
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 77
Manira duduk di depan cermin. Dia sangat sedih. Dia syok, terpukul, kaget antara marah, cemburu, kecewa dan merasa tidak dihargai oleh Mahesa. Dia adalah istrinya, tetapi di luar, Mahesa masih berani mencium perempuan lain. Mungkin karena terlalu mencintai, terlalu ingin memiliki Mahesa seorang diri makanya sekarang hatinya terlalu sakit. Dia tidak bisa menerima perubahan gaya hidup yang jauh berbeda antara di kampungnya dengan kehidupan modern di sini. Dia mencoba memahami semuanya tetapi tetap saja terasa sakit.
“Kenapa belum tidur?” tanya Mahesa yang baru kembali ke kamar sekitar jam 3 pagi.
__ADS_1
“Siapa dia?” tanya Manira.
“Siapa?”
“Perempuan bergaun biru itu,”
“Kamu cemburu?”
Mahesa duduk di ranjang sambil tersenyum. Senyuman yang sinis. Dia menatap Manira dengan tatapan yang menganggap bahwa Manira adalah seseorang yang kekanak-kanakan dan sangat konyol yang menganggap hal itu sebagai sesuatu yang besar. Sedikit banyak Mahesa mulai merasa bahwa Manira kampungan. Seorang perempuan yang kuno yang tidak mengerti perkembangan jaman.
“Manira, aku mencintaimu...” ucap Mahesa sambil menatap Manira. “Apa kamu tidak percaya padaku?” lanjutnya.
__ADS_1
Mahesa tidak mau bersikap kasar. Dia lebih memilih cara yang lembut untuk mengatasi kecurigaan-kecurigaan Manira. Dia perlu menyentuh hati Manira yang paling dalam yang membuatnya luluh dan percaya bahwa dia sangat mencintainya. Mungkin karena terlalu mencintai sehingga terlalu mudah luluh dan mudah percaya bahwa Mahesa benar-benar mencintainya. Hati Manira langsung meleleh. Dia bersandar di pelukan Mahesa dan minta maaf dengan kecemburuannya yang tidak masuk akal. Apapun yang terjadi, Manira berusaha memahaminya sebagai bagian dari gaya hidup yang ada di lingkungan Mahesa yang serba glamour dan modern yang jauh dari kehidupannya sebelumnya.
“Maafkan aku,” ucap Manira, merasa bersalah.
“Sudahlah...” Mahesa membelai rambut Manira dengan senyum licik bahwa dia berhasil membuat Manira percaya dengan semua kata-katanya.
Keesokan harinya Mahesa kembali membuat Manira duduk di atas panggung memainkan biolanya. Alasannya, model yang harusnya memamerkan berlian yang sedang dia lelang di gedung pertunjukan itu tidak bisa datang. Manira diminta untuk menggantikannya. Meski sedikit risih dengan cara orang-orang menandanginya, Manira tetap meng-iyakan permintaan Mahesa sebagai bentuk baktinya sebagai seorang istri kepada suami.
Manira duduk di kursi yang ada di atas panggung sambil memainkan lagu klasik dengan biolanya. Seperti biasa, dia memakai gaun hitam yang mewah dan panjang dengan bagian atas sedikit terbuka. Manira sedikit canggung. Dia tidak biasa dengan semua ini. Tetapi dia mencoba mengikuti gaya hidup Mahesa. Dia mengubah kebiasaannya yang lembut menjadi sesuatu yang mewah dan sedikit nakal. Di samping Manira ada berlian bernilai ratusan juta yang sedang dipamerkan. Manira tidak tahu bahwa sesungguhnya yang dipamerkan dalam acara tersebut bukan berliannya melainkan dirinya.
Riuh tepuk tangan pengunjung yang rata-rata pria berusia 40 tahunan terdengar mengiringi permainan Manira. Mereka menatap Manira dengan penuh kekaguman. Bukan hanya permainannya yang indah tapi juga kecantikan Manira yang tidak bisa diabaikan. Beberapa bahkan ada yang mengabaikan minuman dan teman ngobrol mereka demi menatap Manira. Mahesa berdiri diantara puluhan tamu. Dia merekam video permainan Manira dengan senyum licik. Dia yakin bahwa video itu pasti akan membakar seseorang.
__ADS_1
Bersambung...