
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 92
“Ada apa ini?” tanya Mahesa, heran.
__ADS_1
“Mereka menuntut ganti rugi karena kita sudah membatalkan kerjasama dengan penyewa tempat ini selama beberapa pekan ke depan,” jawab salah satu staf Mahesa.
“Kenapa bisa begitu? Aku tidak melakukan pembatalan kontrak apapun,” Mahesa heran.
“Maaf, saya tidak tahu Tuan. Mereka bilang, pemilik asli tempat ini yang membatalkannya,” jawab staf itu.
“Omong kosong apa ini?”
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Mahesa marah.
__ADS_1
“Aku juga punya hak atas tempat ini,” jawab Gibran yang secara tidak langsung mengungkapkan bahwa dia ingin menuntut haknya atas seluruh harta warisan peninggalan Juragan Damar yang selama ini dikuasai Mahesa.
Sebelumnya Pak Anwar menjelaskan bahwa beberapa hari sebelum Juragan Damar meninggal, ketika Juragan Damar sedang dalam keterpurukan setelah kehilangan Ratmi, dia merasa hidupnya tidak lama lagi. Karena itu Juragan Damar menyiapkan sebuah surat wasiat yang bahkan Mahesa pun baru mengetahuinya sekarang. Dalam surat itu tertulis bahwa Gibran mendapatkan 70% dari seluruh harta kekayaannya baik di Indonesia maupun di Jerman. Sementara Mahesa hanya mendapatkan 30 % saja. Dan sesuai rencana sebelumnya, gedung pertunjukan ini dan seluruh aset kekayaan Juragan Damar di Jerman diatasnamakan Girban, bukan Mahesa. Artinya, secara hukum Mahesa tidak punya hak apa-apa atas tempat ini dan seluruh bisnis Juragan Damar di negara asing ini.
“Maaf, kenapa bisa begitu? Bukankah Juragan Muda Mahesa adalah putra sah Juragan Damar?” tanya Pak Anwar saat itu. “Apa ini karena Juragan Muda Gibran adalah anak laki-laki pertama Juragan?” lanjut Pak Anwar yang menjabat sebagai sekretaris sekaligus orang yang paling dipercaya oleh Juragan Damar.
“Aku tidak bisa percaya pada Mahesa. Jika melihat kemarahannya yang seperti ini, aku takut dia membuat kesalahan besar,” jawab Juragan Damar yang telah melihat sisi mengerikan dari Mahesa yang bahkan di usia sekecil itu sudah bisa melakukan konspirasi besar untuk menjebak Ratmi hingga berujung pada kematian Ratmi. Juragan Damar tidak yakin bahwa anak pendendam seperti dia bisa mengurus perusahaan dengan baik. Berbeda dengan Gibran yang lebih tenang dan dewasa. Juragan Damar yakin bahwa kelak Gibran akan lebih bisa mengelola perusahaan daripada Mahesa.
Hal itu, Pak Anwar sampaikan kepada Gibran beberapa waktu lalu setelah insiden kecelakaan Manira waktu itu. Apa yang dikatakan Pak Anwar mengisyaratkan bahwa sudah saatnya Gibran mengambil haknya sebagai ahli waris Juragan Damar yang berhak mengambil alih semua kepemimpinan perusahaan. Pak Anwar juga melihat sikap buruk Mahesa selama ini. Mahesa sengaja memanfaatkan seluruh kekayaannya untuk menjatuhkan orang lain. Semua senyumannya dan sikap ramahnya selama ini hanyalah pencitraan agar semua menganggapnya baik dan berwibawa. Tetapi sesungguhnya dia pendendam dan mengerikan.
__ADS_1
Terlebih lagi, melihat apa yang dilakukan Mahesa kepada Manira membuat Pak Anwar miris dan merasa bahwa sudah saatnya kepemimpinan perusahaan Damar dialihkan kepada orang yang lebih tepat yaitu Gibran. Kekuatan utama Mahesa adalah kekayaannya. Dia bisa sombong dan angkuh karena uang-uangnya. Mahesa tidak bisa dihadapi dengan kekerasan karena hanya akan membuat Gibran terjebak masalah hukum. Pak Anwar menyarankan agar Gibran mengambil haknya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan untuk menundukkan Mahesa.
Bersambung...