Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 38


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 38


Imam pun sama. Sebagai teman sejak kecil, nyatanya Imam tidak cukup memahami Manira dengan baik. Dia juga hanya melihat satu sudut pandang bahwa yang Manira lakukan adalah suatu kebodohan.


“Aku bisa menikah dengan siapa pun,” jawab Manira membuat Imam terkejut.


Imam menatap Manira, penasaran kenapa tiba-tiba Manira menyebut soal pernikahan.


“Keputusan untuk menikah itu sangat mudah. Aku bisa berpura-pura menyukai seseorang dan menikah dengannya. Tapi sampai kapan aku bisa bertahan????” ungkap Manira menunjukkan isi hatinya yang sesungguhnya, berharap kali ini Imam bisa memahaminya. “Bagaimana kalau di tengah jalan aku lelah dan menyerah? Bagaimana kalau aku tidak bisa berpura-pura mencintai lagi dan memutuskan untuk berpisah? Bukankah itu akan lebih menyakitkan?” lanjut Manira mengungkapkan bahwa dia benar-benar tidak bisa menggantikan kekasihnya dengan siapa pun, dia tidak bisa berpura-pura mencintai siapa pun dan kalau dipaksakan, justru akan menyakiti lebih banyak orang.


“Kamu takut...” jawab Imam seakan menantang Manira. “Kamu takut membuka hatimu untuk orang lain. Kamu takut jatuh cinta lagi karena itu kamu membangun tembok yang tinggi dan menciptakan jarak yang sangat jauh dengan semua pria yang ingin mendekatimu,”

__ADS_1


“Cinta itu bukan sesuatu yang bisa digantikan atau dipindahkan dari satu orang ke orang lainnya,” bantah Manira.


“Itu karena kamu tidak mau berusaha,” teriak Imam. “Kalau sedikit saja kamu mau membuka hatimu untuk seseorang maka semua pasti akan lebih baik. Kamu akan tahu bahwa di dunia ini ada cinta lain selain dia. Kamu bisa melupakannya dan bisa melanjutkan hidupmu dengan normal seperti orang lain,”


“Tidak semudah itu,”


“Itu karena kamu tidak mau mencobanya..... cobalah, sekali saja. Buka hatimu untukku atau untuk orang lain. Kamu pasti akan menyadari bahwa dia bukan satu-satunya cinta yang ada di dunia ini,”


“Memangnya kamu bisa menggantikan aku dengan perempuan lain?” tanya Manira seakan balik menantang Imam.


“Ketika kita sudah menyukai satu orang, maka kita tidak akan pernah bisa menyukai yang lainnya lagi,”


“Apa ini soal uang?” Imam mulai menyinggung soal status sosial.


“Apa?” Manira terkejut.


“Kamu memilih dia karena dia punya segalanya sedangkan aku tidak,”

__ADS_1


“Omong kosong apa ini?” Manira sangat marah. “Sekalipun ada laki-laki miskin yang melamarku dan aku menolaknya, lalu ada orang yang menghinanya seperti itu. Maka aku adalah orang pertama yang akan tersinggung, jauh lebih tersinggung dari orang itu,” Manira menegaskan bahwa urusannya bukan soal uang.


“Bohong. Perempuan mana yang bisa menolak kemewahan? Kalau ada pilihan juga pasti diperbandingkan,”


“Aku tidak sepicik itu,” Manira menangis. Dia sangat tersinggung dengan tuduhan Imam.


“Kamu kira, kamu pantas untuk dia?”


Manira terdiam.


“Bagaimana kalau ternyata dia sudah melupakanmu?”


“Kalau begitu, biarkan aku mencintainya sampai mati,” jawab Manira masih dengan keangkuhannya.


Imam diam. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya membuka mata dan hati Manira untuk berhenti bersikap bodoh, berhenti mempertahankan cintanya yang konyol. Cinta sudah memanggang hati Manira hingga kering dan menghitam menjadi kerak. Tidak ada seorang pun yang bisa membangkitkan hati Manira lagi. Hatinya terkungkung pada satu titik, yaitu mencintai satu orang saja. Cinta itu sudah terlanjur menggigit hati Manira hingga dia tidak pernah bisa menggantikan cinta itu dengan yang lainnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2