
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 79
Gibran sudah sampai di bandara Frankfurt. Dia buru-buru mencari taksi. Di tengah usahanya mencari taksi,
Tik... tok...
Ponselnya berbunyi. Ada up date baru dari akun instagram Mahesa. Dia mempertontonkan permainan biola Manira di depan banyak laki-laki berpakaian mewah. Hingga akhirnya rok Manira tersibak dan semua orang menatapnya dengan tatapan nakal. Gibran sangat geram. Gibran merasa bahwa Mahesa seperti sedang memamerkan Manira seperti memamerkan lukisan untuk dilelang. Tidak ada seorang pun yang bisa menyangkal kecantikan Manira. Semua ingin memilikinya. Yang lebih menyayat, Mahesa menulis caption,
“Pelelangangan hari ini berhenti di angka 500 juta,”
Gibran meradang. Dia menghargai Manira dengan angka 500 juta dan masih akan dilanjutkan besok dengan angka yang semakin tinggi. Darah Gibran serasa mendidih. Dia tidak terima Mahesa memperlakukan Manira seperti ini. Dia melelang istrinya sendiri tapi Manira tidak tahu apa-apa tentang kebusukan suaminya. Cinta sudah membuatnya buta dan membuatnya menyimpan sakitnya karena tidak mau kehilangan Mahesa. Gibran tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia langsung menelepon Mahesa,
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan?” teriak Gibran marah.
“Sesuatu yang membuatmu terbakar karena cemburu,” jawab Mahesa dengan nada santai seolah sengaja ingin meledek Gibran.
“Aku tidak akan melepaskanmu,”
“Aku menunggumu. Datanglah sebelum terlambat,”
Mahesa menutup teleponnya. Gibran sangat kesal. Dia merasa benar-benar kecolongan. Dia tidak bisa melihat sifat asli Mahesa yang hari itu datang dengan senyuman dan membawa Manira pergi sejauh ini. Dia merasa bodoh karena membiarkan Mahesa membawa Manira. Yang lebih dia sesalkan adalah, kenapa Manira harus dijadikan sebagai objek balas dendam Mahesa untuk menyiksanya.
“Manira!!!!” teriak Girban di tengah jalan sambil menangis dengan penuh keputusasaan karena tidak berhasil menemukannya.
“Sekarang kamu akan benar-benar gila,” gerutu Mahesa, tersenyum sinis di salah satu loby hotel, melihat Gibran sedang panik di tengah jalan tanpa tahu apa yang harus dia lakukan untuk menemukan kekasihnya.
Gibran putus asa. Dia tidak berhasil menemukan Manira hingga akhirnya tertidur di jalanan.
Setiap yang pergi selalu diharapkan untuk kembali
__ADS_1
Rasanya seperti mati bunuh diri
Rasanya seperti sekarat antara hidup dan mati
Kasihku.... sayangku.... kembalilah padaku
Kekasihku... sayangku... aku sangat merindukanmu
Ucap Gibran dalam tidurnya. Hingga pagi harinya, Gibran ditemukan tertidur di salah satu bangku kayu di taman dekat Sungai Main. Semilir angin menerbangkan ujung rambutnya. Samar terdengar lantunan biola yang lembut. Gibran terperanjat. Dia langsung terbangun dan merasa bahwa itu adalah lantunan biola Manira. Dia berlari menyusuri tempat-tempat yang ada disekitar taman itu. Dia keluar masuk rumah makan bahkan hotel untuk mencari suara biola itu.
“Manira.... Manira...” teriaknya seperti orang gila setiap kali memasuki suatu ruangan.
Pencarian Gibran selalu berakhir kecewa. Mahesa memasang jebakan dimana-mana. Dia memutar rekaman biola disemua tempat yang membuat Gibran seperti orang gila berlarian mencari arah suara biola itu. Gibran benar-benar seperti orang gila, lari kesana kemari. Beberapa petugas keamanan langsung mengamankannya dan memukulinya karena menganggapnya gila yang berteriak-teriak tidak jelas.
“Pergi dari sini!” bentak petugas keamanan itu.
Bersambung....
__ADS_1