
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 27
Sekalipun cinta yang mendasari Juragan Damar untuk datang pada ibunya dan kemudian melahirkan dia, tetapi tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan kisah cinta. Bagi sebagian orang, cinta menjadi sesuatu yang sangat penting dan berharga seperti yang Juragan Damar rasakan kepada Ratmi hingga dia mati karena menangisi kepergian Ratmi. Tetapi lebih banyak orang yang menganggap cinta adalah kebodohan dan omong kosong semata. Mereka tidak ada yang bisa memahami cinta yang mendasari Juragan Damar untuk berbuat senekat itu. Yang mereka lihat hanyalah apa yang Juragan Damar dan Ratmi lakukan adalah dosa dan anak dari dosa itu –walau tidak tahu apa-apa– mereka anggap sebagai aib. Di satu sisi Gibran mungkin adalah tanda cinta terbesar dari Juragan Damar terhadap Ratmi. Di sisi lain, dia adalah sebuah dosa dan kesalahan.
__ADS_1
Tetapi bukankah si malang itu tidak tahu apa-apa atas kesalahan kedua orang tuanya? Itulah yang selalu Gibran pertanyakan pada dirinya sendiri. Apa salahnya dan kenapa dia harus menderita atas kesalahan yang tidak dia lakukan? Memang tidak bisa dicari, siapa yang harus bertanggung jawab atas nasib anak sekecil ini yang tidak tahu apa-apa. Nasib membawanya pada lubang derita yang sangat gelap yang membuat dia tidak bisa melihat masa depannya sendiri.
“Ambil sapu ini dan bersihkan daun-daun kering di stasiun ini, kalau kamu mau dapat makanan, malam ini...” imbuh Pak Hasyim menyerahkan sebuah sapu lidi pada Gibran.
Pak Hasyim berdiri sambil menyeka air matanya, miris melihat kemalangan anak kecil itu. Setidaknya, hanya itulah sedikit hal yang bisa dia lakukan untuk anak malang itu. Sebagai orang dewasa yang sedikit lebih “dewasa” dari orang-orang dewasa lainnya yang biasanya hanya menghina Gibran, Pak Hasyim sudah melakukan sesuatu yang tepat agar Gibran bisa bertahan hidup.
Pak Hasyim berhenti.
“Salah siapa ini? Kenapa hidup Gibran jadi seperti ini? Dimana ibu Gibran? Dimana ayah Gibran? Dimana rumah Gibran? Dimana semua kebahagiaan Gibran yang dulu pernah ada?” teriak Gibran putus asa, mencari jawaban atas semua dukanya.
__ADS_1
“Akan lebih baik kalau kamu menata hidup kamu ke depan daripada mencari siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggungjawab. Suatu saat nanti, kamu pasti akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya kamu sendiri yang tidak bisa saya jawab sekarang...” jawab Pak Hasyim, bingung sekaligus sedih mendengar pertanyaan-pertanyaan Gibran yang penuh dengan kemarahan, kesedihan dan kekecewaan.
Ngiik... ngok... ngik... ngok...
Lantunan biola terus mengalun lembut memenuhi stasiun tua. Sore yang gersang, segersang hati yang merindu itu. Semburat sinar mentari berwarna oranye mulai memenuhi stasiun. Gibran berhenti menyapu. Dia mendengarkan lantunan biola itu baik-baik. Sudah sekitar 18 tahun biola itu dimainkan di tempat yang sama, oleh orang yang sama dan nyanyian rindu yang sama seperti sedang memanggil seseorang.
Gibran berjalan menuju ruang tunggu stasiun tua yang penuh dengan debu dan daun kering. Dia berdiri di depan pintu gerbang stasiun peninggalan Belanda yang tinggi dan kokoh. Dari kejauhan, dia melihat seorang perempuan cantik, berkulit bersih memainkan biolanya dengan penuh perasaan. Perempuan berwajah sendu itu duduk di salah satu kursi yang tepat berada di depan tempat pemberhentian kereta. Sayatan suara biolanya seperti sedang memanggil seseorang yang ada di setiap gerbong kereta yang datang.
Bersambung....
__ADS_1