tidak lain merupakan Elizabeth yang sejak awal sudah mengikuti Nathan secara diam-diam karena menaruh rasa curiga kepada pria tersebut.
Penasaran dengan fasilitas yang dibuat oleh Nathan untuk menampung para tunawisma. Elizabeth memutuskan untuk menyelidikinya sendiri dan datang kesana.
__ADS_1
Seorang pria yang sebelumnya menjadi mata-mata untuk Nathan. Terlihat sedang membuang sampah sendirian. Kesempatan ini tidak Elizabeth sia-siakan dan langsung dia gunakan untuk mencari informasi.
Elizabeth kemudian keluar dari tempat persembunyian dan langsung menodongkan senjata kearah pria itu. Ia bahkan mulai melakukan ancaman untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan.
Pada awalnya pria itu enggan menjawab pertanyaan dari Elizabeth. Tetapi setelah wanita cantik itu melepas masker dan topi hitam yang dia kenakan, akhirnya dia mau membuka suara.
Saat melihat wajah Elizabeth. Pria itu mengira jika wanita cantik tersebut merupakan kekasih Nathan, jadi dia berpikir tidak masalah untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.
Ekspresi yang ada diwajah Elizabeth berubah-ubah beberapa kali setiap mendengar cerita dari pria itu. Entah mengapa sekarang mulai ada keraguan di dalam dirinya tentang Nathan.
Kebenciannya terhadap Nathan perlahan mulai berkurang. Bahkan cara pandang Elizabeth sedikit berubah setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh pria itu.
Elizabeth sekarang bingung harus berbuat apa. Setelah mendengar cerita dari pria itu, Elizabeth harus mengakui jika Nathan tidak sejahat seperti yang yang sudah dia pikirkan selama ini.
Jujur setelah tinggal bersama Nathan dan kelompoknya. Elizabeth tidak pernah melihat jika mereka melakukan tindakan yang terlihat seperti penjahat, meski tidak bisa dipungkiri jika kelompok Nathan menjual obat-obatan terlarang.
Dari pada bersama dengan anggota Pasukan SABER. Elizabeth justru merasa lebih hidup saat tinggal bersama dengan Nathan dan anggota pria itu yang bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa ada aturan ketat.
Tetapi disana ada Sebastian dan Harold yang selalu memisahkan mereka saat sedang bertengkar. Disisi lain Elizabeth merasa nyaman berada di dekat Nathan.
Elizabeth sebenarnya tidak mengakui hal ini. Tetapi melihat sikap Nathan yang sangat berbeda dengan pria yang kebanyakan dia kenal. Ia merasa betah tinggal disana meski beberapa kali berselisih dengan pria tersebut.
Disisi lain Elizabeth masih tetap membenci Nathan setelah kejadian dimana pria itu melakukan pembunuhan berantai kepada sejumlah anggota kepolisian.
Untuk itu Elizabeth memutuskan segera mencari Nathan agar dia bisa mengetahui alasan pria itu membunuh beberapa anggota polisi yang menurutnya terkesan sangat janggal.
Elizabeth tidak perlu butuh waktu untuk mencari keberadaan Nathan. Mengingat pria itu sangat menyukai Burger, dia langsung mencari keberadaanya dibeberapa restauran cepat saji.
Benar saja Elizabeth langsung menemukan Nathan yang sedang menghabiskan waktu makan siang di sebuah restauran cepat saji.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Elizabeth turun dari mobil dan langsung menghampiri Nathan yang tengah asik memakan Burger ukuran besar sendirian.
Elizabeth kemudian duduk tepat dihadapan Nathan dan melipat kedua tangannya dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal.
Pengunjung lain yang melihat hal ini mengira jika mereka merupakan pasangan kekasih yang sedang bertengkar karena sang pria pergi tanpa pamit dari rumah.
Nathan mengangkat wajahnya melihat ke arah Elizabeth sambil mengunyah Burger yang masih ada di mulutnya. Dia memiringkan sedikit kepala dan menatap heran ke arah wanita cantik itu yang tiba-tiba saja datang tanpa dia berikan lokasinya.
Melihat saus disekitar mulut Nathan. Elizabeth yang merasa geram langsung menyeka noda saus itu menggunakan tisu dan membuat pria tersebut hanya bisa terdiam.
"Apa yang kau lakukan disini. Bukankah aku sudah memintamu untuk kembali terlebih dulu?" Tanya Nathan sambil memperhatikan pakaian Elizabeth yang terlihat mencurigakan seperti seorang mata-mata.
Melihat perlengkapan yang dipakai Elizabeth seperti jaket hitam, masker, kacamata, dan topi. Tentu membuat semua orang berpikir jika wanita cantik itu sedang memata-matai Nathan.
Dari pandangan pengunjung restauran yang lain. Elizabeth terlihat seperti seorang wanita yang ingin memergoki kekasihnya karena dicurgai sudah berselingkuh.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu." Balas Elizabeth sambil memperhatikan Burger ditangan Nathan yang terlihat sangat menggoda.
Menyadari mata Elizabeth yang memperhatikan Burger ditangannya. Nathan yang mengira jika wanita cantik itu lapar kemudian meminta seorang pramusaji untuk membuatkan makanan seperti dirinya lagi.
Elizabeth tentu saja menolak tawaran dari Nathan. Tetapi setelah pria itu memberinya sedikit ancaman dengan tidak ingin berbicara bersama dirinya. Pada akhirnya ia hanya bisa menuruti permintaan Nathan meski sebenarnya dia tidak terlalu lapar.
Pikiran liar seketika melintas di kepala Elizabeth. Melihat jika dirinya segara sedang menghabiskan waktu makan siang bersama Nathan. Dia berpikir mereka sekarang sedang berkencan.
"Apa kau baik-baik saja? Kenapa senyum-senyum sendiri seperti orang gila?" Nathan merasa heran melihat Elizabeth tiba-tiba tersenyum sendiri tanpa alasan.
Nathan sebenarnya tertegun saat melihat wanita kasar itu tersenyum. Jujur saja dia merasa Elizabeth terlihat lebih cantik saat sedang tersenyum.
Tetapi tentu saja Nathan tidak ingin mengakuinya dan lebih memilih untuk mengejek Elizabeth seperti orang yang sudah tidak waras karena tersenyum tanpa alsan.
__ADS_1
Senyuman indah diwajah Elizabeth seketika hancur digantikan dengan ekspresi kesal yang sangat khas. Wanita cantik itu kemudian langsung melemparkan topi miliknya kearah Nathan dengan kesal.