Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 94


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman



Episode 94


“Mungkin kamu lupa tapi namaku sudah tertulis dalam kartu keluarga yang artinya aku juga berhak atas semua harta peninggalan Juragan Damar,” jawab Gibran.


“Kamu berada di pihaknya?” tanya Mahesa yang mulai mencurigai Pak Anwar. Dia heran kenapa Gibran bisa begitu mudah menguasai semuanya hanya dalam satu malam saja.


“Maaf, saya hanya menjalankan wasiat Juragan Damar,” jawab Pak Anwar.


“Dasar pengkhianat,” umpat Mahesa.

__ADS_1


“Kamu bukan bos lagi,” ucap Gibran.


“Heh, ini tidak masuk akal,”


“Suka atau tidak, tongkat emasmu sudah berpindah tangan,”


“Kurang aja!” Mahesa ingin memukul Gibran.


“Tahan Tuan, sekarang dia adalah pemimpin utama seluruh perusahaan peninggalan Juragan Damar,” seru Pak Anwar, mengingatkan.


“Dia? Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh anak yang SMP saja tidak lulus? Ha? Dia tahu apa?” Mahesa meremehkan Gibran.


Mahesa mengepalkan tangannya, menahan marah.


“Oke,” Mahesa berusaha sabar. “Apa yang akan kamu lakukan dengan gedung ini setelah membatalkan semua kontrak kerjasama?”


“Aku akan mengadakan pertunjukan drama,”

__ADS_1


“Hahaha....” Mahesa mentertawakan. “Kamu membatalkan kerja sama untuk pameran berlian seharga ratusan juta untuk sebuah pertunjukan drama?” lanjut Mahesa mengungkapkan bahwa drama bukan sesuatu yang bisa dibandingkan dengan pameran berlian sehingga bisa menggantikan posisinya.


“Sebuah drama yang mengisahkan seorang suami yang melelang istrinya sendiri,” sindir Gibran.


“Kurang ajar!!!” Mahesa ingin memukul Gibran.


“Tahan Tuan,” beberapa pengawal yang sebelumnya menjadi pengikut setia Mahesa sekarang berbalik membela Gibran dan berani menahan Mahesa untuk tidak menyentuh Gibran sedikit pun.


“Kalian!!!” Mahesa kesal melihat anak buahnya sudah berkhianat.


“Uang adalah bahasa universal yang bisa dimengerti semua orang,” sahut Gibran dengan angkuh.


“Kamu....” Mahesa geram.


“Cinta tidak hanya bisa membunuh tapi juga bisa menghidupkan jiwa yang mati,” ucap Gibran menjelaskan bahwa kali ini dia tidak akan mati merana seperti Juragan Damar yang kehilangan cintanya. Dia akan bangkit dan berjuang demi membalas dendam atas semua kemalangan Manira.


Gibran meninggalkan Mahesa dengan sikap angkuh, sama seperti yang pernah Mahesa tunjukkan padanya. Mahesa tidak percaya ini bisa terjadi. Dalam semalam semuanya berubah. Semua anak buahnya yang selama ini setia tiba-tiba menjadi kacung Gibran dan melawannya. Mahesa sangat marah tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena sekarang dia sudah kehilangan kekuasaannya. Satu hal yang dia sesalkan adalah, dia tidak mengubah isi surat wasiat itu sebelum semua ini terjadi.

__ADS_1


Gibran berjalan menyusuri gedung pertunjukan yang sedang digunakan untuk pameran lukisan ini. Beberapa lukisan mahal kelas dunia masih terpajang. Puluhan pengunjung dari berbagai negara terlihat berlalu lalang melihat pameran lukisan itu. Gibran berjalan dengan mata sembab. Hatinya sesak, nafasnya seperti hampir berhenti. Ada rasa sakit yang menumpuk di dada antara marah, kesal, malu dan jijik. Dulu dia meninggalkan semua harta kekayaan Juragan Damar karena tidak mau mengambil sedikitpun uang Juragan Damar yang dia malu menyebutnya sebagai ayah. Sekarang, benar seperti kata Mahesa, dia sudah menjilat ludahnya sendiri. Dia merasa menjadi orang hina yang pada akhirnya juga tunduk pada uang. Gibran menangis, menyesalkan karena dia harus mengambil jalan ini dan berdiri di atas tempat yang pernah dibangun oleh ayahnya. Apa boleh buat? Dia tidak punya cara lain. Hanya ini satu-satunya jalan untuk menghancurkan kesombongan dan keangkuhan Mahesa.


Bersambung...


__ADS_2