Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 87


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 87


“Ken... kenapa mengunci pintunya?” Manira semakin gugup.


“Tidak apa-apa. Ini berlian mahal, jangan sampai ada pencuri yang masuk,” jawabnya.


Manira mencoba tenang. Dia buru-buru menyerahkan kotak hitam itu sambil menundukkan kepala karena dia tidak mau melihat laki-laki hidung belang yang mungkin sudah setiap malam menghabiskan waktu bersama wanita penghibur. Laki-laki itu menerima kotak hitam itu sambil memegang tangan Manira yang halus. Manira langsung menarik tangannya dan bergegas pergi.


“Maaf, aku harus segera pergi,” ucap Manira.


“Mau kemana?” tanya laki-laki itu sambil memegang tangan Manira, menahannya agar tidak pergi.


“Tolong... lepaskan tanganku,” Manira semakin ketakutan.

__ADS_1


“Kamu sangat cantik,” ucap laki-laki itu sambil membelai wajah Manira.


“Jangan kurang ajar Tuan,” teriak Manira sambil mengibaskan tangan laki-laki itu.


Manira mencoba lari tapi laki-laki itu menarik Manira dan menjatuhkannya ke atas sofa. Dia menatap Manira dengan tatapan menakutkan. Manira merasa terjebak. Dia semakin yakin bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan laki-laki itu.


“Kamu pikir aku membayar mahal hanya untuk berlian ini?”


“Apa maksud tuan?”


“Hahahaa.....” laki-laki itu tertawa. “Harga kamu untuk satu malam, sudah dipaketkan dengan berlian ini,”


Manira kaget.


“Dia tidak akan melakukan apa-apa karena dia sendiri yang sudah melelang istrinya,”


“Tidak, tuan pasti bohong....”


Manira mencoba melarikan diri. Sekali lagi laki-laki itu menarik Manira dan menjatuhkannya ke sofa yang sama. Dia memegangi tangan Manira dengan kuat sampai Manira tidak bisa bergerak kemana-mana. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Manira. Manira menutup matanya, berusaha menghindar.

__ADS_1


“Aku tidak mau rugi. Malam ini kita akan bersenang-senang,”


“Tidak,”


Manira berusaha berontak.


“Diam!!!” bentak laki-laki itu yang tampaknya sudah mulai kehilangan kesabarannya.


Manira berontak hingga akhirnya berhasil melarikan diri.


Mahesa duduk di ruang kerjanya sambil memain-mainkan gelas berisi anggur mahal. Dia sangat bahagia karena bisa membalas dendam pada Gibran. Kelemahan Gibran adalah Manira. Gibran tidak akan merasa sakit jika dia dipukul. Dia bahkan tidak akan keberatan jika harus digantung di tiang gantungan. Tetapi Mahesa yakin, Gibran pasti akan hancur jika melihat Manira hancur. Hari ini Mahesa bisa melampiaskan semua dendam dan kemarahannya di masa lalu kepada Gibran.


Waktu itu mereka memang sama-sama anak kecil usia 12 tahun yang tidak tahu apa-apa tentang dosa kedua orang tua mereka. Tetapi sebagai anak, Mahesa tidak rela ibunya dikhianati. Sampai kini pun rasa sakit saat melihat penderitaan ibunya atas pengkhianatan ayahnya masih membekas. Suara rintihan ibunya masih terdengar jelas di telinganya, masih membayang di matanya, nyaris tidak sedetik pun dia melupakan kejadian itu.


“Ibu, dendammu sudah terbalas....” ucapnya seakan dengan bangga mempersembahkan kehancuran Gibran malam ini untuk ibunya yang sudah tenang di kuburnya.


Brok!!! Terdengar Manira membuka pintu panik.


“Mahesa tolong aku... Tolong selamatkan aku. Laki-laki itu mau berbuat kurang ajar padaku,” ucap Manira meminta pertolongan Mahesa.

__ADS_1


Mahesa melihat ke pintu, laki-laki hidung belang itu sudah berdiri di depan pintu. Mereka saling menatap tajam. Sejenak Manira merasa tenang karena Mahesa pasti akan melindunginya dari laki-laki itu. Tetapi sesuatu yang mengejutkan terjadi. Hari ini Mahesa menunjukkan wajah aslinya kepada Manira.


Bersambung...


__ADS_2