
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 8
Dua belas tahun kemudian, bayi kecil itu tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dan cerdas. Meski ada sesuatu yang sempat tidak dia pahami. Hampir setiap malam Juragan Damar bermalam di kamar ibunya sedangkan ayahnya harus menata sepinya sendiri di dalam kamar sempit bersamanya. Wajah sedih penuh luka itu tidak pernah bisa Hasan sembunyikan dari Gibran yang sudah menganggapnya sebagai ayahnya sendiri.
Lambat laun anak kecil itu mulai mengerti, kenapa bisa seperti ini? Siapa yang salah? Dan kenapa harus begini? Setiap malam, Gibran harus menyeka air mata di pipi Hasan dengan tangan kecilnya seolah mengatakan agar ayahnya kuat dan tegar. Setiap anak mungkin tidak selalu mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya, mungkin juga tidak selalu mempertanyakan apa yang tidak mereka pahami dari orang dewasa. Tapi mereka melihat dan kemudian memahami. Gibran juga mulai memahami bahwa dia bukan anak kandung Hasan. Dia tahu siapa ayah kandungnya dan terlahir dari hubungan yang seperti apa. Dia sendiri bahkan jijik mengetahui asal usulnya. Setiap kali Juragan Damar tersenyum padanya dan berusaha membelai wajahnya, Gibran selalu berpaling. Tidak ada satu kebanggaan pun di benak Gibran, terlahir sebagai anak Juragan Damar, orang paling terpandang di kampung ini. Baginya semua adalah luka dan menjijikkan.
Sebaliknya, Gibran justru selalu merangkul Hasan dan menganggapnya sebagai ayah hebat. Seorang ayah yang bisa menerimanya dengan tangan terbuka meski tahu bahwa dia adalah buah dari pengkhianatan yang sangat kejam itu. Dia bangga pada Hasan yang bisa berbesar hati melihat semua ketidakadilan ini. Bagi Gibran, Hasan adalah panutan. Ayah terhebat yang pernah ada di dunia ini.
__ADS_1
“Ikan asin... ikan asin.... ikan asin Buk,” teriak Hasan menawarkan dagangannya kepada para pengunjung pasar.
“Setengah kilo berapa mas?” tanya seorang ibu-ibu tampak seperti seorang pelancong yang datang dari luar kota untuk liburan ke tempat itu.
“Lima belas ribu, kalau beli satu kilo cukup dua puluh delapan ribu saja,” jawab pria yang kala itu memakai kaos oblong coklat yang lekat dengan bau amis ikan asin dan celana pendek selutut yang sudah kumal.
“Dua tiga deh mas...”
“Dua lima pas...”
“Oke,”
Hasan dengan sigap mengambil ikan, menimbangnya dan memasukkannya ke dalam kantong kresek warna hitam. Baru kemudian diberikan kepada ibu-ibu berjilbab hijau yang sudah menunggunya.
__ADS_1
“Ini, Bu...” ucapnya sambil menyerahkan kantung kresek itu.
“Terima kasih,” jawab ibu-ibu itu sambil menyerahkan uang kepada Hasan.
“Sama-sama..... selamat liburan...”
Mayoritas mata pencaharian penduduk sekitar pantai adalah nelayan. Mereka mencari ikan di laut lepas lalu menjualnya di pasar ikan. Sebagian ada yang memilih berjualan ikan bakar. Sebagian lainnya membuka lapak di kawasan wisata pantai. Ada yang berjualan ikan asin, ikan bakar, ikan asap dan beragam olahan ikan lainnya. Salah satunya adalah Hasan yang memilih berjualan ikan asin.
“Ikan asap... ikan asap!” terdengar suara pedagang lain saling bersautan di pasar itu.
“Ikan segar... ikan segar.... murah...” sahut pedagang lain yang terus terdengar bersahut-sahutan menawarkan dagangan mereka kepada para pengunjung yang berjubel di sepanjang pasar ikan itu.
“Hari ini jualan kita laku banyak Pak,” ucap Gibran dengan nada renyah khas anak usia 12 tahun yang tampak bersemangat membantu Hasan berjualan ikan di pasar.
__ADS_1
Bersambung...