
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
__ADS_1
Episode 95
Dalam semalam, Gibran yang dulunya bukan apa-apa sekarang menjadi pewaris utama seluruh kekayaan peninggalan Juragan Damar yang menguasai sebagian besar bisnis perdagangan berlian di Jerman dan bisnis perikanan yang masih tumbuh subur di negara asalnya, di Kampung Nelayan. Dia juga memiliki beberapa hotel, rumah makan, pusat perbelanjaan dan gedung pertunjukan. Dalam semalam pula, Mahesa kehilangan kekuasaannya. Mahesa sempat tidak terima. Dia mencoba mengambil kembali semua miliknya. Dia berusaha mempengaruhi para pemegang saham bahwa Gibran adalah penyusup. Dia tidak pantas mendapatkan semua harta kekayaan Juragan Damar karena terlahir dari hubungan yang tidak sah. Mahesa melakukan segala cara untuk membuat para pemegang saham itu berpihak padanya dan melawan Gibran.
Tetapi, Gibran bergerak satu langkah di depannya. Sebelum masalah ini mencuat, Gibran sudah menemui para pemegang saham itu dan mengancam mereka. Apa pun yang terjadi, Juragan Damar sudah mengakui Gibran sebagai putra pertamanya, sudah memasukkannya dalam daftar keluarga dan menulis namanya dalam surat wasiat yang sah sebagai pemegang kekuasaan utama dalam semua bisnis peninggalannya.
Mahesa sangat hancur. Dia merasa seperti pengemis yang mendatangi para pemegang saham satu persatu untuk mendukungnya tetapi semuanya gagal. Sikap emosionalnya bahkan membuat dia bersikap kasar atas penolakan para pemegang saham itu. Kadang mengumpat, mengancam bahkan memukul. Hal itu membuat para pemegang saham semakin yakin bahwa Mahesa bukan rekan bisnis yang baik.
__ADS_1
Media semakin gencar memberitakan akuisisi perusahaan Damar Group yang sekarang sudah beralih kepemimpinan dari Mahesa menjadi Gibran. Semua orang mulai respek kepada Gibran. Mereka bersalaman pada Gibran, memberinya selamat, tersenyum padanya dengan penuh hormat. Dia bukan Gibran yang dulu lagi yang sering disebut sebagai orang gila penunggu stasiun tua. Sekarang semua orang, seluruh dunia mengakuinya sebagai pewaris sah dari Damar Group yang memiliki aset dimana-mana baik di dalam maupun di luar negeri.
Hampir semua portal berita bisnis memberitakan kemunculan Gibran sebagai singa baru dalam kancah bisnis internasional yang pemberani dan penuh ambisi. Sedikit demi sedikit kemunculan Gibran menggeser popularitas Mahesa yang mulai diabaikan. Terlebih lagi kebiasaan Mahesa minum-minuman dan bersikap kasar membuat semua orang semakin tidak respek padanya.
Mahesa menemukan kekalahannya. Depresi dan putus asa membuatnya melampiaskan semua kekesalannya dengan minum minuman keras. Tidak jarang dia berkeliaran di jalanan sambil berteriak-teriak seperti orang gila. Semua orang merasa jijik melihatnya. Dia sering tidur di pinggir jalan, emperan toko atau di dekat rumah anjing karena terlalu mabuk. Hal itu semakin menghilangkan kewibawaan Mahesa yang sebelumnya dikenal sebagai pengusaha muda paling kaya dan sukses.
Gibran mulai menunjukkan gebrakannya sebagai singa dalam bisnis. Dia berani mengambil keputusan besar dan berani mengambil resiko. Dia tidak takut kalah atau gagal. Baginya, kehidupannya sebelumnya sudah sangat buruk. Jika sekarang dia harus mengalami kegagalan lagi, itu bukan masalah. Dia tidak takut kehilangan apapun karena dia tidak pernah merasa memiliki apa-apa. Yang dia inginkan hanyalah Mahesa menerima balasan atas semua kesombongan dan keangkuhannya. Dia ingin melihat Mahesa yang terbungkus oleh dendam dan kemarahannya, menyudahi semua kekejamannya dan ambisinya untuk balas dendam.
__ADS_1
Bersambung...