
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 37
__ADS_1
“Kamu merasa cantik?” teriak Imam, menyindir Manira.
Manira terkejut mendengar teriakan Imam yang bernada mengoloknya.
“Kamu sudah merasa hebat sehingga merasa berhak mempermainkan hati orang tua?” lanjut Imam yang terus memojokkan Manira.
Dia tidak mau tahu soal cinta dan kesetiaan yang selalu Manira dengungkan selama ini. Di matanya, Manira adalah perempuan angkuh dan egois yang mementingkan perasaannya sendiri dan tidak mempedulikan orang lain. Bahkan orang tuanya sampai harus menangis darah pun tetap tidak bisa mengubah pendirian Manira yang memutuskan untuk tidak mau menikah dengan alasan bahwa cinta sejatinya hanyalah kekasihnya dan dia akan terus setia dengan perasaannya yang konyol meskipun mungkin kekasihnya sudah melupakannya.
__ADS_1
Seluruh kampung tahu bahwa abah dan emak sudah sangat tua. Mereka paham bahwa satu-satunya keinginan abah dan emak hanyalah ingin melihat Manira menikah dengan seseorang yang menjalani kehidupan rumah tangga yang normal sama seperti yang lainnya. Tetapi sepertinya tidak ada anak yang lebih durhaka dari Manira karena sejak awal hingga sekarang Manira selalu mementingkan perasaannya sendiri dengan mengatasnamakan cinta dan mengabaikan semua orang.
Manira sedih. Air matanya selalu luruh. Setiap hari serasa seperti dalam neraka di saat semua orang selalu memojokkannya dengan seruan yang mendesaknya untuk menikah dan mengutuk kekeras-kepalaannya yang mati-matian mempertahankan cintanya.
Imam hanyalah sedikit gambaran dari semua orang di kampung ini yang selalu menatap Manira dengan tatapan seperti itu. Sebelumnya, sepanjang hari Manira selalu mendengar cemoohan para tetangga yang mengatainya sebagai perawan tua. Karena di saat teman-teman seusianya sudah melanjutkan hidup mereka, menikah dan punya anak, Manira masih stag di tempat yang sama. Semua orang mengutuk Manira sebagai aib bagi abah karena memiliki anak perempuan yang tidak ‘laku’. Selebihnya menganggap Manira anak durhaka yang tega melihat orang tuanya yang sudah sangat renta dipermalukan oleh sikap angkuhnya yang menolak untuk menikah.
Lamaran Imam yang terancam ditolak hari ini pun, bukan peritiswa pertama yang harus dihadapi oleh abah dan emak. Sebelumnya ada sekitar 8-9 lamaran yang datang padanya dan langsung dia tolak. Abah dan emak sangat malu. Mereka malu memiliki anak perempuan yang begitu sombong hingga menolak setiap lamaran yang datang. Sebagian lagi ada yang menganggap Manira terlalu pemilih. Manira punya standart yang tinggi untuk mencari calon suami hingga tidak ada satu pun pemuda kampung ini yang pantas untuknya.
__ADS_1
Sejatinya bukan itu yang Manira inginkan. Bukan seperti itu Manira yang sebenarnya. Satu-satunya yang Manira inginkan hanyalah bahwa dia hanya ingin mencintai kekasihnya dan tidak mau menggantikannya dengan siapa pun. Tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memahaminya. Masalah semakin berkembang kemana-mana dan semakin banyak anggapan miring tentang Manira. Manira sangat sedih karena semua orang begitu memandang rendah dirinya dan selalu menyalahkannya dalam segala hal.
Bersambung...