
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 55
Gibran diam, merenung.
Tuuttt............ jenggjizzzz.... jengjiz..... terdengar suara kereta melintas di terowongan tepat di bawah kaki Gibran. Gibran tersadar dari lamunannya. Dia melihat ke kanan kiri, tidak ada siapa-siapa. Rupanya dia baru saja berhalusinasi tentang Manira. Dia menganggap seolah-olah Manira ada di hadapannya. Tetapi meski hanya halusinasi, semua yang disampaikan Manira itu benar dan cukup menggertak hati Gibran untuk bangkit.
__ADS_1
“Benar, jika anjing saja bisa begitu berharga, kenapa aku yang seorang manusia merasa bahwa diriku tidak berharga? Bukankah aku jauh lebih baik dari anjing? Jika para korban kecelakaan pesawat, tenggelamnya kapal pesiar dan sebagainya berkemungkinan sudah menjadi mayat saja masih dicari dan dianggap sangat berharga, kenapa aku yang masih hidup dan waras menganggap bahwa aku sendiri tidak berharga?” gerutunya dalam hati yang akhirnya menemukan jalan untuk menyadari bahwa dirinya PENTING.
Kata-kata Manira berhasil mengubah cara berpikir Gibran. Dia mulai menemukan semangatnya dan merasa bahwa dia memang harus bangkit. Dia belum mati. Dia tidak mau seperti orang yang tenggelam. Dia harus bangkit, bergerak dan menunjukkan pada semua orang bahwa dia masih hidup. Dia bukan pecundang dan dia belum kalah.
Gibran melihat ke rel kereta yang ada di bawah terowongan itu seraya menguatkan tekat. Dia berpikir apa yang harus dia lakukan untuk bangkit. Tanpa sadar tangannya memegang sebuah botol plastik, bekas air mineral. Dia menatap botol bertutup biru itu. Sempat terbersit keinginan untuk mulai berjualan minuman di stasiun. Tetapi kemudian dia berkata,
“Kalau usahanya kecil, maka hasilnya juga pasti kecil,” gerutunya kemudian meremas botol plastik itu dan melemparnya ke bawah.
Sebuah mobil sedan warna putih mengkilat mendadak parkir di belakang Gibran yang masih berdiri di atas jembatan. Gibran penasaran, dia menatap mobil mewah itu dan melihat siapa yang datang. Ternyata perempuan cantik, berbaju putih. Gibran terdiam antara yakin dan tidak. Dia takut kalau ini hanya halusinasinya saja seperti sebelumnya.
“Kenapa?” tanya Manira, heran melihat Gibran menatapnya.
__ADS_1
“E...” Gibran terhenyak. Dia yakin bahwa kali ini Manira benar-benar ada di hadapannya. “Aku hanya berpikir.... kalau usahanya kecil, hasilnya juga pasti kecil. Kalau kita melakukan sesuatu yang besar, hasilnya juga pasti akan lebih besar,”
“Maksudnya?”
“Aku tidak ingin menjadi penjual permen yang keliling di dalam kereta. Aku juga tidak mau naik jabatan hanya sekedar dari tukang sapu menjadi scurity. Aku ingin lebih dari itu,”
Manira paham bahwa Gibran sudah mendapatkan kembali semangatnya untuk bangkit. Dia senang melihat temannya, akhirnya memikirkan sesuatu untuk masa depannya. Dia seperti seseorang yang baru saja tidur panjang dan begitu bangun dia penuh dengan semangat seolah ingin menakhlukkan gunung di hadapannya. Ini kesempatan. Manira tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk lebih membakar semangat Gibran. Dia sedang semangat-semangatnya dan harus ada seseorang yang menyambutnya dengan tangan terbuka, percaya bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang hebat, bukan malah mengecilkannya atau mentertawakannya.
Bersambung....
__ADS_1