
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
__ADS_1
Episode 96
Kegarangan Gibran terbukti dari keberaniannya membatalkan beberapa kontrak kerjasama bernilai ratusan juta di gedung pertunjukan itu demi sebuah drama yang diberi judul “Manira”. Semua orang jadi bertanya-tanya, apa hebatnya Manira? Siapa Manira? Bagaimana kisahnya? Sampai seorang pengusaha besar bisa mengorbankan segalanya demi sebuah drama.
Pertanyaan-pertanyaan itu semakin membuat media dan seluruh orang di dunia penasaran, tidak sabar melihatnya. Rasa penasaran itulah yang membuat berita tentang drama “Manira” menjadi besar dan diperbincangkan di banyak negara. Sebuah poster berukuran besar yang menggambarkan seorang perempuan bergaun hitam, berwajah sendu sedang memainkan biola sudah dipajang di pinggir-pinggir jalan. Banyak laman internet hingga surat kabar memajang poster yang sama, menandakan bahwa Gibran tidak main-main mengadakan pertunjukan ini. Seolah dia ingin mengatakan pada dunia betapa besar ketidakadilan yang dialami oleh seorang Manira.
Hari yang dinantikan semua orang tiba. Gibran duduk di kursi paling depan untuk melihat langsung kisah Manira yang dipertunjukkan dalam bentuk drama musikal. Diperankan oleh beberapa pemain drama handal di Frankfurt. Mereka berhasil mengubah panggung yang megah menjadi stasiun tua, tempat Manira memulai semua penantiannya.
__ADS_1
Dimulai dari permainan biola dengan lagu yang sama yang selalu Manira mainkan. Sepasang penari menari di atas pentas menggambarkan kisah Manira dan Mahesa yang masih hangat, lalu berpisah, penantian yang sangat panjang, pertemuannya kembali dengan seribu harapan, lalu pengkhianatan hingga akhirnya kejadian tragis itu terjadi. Gibran menangis melihat tarian yang menceritakan kisah tragis Manira diiringi dengan lagu sendu yang selalu Manira mainkan.
Begitu tarian opening yang menggambarkan perjalanan hidup Manira selesai, disambung dengan drama yang sesungguhnya. Tergambar seorang perempuan berpakaian putih sedang duduk di salah satu sudut stasiun tua sambil memainkan biolanya dengan lagu rindu, menantikan seseorang. Seorang perempuan yang setiap jam tiga sore berdiri di stasiun menanti kekasihnya kembali. Seorang perempuan yang rela melawan semua orang demi mempertahankan kesetiaannya pada satu orang. Seorang perempuan tangguh yang rela mendengar semua hinaan dan cacian yang menganggapnya angkuh dan sombong. Seorang perempuan yang hampir mati bunuh diri karena terlalu merindukan kekasihnya. Seorang perempuan yang bahkan demi mempertahankan cintanya, dia sampai kehilangan ayahnya.
Di ujung penantiannya, tiba-tiba kekasihnya datang membawa secercah angin segar dalam hidupnya yang penuh sesak. Dia dibawa ke negara asing ini dan dijadikan pengemis jalanan. Dia bahkan dilelang oleh suaminya sendiri dalam sebuah pameran perhiasan. Tergambar seorang perempuan yang ketika acara pelelangan itu berlangsung sedang memakai gaun hitam, dengan memar yang sudah mulai membekas di wajahnya akibat sering dipukuli oleh kekasih yang sempat dia anggap sebagai dewa. Dia memainkan biolanya dengan irama sedih menggambarkan kegelisahannya betapa dia sangat tersiksa oleh cintanya sendiri.
Ada rasa jijik saat menatap beberapa pria tua menatapnya dengan tatapan kotor mereka. Ada perasaan menjadi wanita murahan setiap kali dia harus dipajang di depan acara pameran dan memainkan biolanya. Ada air mata yang tertahan di balik kelopak matanya. Hingga akhirnya hari itu tiba. Hari dimana kesetiaan dan ketulusan Manira dibayar dengan penghinaan oleh kekasihnya. Malam itu, kekasihnya yang sudah menjadi suaminya mengirimnya ke sebuah kamar hotel dimana seorang pria hidung belang sudah menantinya.
__ADS_1
Bersambung....