Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode final


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 99


Gibran berhasil menjatuhkan Mahesa ke lantai dan mencekiknya. Saat itu Gibran teringat teriakan ibunya yang meminta agar Juragan Damar mendengarkan penjelasannya bahwa dia tidak berselingkuh, dia mendengar kembali tangisan ibunya yang meronta minta tolong. Dia teringat kembali bagaimana Juragan Damar memukuli ibunya, menyeretnya dan memasukkannya ke dalam gudang yang busuk. Dia juga belum lupa dengan teriakannya sendiri ketika harus berdiri di depan gudang dan menangis sambil memanggil-manggil ibunya, tidak berdaya. Lalu teriakan Manira yang meronta minta tolong tapi Mahesa malah meninggalkannya. Gibran teringat seluruh penantian Manira dengan segala pengorbanannya di stasiun tua itu yang berakhir sia-sia. Gibran sangat marah. Dia ingin sekali menghabisi Mahesa untuk membalas semua rasa sakitnya atas semua itu. Lalu Gibran melihat ada sebuah pisau di lantai. Dia mengambilnya dan...


“Hiaaatttttt!!!!”


Gibran mengayunkan pisau itu di atas kepala Mahesa dan hampir membunuhnya. Tetapi kemudian Gibran mengurungkan niatnya. Dia menghentikan laju pisau yang sudah ada di atas kepala Mahesa. Dia menatap Mahesa lekat-lekat, mencoba untuk mengendalikan dirinya sendiri.


“Sekali ini saja...” ucap Gibran. “Untuk pertama dan terakhir kalinya aku mengakuimu sebagai adik,” ucapnya sambil menjatuhkan pisau itu.

__ADS_1


Mahesa belum menyerah. Begitu Gibran lengah, diam-diam dia berusaha meraih apa saja yang ada di sekitarnya untuk memukul Gibran. Lalu dia menemukan botol bekas anggur. Dia mengayunkannya ke atas dan nyaris membenturkannya ke kepala Gibran. Beruntung beberapa petugas keamanan datang dan langsung menahannya. Mahesa yang sudah kehabisan tenaga akhirnya tidak berdaya melawan mereka.


Gibran menarik nafas panjang antara lelah dan marah. Dia membersihkan darah di hidungnya, bekas pukulan Mahesa. Lalu menatap Mahesa yang juga sudah penuh dengan memar dan darah di wajah dan seluruh tubuhnya. Sejenak Gibran diam. Bingung. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan kepada seseorang yang sedang dipegangi dengan kuat oleh beberapa petugas keamanan itu agar berhenti membuat masalah. Dendam Mahesa seperti tidak pernah usai. Meski Gibran juga masih marah atas kejadian Manira, tetapi dia masih bisa menahan diri untuk tidak berbuat lebih jauh. Tapi Mahesa, kemarahannnya masih menyala bahkan lebih besar. Mungkin karena dia merasa telah kalah dan kehilangan semua kekuasaannya.


Gibran menatap Mahesa, “Aku tidak tahu harus menuntutmu atas kematian siapa? Ibuku, Juragan Damar atau Manira....” ucap Gibran menyebut nama-nama itu sambil menghitungnya dengan jarinya.


Para petugas keamanan itu membawa Mahesa ke kantor polisi. Meski sudah tidak berdaya, Mahesa masih tetap menatap Gibran dengan kebencian dan kemarahan. Sepertinya dendam itu tidak akan pernah berhenti sebelum dia mati. Dalam matanya masih tergambar bahwa suatu saat nanti dia pasti akan kembali untuk menuntut balas. Kenapa? Karena tidak sedikit pun, tidak sedetik pun dan tidak sekali pun Mahesa rela melihat Gibran mengambil semua harta kekayaan Juragan Damar yang seharusnya menjadi miliknya. Dia tidak rela melihat Gibran bahagia karena dalam setiap senyuman Gibran dia masih selalu mendengar tangisan ibunya yang menyayat-nyayat.


Ngiiik....ngok....


Gibran berdiri di balkon rumah sakit, di pagi yang cerah. Dia memainkan lagu sendu yang biasa dimainkan oleh Manira.


Hanya ada satu cahaya, selebihnya semuanya gelap


Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa berhenti mencintaimu

__ADS_1


Aku tidak tahu kenapa aku tidak pernah bisa menggantikanmu dengan yang lain


Rasanya seperti mati bunuh diri


Rasanya seperti sekarat antara hidup dan mati


Kekasihku... sayangku... kembalilah padaku


Kekasihku... sayangku....aku sangat merindukanmu


Di belakang Gibran ada seorang perempuan yang duduk di ranjang rumah sakit. Manira. Tatapannya masih saja sendu seperti ada ribuan duka yang menghampirinya. Dia diam. Mungkin selamanya dia hanya akan diam. Mahesa menghampiri Manira dan merangkulnya.


“Hikz... hikz....” Gibran menangis. “Maafkan aku... maafkan aku...” ucap Gibran, merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Manira.


Air matanya luruh melihat wanita yang paling dia cintai, sekarang seperti mayat hidup yang hanya bisa membuka matanya tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Koma.

__ADS_1



Tamat...


__ADS_2