
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 22
Juragan Damar, berdiri, menundukkan wajah sangat sedih saat pemakaman Ratmi. Gibran tidak bisa berhenti menangis mengantar kepergian ibunya. Bagi Gibran, ini seperti neraka. Dia tidak pernah merasakan kehilangan yang sebesar ini. Sebelumnya dia sudah kehilangan Hasan yang dianggap sebagai ayahnya sendiri. Sekarang dia harus kehilangan ibunya. Gibran merasa sendiri. Meski Ratmi selalu mengatakan bahwa Juragan Damar adalah ayahnya, meski Juragan Damar mencoba mengambil alih peran sebagai ayah, tetapi hati kecil Gibran belum bisa menerimanya. Dia sendiri seperti tidak mau menerima kenyataan bahwa dia adalah anak yang terlahir dari hubungan terlarang. Dia mencoba mengingkari kenyataan itu karena merasa jijik dengan asal usulnya sendiri.
Juragan Damar harus berjuang keras untuk bisa mendapatkan tempat di sisi Gibran tapi sampai sekarang, juragan ikan terbesar di kampung nelayan ini, belum bisa mendapatkannya. Ditambah lagi, Gibran melihat seperti apa kejamnya dia yang sudah menyiksa Ratmi di hadapan Gibran hingga menemui ajalnya. Akan semakin sulit bagi Juragan Damar untuk bisa mendapatkan tempat yang penting di hati Gibran.
Usai acara tabur bunga, tanpa sengaja Gibran menangkap pemandangan lain di salah satu sudut pemakaman itu. Dia melihat Mahesa pergi dengan diam-diam meninggalkan area pemakaman. Selama ini sikap Mahesa sangat tidak baik terhadapnya dan ibunya. Gibran penasaran, apa yang akan dilakukan Mahesa di makam itu. Diam-diam Gibran mengikuti Mahesa dan ternyata, dia bertemu dengan seorang laki-laki di depan makam. Yang mengejutkan adalah bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang sama yang pernah ditangkap basah oleh Juragan Damar beberapa waktu lalu di kamarnya bersama ibunya. Gibran terbelalak tidak percaya.
“Itukan....” seru Gibran, kaget.
__ADS_1
Entah kenapa, saat itu Mahesa memberi sebuah kalung emas kepada laki-laki yang berpenampilan seperti preman itu. Gibran mulai curiga bahwa jangan-jangan ada persekongkolan di balik kejadian yang menimpa ibunya beberapa hari yang lalu.
“Terima kasih, paman sudah membantuku. Aku tidak punya uang. Itu adalah kalung mendiang ibuku, semoga cukup,” ucap Mahesa.
“Beres bos. Asal ada bayarannya, aku siap melakukan apa saja yang Juragan Muda Mahesa inginkan,” jawab preman itu dengan senyum bahagia menerima kalung emas itu.
Gibran semakin yakin kalau memang merekalah orang yang sengaja menjebak ibunya agar Juragan Damar salah paham dan menghukum ibunya hingga meninggal. Gibran tidak bisa menahan dirinya. Dia berlari dan mendekati mereka.
“Jadi semua rencana kalian?” teriak Gibran.
Mahesa dan preman itu kaget melihat Gibran sedang menangkap basah keduanya.
“Paman lari....” teriak Mahesa. Dia merasa sudah tidak aman lagi. Sebelum ayahnya datang dan menangkap preman itu dan bertanya macam-macam, Mahesa menyuruh preman itu segera lari agar tidak tertangkap oleh ayahnya.
“Berhenti!!!” teriak Gibran. “Kamu harus menjelaskan semuanya pada Juragan Damar kalau ibuku tidak salah...” teriak Gibran sekuat tenaga.
__ADS_1
Juragan Damar kaget mendengar teriakan Gibran. Dia baru sadar bahwa Gibran sudah tidak ada bersamanya.
“Ada apa ini?” Juragan Damar panik. “Dimana anak-anak?”
“Mereka ada di sana,” jawab Pak Anwar.
Terlihat kegaduhan di depan makam. Kedua anak kecil itu terlihat sedang ribut. Gibran sedang berteriak-teriak ke arah seberang jalan, tempat preman itu kabur. Sementara Mahesa memegangi Gibran agar tidak mengejarnya. Beberapa saat kemudian Juragan Damar dan anak buahnya sampai di sana.
“Ada apa ini?” tanya Juragan Damar.
“Tangkap dia... tangkap dia... dia penjahatnya juragan,” seru Gibran sambil menunjuk preman berjaket hitam itu.
Juragan Damar ingat dengan sangat jelas wajah laki-laki itu. Dia pun merasa perlu membuat perhitungan dengannya.
“Tangkap dia!” perintah Juragan Damar kepada anak buahnya.
__ADS_1
Beberapa laki-laki bertubuh kekar itu langsung berlari mengejar laki-laki itu. Dalam waktu singkat, mereka sudah berhasil melumpuhkan laki-laki itu dan membawanya ke hadapan Juragan Damar. Laki-laki itu terus berontak ingin melarikan diri tetapi dua anak buah Juragan Damar terus memeganginya dengan kuat.
Bersambung....