
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 50
__ADS_1
Gibran menangis sesunggukan di atas rel, sore itu. Entah kenapa, tiba-tiba dia sangat merindukan Hasan.
“Bapak... Gibran kangen bapak....” gerutu Gibran sambil menyeka air matanya. “Maafkan Gibran, karena Gibran belum bisa menjadi seperti yang bapak inginkan,” lanjutnya yang tiba-tiba merasa bersalah atas keadaannya saat ini.
Hasan benar-benar menjadi panutan Gibran, seseorang yang lebih Gibran dengarkan dan Gibran kagumi dibandingkan orang tua kandungnya yang bahkan dia malu menyebut mereka sebagai ayah dan ibunya. Sampai saat ini, Gibran masih jijik mengenang asal-usulnya sendiri yang terlahir dari hubungan seperti itu. Tidak pernah sedikit pun dia mengakui dirinya sebagai anak sulung dari Juragan Damar. Meski Juragan Damar adalah orang yang kaya, terhormat dan punya segalanya tetapi Gibran tidak pernah bangga menjadi anak Juragan Damar. Dia lebih senang menyebut dirinya sebagai anak Hasan, seorang penjual ikan yang miskin.
Manira menyusul Gibran yang sudah cukup lama merenung. Manira duduk di rel yang ada di depan Gibran dan menyelonjorkan kakinya hingga sepatu putihnya menyentuh rel yang sedang di duduki Gibran. Sore itu mulai gelap dan cukup dingin dengan hembusan angin sore. Seberkas cahaya matahari sore mulai malu-malu menunjukkan wajahnya di langit barat.
__ADS_1
“Tidak ada hari buruk atau hari baik. Yang ada hanyalah bagaimana cara pandang kita terhadap suatu masalah,” jawab Manira, menegaskan bahwa semuanya tergantung pada pola pikir, tergantung pada bagaimana kita memandang suatu masalah.
Pikiran manusia atau sudut pandang atau cara pandang manusia berpengaruh besar terhadup kehidupan orang tersebut. Jika kita mendepositokan pikiran yang baik atau positif dari ingatan dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif, maka semuanya pasti akan indah. Karena pikiran positif akan menarik seseorang untuk melakukan sesuatu yang positif dan menjadi sukses sedangkan pikiran negatif akan menarik seseorang untuk bersikap malas, penakut dan mencari-cari alasan untuk membenarkan kegagalannya sehingga dia benar-benar gagal.
Setiap orang pasti pernah mengalami situasi yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Jika kita hanya mengingat-ingat hal buruknya saja maka kita akan menjadi frustasi, gelisah, marah dan putus asa. Pikiran-pikiran itu membuat kita menyerah dan putus asa yang pada akhirnya membuat kita tertinggal di pinggir jalan sementara yang lainnya sudah meluncur di jalan raya.
Sama halnya yang terjadi pada Gibran. Diantara sekian banyak hal baik, yang dia ingat hanya hal buruknya saja. Sebuah kenyataan yang tidak siap dia hadapi di usia 12 tahun yaitu perselingkuhan ibunya, kenyataan bahwa dia terlahir sebagai anak hasil perselingkuhan yang kemudian menganggap dirinya sendiri kotor, kehilangan ayah angkatnya, kematian ibunya dan penolakan semua orang. Semua itu terekam dengan sangat baik di kepala Gibran hingga Gibran marah, putus asa dan merasa bahwa dirinya tidak berharga. Semua pikiran buruk tentang masa lalu itu menjadi “momok mental” bagi dirinya sendiri dan membuatnya enggan untuk maju. Akhirnya dia hidup seperti gelandangan, rambutnya berantakan, pakaiannya kumal dan semua orang menganggapnya gila. Padahal dia orang yang sangat pintar dan cerdas.
__ADS_1
Bersambung...