Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 51


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 51


Begitu Gibran berhasil menguasai pikirannya sendiri, berhasil mengubah pikiran negatif itu menjadi positif, melupakan hal buruk dan menggantinya dengan kenangan-kenangan baik, membuat Gibran merasa lebih hidup. Dia merasa bahwa tidak semua hidupnya bencana. Dia tidak merasa bahwa hidupnya tidak berharga. Dia kembali memiliki tujuan hidup sebagaimana pesan Hasan bahwa dia harus menjadi seseorang yang sukses dan bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Hanya satu pikiran positif itu, memberi Gibran kekuatan luar biasa untuk bangkit dan menyadari bahwa dirinya terlalu berharga untuk menyerah dan menjadi sampah seperti sekarang.

__ADS_1


“Hari-hari kemarin, anggap saja mimpi buruk,” ucap Manira, tersenyum menyemangati sahabatnya. “Kamu adalah orang yang cerdas dan pintar. Sudah saatnya kamu bangkit. Jangan seperti orang yang tenggelam. Tunjukkan bahwa kamu masih hidup,”


Gibran masih ragu. Dia merasa bahwa sudah terlalu banyak tertinggal. Sudah banyak waktu yang dia buang percuma di pojokan stasiun tua dan bersahabat dengan daun-daun kering untuk meratapi nasib dan menyesali hidupnya sendiri. Tanpa sadar sudah banyak hal yang dia lewatkan dan dia lalui dengan sia-sia. Manira benar, seseorang yang hanya mengenang hal-hal buruk dalam hidupnya pada akhirnya akan larut dalam kegelisahannya sendiri dan tenggelam dalam luka walau sebenarnya semua itu sudah berlalu. Ketika seseorang itu menyadarinya, mereka sudah jauh tertinggal di belakang. Terlalu banyak hal yang mereka lewatkan. Bagi Gibran, utamanya adalah tentang pendidikannya. Untuk bisa bermimpi menjadi orang sukses, semua bisa melakukannya. Tetapi bagaimana dia bisa melakukannya jika pendidikan saja tidak ada.


“Apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak jalanan yang hanya lulus sekolah dasar?” Gibran putus asa.


“Orang-orang yang sukses itu bukan supermen. Sukses tidak memerlukan super-intelek. Sukses bukan sesuatu yang misterius. Sukses juga bukan nasib baik. Orang yang sukses adalah orang-orang biasa yang percaya kepada dirinya sendiri dan kepada apa yang dilakukannya. Jangan menganggap dirimu terlalu rendah, karena kamu.....istimewa,”


“Hehehe....” Gibran tertawa, kering. Dia merasa Manira sedang berusaha menghiburnya seperti anak kecil yang menangis lalu didiamkan dengan permen lolipop. Gibran tahu bahwa “istimewa” yang Manira sebut hanyalah basa-basi untuk menghiburnya, untuk membesarkan hatinya padahal semuanya bohong. “Kamu bilang aku istimewa? Dimana letak istimewanya seorang Gibran yang hanya bangga sebagai tukang sapu di stasiun tua,”

__ADS_1


“Kamu cerdas,”


“Oya???” Gibran tidak percaya.


“Kalau kamu tidak cerdas, kamu tidak mungkin memahami semua yang aku katakan. Bahkan, kamu yang membuat aku sadar dan bangkit. Sadar bahwa di dunia ini bukan hanya aku saja yang menderita karena cinta. Melihat keadaanmu yang sangat kacau membuat aku merasa perlu untuk mengubahmu menjadi lebih baik. Membuat aku merasa perlu mengingatkan bahwa dunia belum berakhir. Hanya kamu.... sementara orang lainnya hanya bisa memarahiku dan menganggapku gila. Itu artinya kamu hebat.... kamu cerdas,” ungkap Manira dengan kekaguman luar biasa pada sosok pria gelandangan yang ternyata sangat cerdas dan lebih hebat dari orang-orang waras di luar sana yang hanya bisa memarahi dan menghakimi orang lain.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2