Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 15


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 15


“Astaqfirullah.....” Sarifah sangat kaget.

__ADS_1


“Ibukkk.... bukkkk.... ibuk,” Mahesa menarik-narik jarit ibunya, bingung apa yang sudah membuat ibunya se-syok itu.


Sarifah tidak menjawab. Perempuan berusia 43 tahun itu hanya menutup mulutnya rapat-rapat agar tangisnya tidak pecah. Mahesa penasaran, dia memanjat tembok untuk bisa melihat apa yang ada di dalam kamar itu. Akhirnya, Mahesa pun melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ayahnya sudah berselingkuh dengan ibu Gibran. Mahesa melihat ibunya sangat hancur, air mata ibunya mengalir penuh kekecewaan dan kesedihan. Mahesa melihat dengan sangat jelas betapa hati ibunya sudah remuk bahkan hampir tidak berbentuk lagi.


“Juragan....” ucap Ratmi yang samar terdengar dari balik jendela. “Gibran juga anak juragan. Aku ingin dia mendapatkan hak sebagai anak laki-laki pertama Juragan Damar,” Ratmi mulai berani menggunakan Gibran untuk mendapatkan posisi yang lebih penting dalam hidup juragan.


Sarifah dan Mahesa semakin syok mengetahui bahwa Gibran adalah anak Juragan Damar. Itu artinya, perselingkuhan mereka sudah terjadi lebih dari 12 tahun. Waktu yang sudah sangat lama dan Sarifah tidak tahu apa-apa. Sarifah sangat sedih. Sedikit demi sedikit, Ratmi mulai menggeser posisinya di hati Juragan Damar. Dia yakin cepat atau lambat Ratmi juga akan mengambil alih posisinya sebagai istri Juragan Damar.


“Kenapa?” tanya Ratmi yang masih bersandar di pelukan Juragan Damar.

__ADS_1


“Karena dia adalah anak yang lahir dari perempuan yang paling aku cintai,” jawab Juragan Damar. “Aku sedang membangun bisnis baru di Eropa. Bisnis berlian dan berencana membuatkan sebuah gedung pertunjukan khusus untuk Gibran,” lanjut Juragan Damar yang dengan jelas sudah mempersiapkan masa depan Gibran dengan sangat matang.


Sarifah memeluk erat Mahesa dengan tangis yang semakin deras tapi selalu coba dia tahan agar suaranya tidak percah dan terdengar oleh mereka. Sarifah miris mengetahui bahwa bukan hanya posisinya yang terancam tapi posisi Mahesa juga terancam digeser oleh Gibran. Hati kecil Sarifah berkata bahwa ini tidak boleh terjadi. Mahesa adalah anak sah Juragan Damar, jadi hanya Mahesa yang berhak atas semua kekayaan Juragan Damar. Tidak ada satu orang pun yang bisa masuk ke dalam keluarga mereka dan merusak semuanya. Sarifah benar-benar tidak rela jika Ratmi dan Gibran mencoba masuk ke dalam kehidupan mereka dan menghancurkan segalanya.


Sarifah ingin memperjuangkan masa depan Mahesa. Dia tidak mau Gibran dan ibunya muncul dan merebut semua darinya. Sarifah mencari semua surat tanah, sertifikat rumah dan semua aset kekayaan yang dimilikinya. Sarifah semakin terkejut saat mendapati bahwa semua sudah dipindah-alihkan yang sebelumnya atas nama ayahnya Juragan Rahmat menjadi atas nama Juragan Damar. Semua terjadi tanpa sepengetahuannya. Bagaimana ini bisa terjadi?


“Artinya mereka sudah merencanakan ini sejak lama,” gerutu Sarifah yang akhirnya mengetahui niat jahat suaminya yang ingin menguasai semua harta kekayaannya. Dia yakin, Juragan Damar sudah mengatur masa depan Gibran dengan sangat baik dan mempersiapkan semua harta warisan itu untuk anak haramnya bersama Ratmi.


Tiba-tiba Sarifah merasakan nyeri di dada kirinya. Belakangan ini banyak sekali masalah yang menguras emosi dan air matanya. Bukan hanya hatinya yang lelah, fisiknya juga lemah. Tetapi Sarifah berusaha bertahan. Dia tidak mau mati sebelum Mahesa mendapatkan haknya sebagai anak sah dari Juragan Damar, sebagai cucu kandung dari pemilik semua kekayaan ini. Dia harus memastikan bahwa Gibran tidak akan menggeserkan posisi Mahesa sebagai putra mahkota di keluarga ini dan merebut semuanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2