
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 1
Cinta dan uang. Manusia tidak akan pernah puas sebelum mendapatkan keduanya. Ketika uang sudah di genggaman tangan kanannya maka mereka pun akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa menggenggam cinta di tangan kirinya. Keduanya harus mereka dapatkan. Tidak bisa hanya uang saja atau cinta saja. Cinta tanpa uang, tidak akan sempurna. Uang tanpa cinta, tidak akan lengkap. Tetapi tidak semua orang bisa memeluk keduanya secara bersamaan. Terkadang ada yang harus mendapatkan keduanya dengan cara-cara yang di luar batas kewajaran.
__ADS_1
Ratmi, perempuan sederhana dari Kampung Nelayan tampak sedang merias diri di depan cermin tua. Dengan kebaya berwarna kusam dan rambut disanggul sederhana, dia berkali-kali merapikan penampilannya di depan cermin. Hasan muncul dari balik kelambu yang kusam. Dia heran melihat istrinya berdandan secantik itu padahal hanya akan pergi ke rumah Juragan Damar sebagai buruh cuci baju dan setrika.
“Mau kemana? Wangi sekali,” tanya Hasan, curiga.
“Kemana? Ya ke rumah Juragan Damar-lah, memangnya kemana lagi?” jawab Ratmi dengan nada sinis seolah tidak suka suaminya bertanya macam-macam dengan penuh kecurigaan.
“Wangi sekali,” perasaan Hasan tidak suka melihat istrinya dandan secantik itu.
Hasan masih curiga, tapi dia tidak mau membuat masalah dengan istrinya. Sudah biasa Ratmi pergi ke rumah Juragan Damar sebagai buruh cuci dan setrika. Hampir satu tahun istrinya melakukan pekerjaan itu. Entah kenapa, belakangan ini Hasan mulai merasa was-was dengan perubahan istrinya yang selalu berusaha untuk tampil cantik setiap kali pergi ke rumah pemborong ikan paling kaya dan paling berpengaruh di kampung ini.
__ADS_1
Juragan Damar baru pulang. Belakangan ini dia sering melakukan perjalanan jauh ke luar negeri dengan kapal pesiar yang memakan waktu berbulan-bulan. Setelah sekitar 6 bulan, baru kali ini Juragan Damar kembali ke rumahnya. Dengan ditemani Pak Anwar, laki-laki berkaca mata tebal yang menjadi asistennya, Juragan Damar masuk ke dalam rumah. Pria gagah bercelana putih itu tampak lelah.
“Kamu boleh pulang,” perintahnya kepada Pak Anwar.
“Terima kasih juragan,” jawab Pak Anwar penuh hormat. Pak Anwar meletakkan koper Juragan Damar di atas meja, lalu pamitan pulang.
Juragan Damar berjalan menuju kamarnya. Ketika melintas di salah satu ruangan di rumahnya, dia mencium aroma minyak wangi yang sangat menyengat. Baunya menarik perhatiannya untuk berjalan mundur, mengintip siapa yang ada di dalam ruangan itu. Ternyata Ratmi sedang menyetrika baju. Entah kenapa, malam itu Juragan Damar tergerak untuk mendekati Ratmi. Dia seperti hilang kendali dan terus menatap perempuan muda yang saat itu di matanya terlihat sangat cantik dan sangat menawan.
Tiba-tiba Juragan Damar menyentuh pundak Ratmi. Ratmi menoleh ke belakang. Dia menatap Juragan Damar dengan tanpa sungkan atau takut, padahal Juragan Damar adalah majikannya yang harusnya tidak berani ia tatap dengan tatapan setajam itu. Tatapan mata Ratmi seperti sengaja menantang Juragan Damar untuk berani berbuat lebih dari itu. Juragan Damar pun seperti menemukan makanan yang lezat saat dia sedang kelaparan. Laki-laki paling kaya itu, mematikan stop kontak untuk memutus aliran listrik pada setrika yang baru digunakan Ratmi. Lalu Juragan Damar membelai pipi Ratmi dan tersenyum padanya. Ratmi pun membalasnya dengan senyuman nakal.
__ADS_1
Bersambung....