Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 35


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 35


“Manira, ada tamu. Coba kamu temui,” ucap abah. Laki-laki tua yang rambutnya sudah penuh dengan uban dan suaranya sangat renta tapi masih terlihat sehat dan bugar.

__ADS_1


Manira tahu, abah pasti sedang mencoba menjodohkannya dengan orang lain lagi. Dia menatap abah dengan wajah kesal. Dia seperti sudah sangat bosan dengan masalah yang berlarut-larut sekian lama. Ada kemarahan, ketakutan dan kegelisahan yang coba Manira tunjukkan dari tatapannya.


“Aku tidak mau,” jawab Manira.


Abah diam. Tetapi diamnya menyimpan amarah yang sepertinya sudah dipendam cukup lama dan kini saatnya mengungkapkan segalanya. Dia menatap Manira lekat-lekat, membuat Manira takut. Ada harapan besar seorang ayah yang tiba-tiba berubah menjadi kekecewaan yang sangat besar pula.


Manira menitikan air mata. Hatinya selalu hancur setiap kali diposisikan pada persimpangan seperti ini. Ini sudah yang kesekian kalinya abah menjodohkan Manira yang begitu cantik dengan seorang pria. Biasanya selalu berakhir pada kekecewaan, kemarahan dan rasa malu pada diri abah karena Manira selalu menolak mereka. Bukan hanya menolak lamaran itu tapi dia bahkan tidak mau melihat wajah laki-laki yang datang untuknya.


Bagi orang lain, mungkin akan menganggap Manira angkuh, sombong dan pemilih. Tetapi bagi Manira, tidak ada cinta lain selain kekasihnya. Itulah satu-satunya alasan kenapa selama ini Manira selalu menolak untuk dijodohkan. Karena dia masih menantikan kekasihnya yang pernah berjanji akan kembali. Janji itulah yang kini menjerat kaki dan leher Manira hingga membuatnya tidak bisa bergerak maju atau mundur dalam hidupnya. Dia tetap stag di tempat yang sama, berdiri di tempat yang sama dengan mimpi-mimpi indahnya bahwa suatu saat nanti kekasihnya pasti akan kembali untuknya. Dia bahkan seperti orang gila yang selalu berdiri di stasiun tua setiap jam tiga sore. Yang lebih gila lagi, dia hampir menghabisi nyawanya sendiri daripada dipaksa menikah dengan laki-laki lain.

__ADS_1


Tetapi abah punya pemikiran lain. Dia adalah orang tua, seorang ayah yang merasa memiliki tanggung jawab untuk menikahkan anak perempuannya. Apalagi usia Manira sudah 28 tahun, usia yang sudah sangat matang bagi seorang perempuan untuk menikah. Jika tidak segera menikah maka akan menjadi aib. Dimana sebagian masyarakat masih sepakat bahwa imej sebagai perempuan yang belum menikah di atas usia 25 tahun akan disebut sebagai perawan tua dan sebutan itu lebih identik sebagai aib yang membuat malu keluarga. Itulah yang sedang abah perjuangkan.


“Abah sudah tidak sanggup lagi menanggung malu mendengar anak abah disebut sebagai perawan tua,” ucap abah dengan mata berkaca, sedih. “Abah sedih mendengar ada orang yang menyebut kamu angkuh, sombong, pemilih dan lainnya. Abah tahu itu tidak benar, tapi abah bisa apa????” laki-laki tua itu bahkan menangis di depan Manira.


“Abah, Manira tidak bisa mencintai laki-laki lain selain dia,” Manira berusaha memberi abah pengertian.


“Abah tahu, tapi setidaknya lihat dulu dia baru putuskan mau menikah atau tidak. Jangan main tolak seperti ini. Ini tidak sopan. Kalau kamu menolak tanpa melihatnya lebih dulu, itu namanya penghinaan,”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2