Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 36


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 36


“Abah... stop. Tolong berhenti menjodohkan Manira dengan laki-laki lain dan selalu memposisikan Manira pada posisi seperti ini. Kalau sudah seperti ini, kita juga yang sama-sama susah, serba tidak enak dengan orang itu dan pada akhirnya abah sendiri yang akan malu,”


“Kenapa hatimu begitu keras?” abah semakin jelas menunjukkan kekecewaannya. “Kenapa hatimu seperti batu? Apa menurutmu orang seperti dia masih mau bergaul dengan orang biasa seperti kita?” pungkas abah, lalu pergi.

__ADS_1


“Abah....”


Manira selalu dihadapkan pada persimpangan setiap kali terjadi hal seperti ini. Di satu sisi dia tidak mau mengecewakan abah, di sisi lain dia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri untuk bisa menerima laki-laki lain. Kesedihan Manira bukan karena menantikan kekasihnya yang tidak kunjung kembali, tetapi justru karena hal-hal semacam ini. Hal, dimana dia harus sekali lagi menolak lamaran seseorang dan menyakiti semuanya. Jangankan orang lain, dia sendiri pun sakit.


Manira berjalan di koridor rumahnya, menuju ruang tamu. Mau tidak mau dia harus menemui laki-laki yang sudah melamarnya. Manira tampak tegang, dia berusaha menguatkan langkah. Jawabannya sudah pasti. Dia akan menolak lamaran ini lagi demi menjaga kesetiaannya kepada kekasihnya. Segala kemungkinan terburuk sudah membayang di kepalanya: kemarahan abah, kemarahan keluarga yang datang melamarnya, rasa malu dan semuanya.


Manira menarik nafas panjang, menyiapkan mental untuk menghadapi semua itu. Di tengah jalan, dia dihadang oleh seorang laki-laki memakai baju batik. Manira terkejut melihat laki-laki itu tiba-tiba muncul dari balik tirai.


Manira menatap Imam. Matanya berkaca mendapati bahwa laki-laki yang datang melamarnya adalah Imam, salah satu teman masa kecilnya. Sama seperti Manira yang sedih karena kali ini dia harus mengecewakan teman terbaiknya, Imam pun sudah menunjukkan wajah putus asanya. Dia seperti bisa membaca dengan sangat jelas, apa jawaban Manira. Sebuah penolakan yang sudah menjadi momok menakutkan sejak awal, yang coba dia terjang tapi sepertinya itu tetap akan membuatnya merasa sakit.


Manira mengabaikan Imam dan melanjutkan perjalanan menuju ruang tamu.

__ADS_1


“Sekali lagi kamu maju, kamu akan mempermalukan semua orang,” cegah Imam


Manira berhenti. Dia sendiri sedih, menyesalkan kenapa semua harus seperti ini. Sebuah hubungan persahabatan yang sangat baik harus dinodai dengan peristiwa seperti ini. Seharusnya Imam sudah tahu kejadiannya akan seperti ini dan seharusnya dia tidak membuat semuanya semakin rumit.


“Kamu akan mengecewakan abah dan emak. Kamu akan mempermalukan mereka, mempermalukan orang tuaku, mempermalukan aku dan kita semua,” ucap Imam sekali lagi.


“Aku tidak ingin menyakiti siapa pun,” bantah Manira masih kekeh dengan keputusannya.


Manira meneruskan langkah menuju ruang tamu. Satu keputusan akan dia katakan kepada semua orang tentang penolakannya atas lamaran yang sudah dibawa oleh orang tua Imam. Dia tidak bisa memberi harapan palsu kepada Imam. Dia tidak mau mengkhianati perasaannya sendiri. Karena sekalipun pura-pura, dia tidak akan pernah bisa melakukannya.


Dia tidak peduli dengan semua ucapan miring orang yang menganggapnya sombong atau pemilih. Dia tidak peduli meski semua orang mengutuknya. Dia hanya tidak bisa pura-pura mencintai seseorang. Dia tidak mau sekedar menjalani formalitas hidup dimana semua perempuan harus menikah dan punya keluarga yang utuh sebagaimana perempuan lainnya. Dia tidak mau menjalani sesuatu yang tidak dia inginkan. Bahkan meski kekasihnya sudah mati, dia rela hidup sendiri seumur hidup dan tidak mau menggantikan kekasihnya dengan siapa pun. Itulah keteguhan hatinya dan perasaannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2