Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 5


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 5


“Aku hanya bicara soal kenyataan. Kita hidup butuh uang, tidak cukup hanya dengan cinta saja. Cinta itu seperti ilalang. Kelihatannya bagus tapi rapuh,”

__ADS_1


“Kita bukannya tidak cukup, tapi kamu saja yang tidak bisa bersyukur dan terlalu banyak menuntut,”


“Salah sendiri kenapa mas miskin? Kenapa mas tidak bisa menjadi seseorang yang bisa diandalkan oleh istrinya?” bantah Ratmi, balik menyalahkan Hasan atas semua yang sudah terjadi. “Kenapa mas tidak bisa membahagiakan istri mas dengan baik. Kalau mas sudah menjadi laki-laki yang sempurna, yang kaya, mapan dan sukses pasti semua ini tidak akan terjadi. Makanya jadi laki-laki itu harus berhasil. Jangan cuma modal cinta saja. Kalau perut sudah lapar, cinta juga tidak akan bisa berbuat apa-apa,”


“Kenapa kamu malah menyalahkan aku? Kalau kamu tidak serakah, pasti tidak akan seperti ini jadinya,”


“Alah sudahlah. Sebaiknya mulai sekarang mas diam. Karena kalau mas macam-macam, Juragan Damar pasti tidak akan tinggal diam,” ucap Ratmi balik mengancam suaminya.


Semakin hari kekayaan Jurgaan Damar semakin banyak. Untuk mengurus bisnisnya, kadang dia harus pergi berlayar ke negeri seberang sampai berbulan-bulan hingga kabar kehamilan Ratmi tidak bisa segera Ratmi sampaikan. Baru beberapa bulan kemudian, saat Juragan Damar kembali. Ratmi ingin memberi kejutan kepada Juragan Damar. Di saat Sarifah menjemput Juragan Damar di tepi pantai, Ratmi berdiri di sudut lain di pantai yang sama.

__ADS_1


Awalnya Juragan Damar tersenyum dan melambaikan tangan pada Sarifah yang sedang tersenyum padanya. Tapi beberapa saat kemudian, perhatian Juragan Damar terfokus ke arah lain. Dia menatapkan pandangannya ke arah utara dan melihat Ratmi melambaikan tangannya dengan senyuman bahagia. Sesekali dia memegangi perutnya, sengaja memancing Juragan Damar untuk melihat perutnya yang sudah mulai membuncit.


Juragan Damar sempat terdiam, terkejut sekaligus senang. Setelah turun dari perahu, Juragan Damar memeluk Sarifah tetapi diam-diam tatapannya ditujukan kepada Ratmi yang berdiri di belakang Sarifah. Juragan Damar tersenyum sangat bahagia mengetahui kabar kehamilan Ratmi. Sesuatu yang paling dia inginkan dalam hidupnya, akhirnya akan dia dapatkan dari perempuan yang paling dia cintai.


“Kamu tidak menipukukan?” tanya Juragan Damar agak ragu. “Itu bukan anak Hasan yang kamu akui sebagai anakku kan?” lanjutnya sedikit curiga.


“Juragan... aku memang menginginkan uang. Tapi aku tidak sampai berpikir sejauh itu untuk bisa mendapatkan segalanya,” jawab Ratmi.


Juragan Damar percaya sepenuhnya pada Ratmi. Sampai sekarang Ratmi masih menempati posisi paling penting dalam hatinya. Meski harta penting, tapi bagi Juragan Damar tidak ada yang lebih penting dalam hatinya selain perempuan yang paling dia cintai yaitu Ratmi. Kabar kehamilan Ratmi, membawa mimpi baru bagi Juragan Damar. Dia mengingikan kehidupan yang sempurna seperti orang pada umumnya. Itulah sifat manusia yang selalu dipenuhi dengan ketamakan. Setelah mendapatkan satu keinginannya kemudian mereka menginginkan hal lainnya. Seperti tidak ada rasa puas dan tidak akan pernah ada ujungnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2