
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 26
Gibran sangat tersinggung. Dia sakit hati karena semua orang masih saja menganggapnya sebagai anak haram, seorang anak yang tidak jelas asal-usulnya dan seolah menjadi kutukan bagi siapa saja yang dekat dengannya. Gibran sudah lari sejauh ini, tapi masih saja ada yang menghinanya. Dia sangat marah melihat semua orang memperlakukannya seperti sampah.
__ADS_1
Kemarahan membuat Gibran tidak bisa mengendalikan emosinya. Dari kejauhan dia melihat ibu itu membuka dompet di depan tukang es krim. Kekesalannya membuat Gibran ingin membalas rasa sakit hatinya. Lalu niat buruk pun muncul di kepalanya. Dia berlari ke arah ibu itu. Dalam sekejap, Gibran bisa mengambil dompet berwarna hitam yang penuh dengan uang pecahan 20 ribuan. Gibran berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu.
“Copet!!! Copet!!!! Dasar anak kurang ajar.... copet!!!!” teriak ibu itu.
Sontak seluruh tukang ojek, pejalan kaki dan penjual pinggir jalan berlari mengejar Gibran. Mereka beramai-ramai meneriaki Gibran copet. Dalam sekejap, orang-orang dewasa dengan langkah kaki jenjang itu bisa meraih Gibran dan beramai-ramai memukulinya. Gibran kecil tidak berdaya. Meski marah dan ingin membalas semua pukulan itu tetapi dia tidak bisa melakukannya.
“Hikz... hikz... hikz....”
Gibran menangis seorang diri di sore yang kelam. Semburat cahaya matahari sore menampar pipinya yang memerah bekas pukulan tangan-tangan dewasa itu. Dia ingin menyesali nasibnya tapi tidak tahu apa yang harus disesali. Dia ingin marah tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Ingin berteriak tapi itu tidak ada gunanya. Gibran benar-benar merasa sendiri. Seluruh harinya menjadi gelap dan suram. Dia bahkan tidak bisa melihat satu masa depan pun di hadapannya. Semuanya hancur.
__ADS_1
Lalu seorang petugas stasiun mendekatinya. Laki-laki tua bernama Pak Hasyim yang merupakan tetangganya dari kampung itu menjadi saksi atas semua kemalangan Gibran. Laki-laki itu duduk di samping Gibran dan merangkulnya. Dia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan masalah sebesar ini pada anak sekecil itu. Umurnya baru 12 tahun tetapi nasib seolah sudah sangat kejam padanya. Dia tidak tahu apa-apa tentang urusan orang dewasa. Tetapi si malang inilah yang pada akhirnya harus menanggung semua akibat dari kesalahan orang tuanya.
“Tidak ada seorang pun yang bisa memilih dia akan dilahirkan dimana dan seperti apa,” ucap Pak Hasyim sambil merangkul Gibran.
Gibran mengangkat wajahnya. Anak malang itu terlihat sangat kehilangan. Keceriaan yang seharusnya ditunjukkan oleh anak seusianya justru tidak tampak sama sekali. Yang ada hanyalah duka yang seolah selalu mempertanyakan kenapa semua ini terjadi padaku? Apa salahku? Kenapa aku tidak seperti teman-temanku yang lain yang punya orang tua lengkap dan punya kebahagiaan yang sempurna?
“Tidak ada seorang pun yang bisa memilih ingin dilahirkan di istana atau di gubuk tua. Tidak ada yang bisa memilih ingin dilahirkan sebagai anak presiden atau anak pengemis tua. Semua yang terjadi padamu.... anggap saja sebagai suratan,” lanjut Pak Hasyim sebagai satu-satunya orang yang mau merangkul dan mengajak Gibran bicara setelah sebelumnya semua orang selalu menghinanya dan mengutuknya sebagai anak haram.
Bersambung...
__ADS_1