
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 23
“Katakan ada apa ini?” tanya Juragan Damar, meminta kedua anak kecil itu memberinya penjelasan atas keributan yang dia yakin ada hubungannya dengan peristiwa Ratmi waktu itu.
“Ibu tidak salah juragan. Dia yang sudah menjebak ibu,” jawab Gibran.
Mahesa mulai takut karena sebentar lagi rencananya akan terbongkar.
“Apa yang kamu katakan?” sahut Pak Anwar, bingung.
__ADS_1
“Tadi Gibran melihat sendiri kalau Mahesa memberikan orang itu kalung milik ibunya. Katanya sebagai balasan karena sudah berhasil menjebak ibu waktu itu,”
“Benarkah?” Juragan Damar kaget. “Geledah dia,” perintahnya.
Pak Anwar langsung menggeledah preman itu dan ternyata benar. Dia menemukan kalung emas yang sangat dia kenal. Sebuah kalung indah yang pernah dia hadiahkan kepada Sarifah. Juragan Damar kaget bukan kepalang. Dia menatap Mahesa dengan tatapan marah, tidak habis pikir bahwa anak sekecil itu bisa membuat rencana selicik ini.
Pok!!!!! Juragan Damar langsung menampar Mahesa. Sebelumnya dia ragu dengan apa yang dia lihat waktu itu. Sekarang dia yakin bahwa Ratmi tidak mungkin mengkhianatinya. Semua yang terjadi adalah sesuatu yang sudah direncanakan oleh seseorang untuk menjebaknya. Yang tidak juragan habis pikir adalah kenapa hal seperti ini bisa direncanakan oleh anak sekecil Mahesa.
“Benar yang Gibran katakan?” tanya juragan kepada Mahesa.
Mahesa hanya diam, menundukkan wajahnya.
“Itu benar,” jawab Mahesa yang akhirnya dengan berani mengakui perbuatannya.
Juragan Damar sangat syok.
__ADS_1
“Kenapa??? Kenapa kamu melakukan semua ini?”
“Karena aku tidak suka bapak bahagia bersama perempuan itu dia atas penderitaan ibu. Mahesa benci kalian dan Mahesa ingin kalian hancur,” teriak Mahesa.
“Kurang ajar!!!” teriak juragan sambil kembali menampar Mahesa.
Mahesa semakin membenci ayahnya. Demi perempuan itu, dia bahkan memukul anaknya sendiri. Mahesa tidak bisa terima semua ini. Dia adalah anak sah Juragan Damar tetapi dia dan ibunya justru selalu mendapat perlakuan buruk dari Juragan Damar. Sedangkan Gibran dan ibunya malah selalu diagung-agungkan oleh Juragan Damar. Ini tidak adil.
“Mahesa benci bapak,” teriak Mahesa yang akhirnya dengan terang-terangan berani memberontak. “Ini tidak adil. Kalian sudah menyebabkan ibu meninggal. Sekarang, dia dan ibunya ingin menguasai semua harta kekayaan bapak. Mahesa tidak terima, Pak. Sebagai anak sah bapak, Mahesa tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dasar anak haram!” jawab Mahesa berapi-api membela haknya dan ibunya. “Mahesa puas karena Mahesa berhasil membalas kematian ibu,”
“Dasar anak durhaka!!!” teriak Juragan Damar dengan penuh kemarahan sambil kembali menampar Mahesa yang entah sudah keberapa kalinya dia melakukannya.
Hatinya sangat hancur mengetahui bahwa dia sudah salah menilai Ratmi. Yang sangat menyakitkan adalah dia tidak mempercayai perempuan yang paling dia cintai yang sudah berkali-kali berteriak mengatakan bahwa dia tidak salah. Yang lebih membuat juragan hancur adalah kenyataan bahwa Ratmi sampai harus mati di tangannya karena kemarahannya waktu itu. Juragan tidak tahu lagi bagaimana dia mengungkapkan kemarahan dan kekecewaannya pada Mahesa yang sudah membuat dia kehilangan perempuan yang paling dia cintai dengan tangannya sendiri.
“Siapa yang sudah mengajarimu berbuat licik seperti ini?” juragan terus memarahi Mahesa. Dia tidak percaya, anak sekecil itu bisa membuat rencana sebesar ini yang bahkan bisa menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.
__ADS_1
“Aku belajar dari bapak. Bukankah bapak sudah mengkhianati ibu? Aku belajar bagaimana bapak melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang bapak inginkan. Dan aku berhasil,” jawab Mahesa yang masih tidak merasa menyesal sedikit pun atas perbuatannya. Dia justru terlihat sangat menikmati kematian Ratmi sebagai hadiah yang indah untuk ibunya yang sudah tenang di surga. Dia dengan sangat bangga mengatakan pada ibunya bahwa dia sudah berhasil membalaskan dendam ibunya.
Bersambung...