Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 10


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 10


“Bapak tidak marah sama ibu?” tanya Gibran, heran, setelah semua yang terjadi Hasan masih tetap bertahan dan tidak meninggalkan ibunya.


“Kita adalah laki-laki. Seorang laki-laki itu harus bisa berdiri kokoh seperti tiang yang akan menjadi sandaran semua orang yang ada di dalamnya. Karena jika tiang itu roboh maka seluruh bangunan yang ada di dalamnya juga pasti akan hancur,” jawab Hasan, menatap mata Gibran.

__ADS_1


Hasan tahu, semua ini terlalu menyakitkan. Dia sudah coba menasehati Ratmi tapi tidak berhasil. Tetapi dia adalah kepala keluarga. Dia harus berusaha mempertahankan rumah tangganya sampai titik akhir dengan keyakinan penuh bahwa suatu saat nanti Ratmi bisa berubah. Jika sekarang dia menyerah, maka seluruh bangunan rumah tangganya pasti akan berantakan. Hasan tidak mau semua itu terjadi. Kunci kelangsungan rumah tangganya ada di tangannya, seorang kepala keluarga. Jika dia menyerah, semua pasti akan hancur. Dia mencoba segala hal untuk bisa menasehati Ratmi dan menghentikan semua kebodohan itu. Walau belum berhasil, setidaknya sekarang dia harus bertahan demi Gibran. Karena jika dia pergi, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada anak sekecil ini yang masa depannya terus dipertanyakan karena terlahir dari hubungan yang tidak sah.


“Gibran sayang bapak...”


“Bapak juga sayang Gibran,”


Hasan dan Gibran pulang dari pasar. Miris, saat itu Juragan Damar sudah duduk di kursi dengan angkuh tanpa sungkan sedikit pun bahwa dia sedang berada di rumah orang lain dan mengincar istri orang. Gibran pun geram melihat hal ini. Dia sangat malu bahkan merasa jijik memiliki ayah seperti itu. Di mata Gibran dan Hasan semua atribut kebesaran Juragan Damar sebagai orang terhormat sudah hancur menjadi debu.


“Sudah pulang? Coba tebak, bapak bawa apa?” Juragan Damar menyerahkan sebuah buku kepada Gibran.


Gibran bersungut-sungut. Dia tidak sudi dianggap anak oleh laki-laki yang sangat dia benci. Gibran ingin marah tapi Hasan buru-buru menahannya. Lalu Ratmi datang, heran melihat Juragan Damar memberikan buku untuk belajar Bahasa Jerman.

__ADS_1


“Bahasa Jerman? Juragan ingin Gibran belajar Bahasa Jerman?” tanya Ratmi.


“Suatu saat nanti aku ingin dia pergi ke Jerman dan mengurus bisnisku di sana,” jawabnya yang menganggap Gibran adalah anak laki-laki pertamanya, kebanggaannya, yang akan mewarisi seluruh harta kekayaannya.


Ratmi tersenyum bahagia melihat Juragan Damar sudah mempersiapkan masa depan Gibran dengan sangat baik. Sebaliknya, Hasan merasa dikecilkan. Dia tidak bisa memberikan apa-apa untuk Gibran. Pria malang itu hanya bisa menunduk, malu atas ketidakberdayaannya. Gibran menatap Hasan lalu menggelengkan kepala seolah berkata agar ayahnya itu tidak mencemaskan apapun karena dia tidak menginginkan semua kekayaan itu. Gibran juga tidak meminta apa-apa dari Hasan, dia hanya ingin selalu bersama ayahnya yang hebat itu.


Beberapa bulan kemudian, hubungan gelap Juragan Damar dan Ratmi mulai menjadi rahasia umum. Semua orang tahu tetapi pura-pura tidak tahu. Mereka bicara dalam diam. Artinya, di depan Juragan Damar mereka menundukkan kepala tetapi di belakangnya mereka menghujat sebagai suami yang jahat. Suami yang tega mengkhianati istrinya yang sakit-sakitan.


Mahesa dan Gibran juga sudah tumbuh menjadi anak usia 12 tahun. Mereka bersekolah di tempat yang sama tapi tidak pernah akur. Mahesa terpengaruh dengan semua berita miring yang mengatakan bahwa ayahnya sudah berselingkuh dengan ibu Gibran. Meski masih anak-anak, dia bisa memahami betapa besar penderitaan ibunya. Dia tidak terima ibunya diperlakukan seperti itu. Setiap kali melihat Gibran, Mahesa selalu mengepalkan tangannya dan mengangkat tinjunya. Beberapa kali gurunya memanggil orang tua mereka karena kasus perkelahian. Jika sudah begitu, Juragan Damar pasti akan memarahi Mahesa karena dianggap sudah berbuat nakal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2