
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 44
“Karena terlalu cinta, kemudian terlalu kecewa. Iyakan?” tebak Manira sekali lagi yang merasa sok tahu dan sok bisa membaca pikiran Gibran yang mengira Gibran sehancur itu juga karena cintanya pada seorang gadis.
__ADS_1
“Bukan terlalu cinta.... tapi terlalu marah dan terlalu kecewa karena perasaan semacam itu,” jawab Gibran mengutarakan kekesalannya atas masa lalu Juragan Damar yang mengatasnamakan segala sesuatunya dengan nama cinta tapi kemudian menghancurkan banyak kebahagiaan yang sudah tertata rapi. Bahkan cinta yang menyesatkan itu pula yang sudah membuat Juragan Damar membunuh kekasihnya sendiri. “Mencintai itu seperti memegang duri. Jika bukan kita yang sakit maka orang lain yang akan tersakiti,” lanjutnya penuh kecewa.
Manira diam, dia menarik nafas panjang. Menatap langit, berharap hatinya bisa seluas langit itu yang bisa membuat semua orang bahagia.
“Mencintai itu indah. Bahkan disaat kamu disakiti pun kamu akan menganggap itu sebagai hadiah terindah. Cinta itu indah, bahkan di saat kamu dikecewakan pun akan tetap merasa bahwa itu lebih baik daripada harus menggantikan kekasihmu dengan yang lainnya...”
“Bodoh,” umpat Gibran. Dia mencoba mengendalikan perasaan agar tidak larut dalam kepiluan Manira. “Manusia paling menyedihkan di dunia ini adalah manusia yang membiarkan dirinya terjebak dalam cinta dan mati di dalamnya,”
“Kenapa kamu tidak seperti ibuku saja?” tanya Gibran, ikut marah melihat kekolotan Manira.
__ADS_1
“Apa maksudmu???” Manira heran.
“Seseorang yang sangat mencintai suaminya tetapi bisa luluh oleh uang hingga akhirnya berselingkuh dengan pria lain,” jawab Gibran dengan tatapan marah yang masih sama seperti saat dia kecil dan melihat perselingkuhan itu di depan matanya.
“Kamu tidak tahu.... ketika kita sudah jatuh cinta pada satu orang, kita tidak akan pernah bisa mencintai yang lainnya lagi,” jawab Manira masih memegang teguh perasaannya kepada kekasihnya yang membuat Manira tersiksa sepanjang hari dalam penantian yang tidak pernah ada ujungnya.
“Omong kosong. Bagaimana kalau ternyata dia mengkhianatimu?” tanya Gibran, sama seperti Imam yang tidak yakin bahwa kekasih yang Manira rindukan siang dan malam, merasakan hal yang sama seperti yang Manira rasakan.
“Aku tidak tahu. Yang jelas aku sangat mencintainya dan tidak akan pernah menggantikannya dengan siapa pun,” jawaban Manira pun masih sama, seakan seumur hidup hanya akan ada satu cinta atau lebih baik mati daripada harus hidup dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Bersambung...