
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 72
Mahesa merangkulnya. Manira menatap Mahesa. Dia merasa sangat beruntung karena memiliki suami seperti Mahesa yang bisa mewujudkan semua mimpinya. Selesai berdiri di depan lukisan Goethe, mereka jalan-jalan menyusuri rumah Goethe yang sudah dijadikan musium dan dikunjungi wisatawan seluruh dunia. Mereka melihat semua benda peninggalan Goethe mulai dari pena yang dia gunakan untuk menulis karya-karyanya, pakaiannya, topinya dan semuanya. Sepanjang perjalanan, Manira tidak pernah berhenti merasa takjup, tidak percaya bahwa dia benar-benar ada di sana. Di rumah idolanya.
Setelah berkeliling di rumah Goethe, mereka berjalan membelah ratusan burung yang sedang memenuhi badan jalan yang sejuk itu. Lalu mereka menghabiskan waktu menaiki perahu menyusuri Sungai Main. Salah satu sungai yang sangat indah di kota cantik ini. Manira bersandar di bahu Mahesa, menikmati pemandangan kanan kiri sungai yang sejuk dan dikelilingi tanaman yang hijau dan asri.
__ADS_1
“Apa kamu mencintaiku?” tanya Manira menggoda Mahesa.
“Kamu ingin aku menjawab, tidak?”
Keduanya tertawa, “Aku hanya bercanda,” imbuh Manira yang tidak sedikit pun meragukan ketulusan Mahesa.
“Mana mungkin aku menyia-nyiakan perempuan secantik kamu,” ucap Mahesa membuat Manira malu.
“Kamu bisa main biola?” tanya Mahesa.
“Bisa,”
__ADS_1
“Mainkan untukku,”
Mahesa meminjam biola musisi jalanan itu lalu memberikannya kepada Manira. Dengan senang hati Manira memainkan biola itu di hadapan Mahesa. Gaun hitam yang indah dengan bagian lengan terbuka menampakkan lengannya yang putih, rambut diikat rapi ditambah lantunan biola yang lembut, membuat Manira benar-benar seperti seorang bintang. Mahesa berdiri bersedekap, menatap Manira yang sedang memainkan biola itu dengan sangat indah. Beberapa pejalan kaki melemparkan koin ke atas selembar kain berwarna merah yang dibentangkan di depan Manira.
Saat itu tiba-tiba raut wajah Mahesa berubah. Ada sesuatu yang lain dari tatapannya yang aneh yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya. Tadinya senyumnya sangat manis dan membuat dia layak disebut sebagai pria paling tampan dan romantis. Tetapi sekarang, tatapannya sangat mengerikan. Dia seperti siluman yang pandai menyembunyikan wajah aslinya. Ada sebuah misteri dari balik tatapan yang menakutkan itu.
“Sekarang.... kekasihmu sudah menjadi pengemis jalanan,” gerutunya seakan sedang mengatakannya pada seseorang.
Lamat-lamat terulang kembali penggalan kisah masa lalunya bersama Gibran. Sejak masa kecil mereka yang kelam, tangisan ibunya, kematian Ratmi hingga semua kemarahannya kepada Gibran usai pemakaman ibu Gibran saat itu. Ingatan Mahesa terus berlanjut hingga dia menginjakkan kakinya di stasiun tua beberapa waktu lalu. Saat itu dia melihat Gibran menatap Manira dengan penuh cinta. Hanya dengan melihatnya saja, Mahesa tahu bahwa Gibran sangat mencintai Manira. Sebuah perasaan yang terdalam yang bahkan Girban sendiri tidak menyadarinya.
Selama ini dia selalu menolak segala pernyataan tentang cinta. Dia menganggap cinta adalah suatu kebodohan. Dia tidak percaya dengan segala hal yang berkaitan dengan cinta, pasca kejadian mengerikan itu. Tetapi, tanpa sadar, cinta menggigitnya dengan cara yang berbeda. Perlahan Manira membuatnya jatuh cinta. Kecantikannya, ketulusannya, kesetiaannya dan semua hal yang Manira lakukan termasuk semua usaha Manira untuk membuatnya bangkit dari keterpurukan, membuat Gibran jatuh cinta. Selama ini, belum pernah ada seseorang yang bisa bicara dengan Gibran apalagi mengubahnya menjadi seseorang yang lebih baik. Hanya Manira yang bisa melakukannya karena hanya Maniralah yang paling memahaminya.
__ADS_1
Bersambung....