Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 49


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 49


Gibran kesal, dia memanggul kantong plastik berisi rumput dan berjalan menyusuri rel menuju terowongan tua. Manira semakin marah karena Gibran mengacuhkannya.


“Satu tahun itu ada 365 hari. Tidak mungkin semuanya burukkan?” teriak Manira.

__ADS_1


Gibran menoleh ke belakang.


“Diantara 365 hari itu pasti ada hal baik yang kamu lalui. Kenapa kamu hanya mengingat yang buruknya saja? Kenapa tidak mencoba mengingat sesuatu yang baik lalu bangkit?”


“Kamu tidak tahu apa-apa, jadi jangan sok tahu,” Gibran marah.


“Pasti ada banyak moment indah dalam hidupmu yang sudah kamu lewati. Jangan hanya karena satu hal yang tidak kamu sukai lalu kamu melupakan semua keindahan itu. Satu minggu ada tujuh hari. Jika hari selasamu suram, bukan berarti hari lainnya rusak. Satu hari ada 24 jam. Jika hanya satu menit kamu digigit anjing, bukan berarti bahwa hari itu adalah hari yang buruk,”


Gibran meninggalkan Manira. Manira tidak mau menyerah. Menurutnya, masalah utama bagi temannya dan semua orang yang gagal terletak pada pola pikirnya. Jika pikirannya sudah mati, menyerah, putus asa maka semuanya juga akan mati. Tidak ada satu hal pun yang bisa diperbuat oleh orang lain untuk mengubah hidup seseorang jika orang itu sendiri tidak memiliki keinginan untuk berubah. Sama seperti pecandu rokok yang sekeras apa pun kita berusaha melepaskan dia dari ketergantungannya, semua tidak akan ada gunanya jika orang itu sendiri tidak memiliki keinginan untuk berhenti merokok. Menurut Manira, percuma menyuruh Gibran berubah kalau dia sendiri tidak bisa mengubah pola pikirnya tentang dirinya sendiri dan tentang hidupnya.


“Sekali saja.... coba ingat hal-hal baik dalam hidupmu, maka kamu pasti akan merasa bahwa hidup ini tidak sekejam yang kamu bayangkan,” teriak Manira sekali lagi.

__ADS_1


Gibran terdiam. Sebenarnya ingin mengabaikannya, tetapi kata-kata Manira seperti petasan yang selalu mengusik telinganya. Entah kenapa, dia mulai terpengaruh kata-kata Manira untuk mengenang satu persatu peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu dan menyadari bahwa sebenarnya hidupnya tidak seburuk yang dia bayangkan.


Gibran duduk di atas rel, membisu, wajahnya sendu, matanya berkaca mengenang masa kecilnya yang pernah sangat bahagia. Memiliki keluarga yang utuh. Ada ayah, ada ibu. Walau dia tidak hidup dalam keluarga normal seperti anak-anak lainnya. Setidaknya, dia pernah merasa memiliki ayah yang sangat baik. Seorang ayah yang tidak pernah mengeluh meski hidupnya sangat pahit.


Gibran mengingat satu persatu kenangannya bersama Hasan, seseorang yang bahkan jauh lebih baik dari ayah kandungnya sendiri. Mereka bermain bola bersama, memancing bersama, makan pun bersama. Air matanya mengalir mengenang seorang laki-laki yang sangat baik dan mau merawatnya dengan tulus meski dia adalah anak dari hasil perselingkuhan istrinya dengan laki-laki lain. Gibran benar-benar kagum, bangga dan sangat merindukan sosok Hasan yang sejak saat itu sudah tidak tahu lagi dimana keberadaannya.


Ingatan Gibran sampai pada peristiwa itu, saat terakhir kali mereka bertemu. Ketika itu Hasan berpesan,


“Gibran dengarkan bapak. Suatu saat nanti Gibran harus jadi orang yang hebat dan sukses. Kenapa? Karena Gibran adalah laki-laki. Laki-laki tidak akan ada harganya kalau dia tidak memiliki uang, kedudukan dan kehormatan. Jangan sampai Gibran seperti bapak: miskin dan selalu dihina. Jangan sampai Gibran menjadi orang lemah yang tidak bisa mendapatkan apa yang Gibran inginkan. Gibran harus tangguh dan kuat agar bisa meletakkan semua yang Gibran inginkan dalam genggaman Gibran,” nasehat terakhir Hasan untuk Gibran.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2