Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 32


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 32


“Seseorang yang jatuh cinta sampai hampir gila, tidak perlu bunuh diri.... nanti juga mati,”


“Maksud kamu???” Manira heran.


“Ayahku...” Gibran diam sejenak. Dia sedikit ragu menyebut Juragan Damar sebagai ayahnya. “Sangat mencintai ibuku. Suatu hari dia cemburu melihat ibu bersama laki-laki lain. Karena terlalu cinta makanya terlalu marah. Dia menyiksa ibuku hingga menemui ajalnya. Dan pada akhirnya dia sendiri tenggelam dalam penyesalan dan mati merana,” lanjut Gibran mengenang kisah kelamnya di masa lalu.

__ADS_1


Manira terkejut mendengar kisah cinta orang tua Gibran yang juga sangat tragis. Sebuah cinta yang sangat dalam yang pada akhirnya membunuh para pelakonnya sendiri. Terlalu cinta, terlalu takut kehilangan, terlalu sakit, terlalu sedih, terlalu marah, lalu terlalu menyesal. Semua melibatkan perasaan dari lubuk hati yang paling dalam hingga akal pun tidak bisa bekerja dengan baik lalu pada akhirnya semua berakhir pada kehancuran.


Manira turut sedih mendengar kisah cinta orang tua Gibran yang seharusnya sangat indah tetapi menjadi sangat memilukan. Manira kembali mempertanyakan, kenapa cinta begitu menyakitkan? Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berwujud tetapi kekuatannya sangat luar biasa hingga bisa menghancurkan siapa saja yang ada di dalamnya, termasuk dia sendiri yang hampir mati bunuh diri.


“Kamu juga seperti ini karena cinta???” tebak Manira yang merasa bahwa orang semelankolis Gibran, pasti dulunya adalah orang yang sangat hebat lalu berubah menyedihkan karena cinta.


“Anggap saja aku korban dari cinta seseorang yang sangat dalam, yang membuat mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri hingga tidak menyadari bahwa banyak orang yang tersakiti karena cinta mereka,” jawab Gibran masih dengan wajah penuh kekecewaan pada almarhum ayah dan ibunya.


“Mungkin ini alasannya....” ucap singkat Manira.


“Alasan apa?”


“Stasiun tua ini. Kamu di sini, aku juga di sini. Dengan keputusasaan yang sama.... mungkin supaya kita bisa berteman dan saling memahami satu sama lain,” ucap Manira menawarkan persahabatan.

__ADS_1


“Aku bukan orang yang patah hati,” jawab Gibran menegaskan bahwa kisahnya tidak seperti yang Manira bayangkan. Dia yakin, Manira pasti mengira bahwa dia sedang putus asa atas seorang gadis. “Aku tidak percaya dengan cinta...” lanjut Gibran menyatakan bahwa seakan-akan cinta adalah sebuah petaka dan tidak seharusnya ada orang yang bisa terjebak di dalamnya. Harusnya tidak ada lagi yang jatuh cinta agar tidak ada yang terluka.


“Kamu tahu apa yang membuatku merasa lebih baik dari kemarin???” tanya Manira dengan wajah yang lebih ceria dan bersemangat.


Gibran hanya diam menatap Manira.


“Karena aku merasa ada seseorang yang lebih sakit dari aku. Seseorang yang menderita dan bahkan nyaris gila karena cinta,” ucapnya seraya menatap Gibran.


Sebelumnya Manira merasa sendiri. Menjadi seseorang yang paling bodoh karena terlalu mencintai seseorang. Tetapi begitu bertemu dengan Gibran, terutama puisi cinta yang Gibran bacakan untuknya kemarin, membuat Manira merasa bahwa Gibran juga merasakan sakit yang sama. Seseorang yang putus asa, menderita dan sangat tersakiti karena cinta. Manira terus menatap Gibran seakan memberi penguatan dan berkata bahwa,


“Kamu tidak sendiri,”


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2