
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 93
“Maksudmu aku harus mengambil alih perusahaan?” tanya Gibran beberapa hari yang lalu.
“Ya, itu dia...”
Gibran diam. Dia merenung. Selama ini dia tidak pernah mau mengakui bahwa dia adalah putra sulung dari Juragan Damar, pegusaha kaya raya dan memiliki segalanya. Dia tidak pernah merasa bangga sebagai anak Juragan Damar karena dia dilahirkan dari hubungan yang menjijikkan. Dia bahkan memutuskan untuk meninggalkan semua harta warisan Juragan Damar karena tidak mau menyentuh apapun milik Juragan Damar dan memilih hidup sebagai gelandangan di stasiun tua.
__ADS_1
Tetapi sekarang semua berubah. Keadaan memaksa Gibran untuk mengubah keputusannya. Mahesa sangat kuat. Dia memiliki banyak uang dan kekuasaan. Sekuat apa pun Gibran melawannya, dia tidak akan bisa mengalahkannya. Baru berdiri di hadapannya saja, para pengawalnya pasti sudah menghadangnya. Hati kecilnya membenarkan Pak Anwar bahwa letak kesombongan dan keangkuhan Mahesa ada pada uang-uangnya, sama seperti Juragan Damar yang merasa bisa mendapatkan segalanya dengan kekayaannya. Untuk menundukkan kesombongan itu, maka dia juga harus bisa mengambil semua kekayaan, kedudukan dan kekuasaannya.
Gibran sempat memikirkan ini beberapa hari hingga akhirnya memutuskan untuk mengambil alih perusahaan. Dia menemui Pak Anwar dan Pak Anwar menunjukkan semua bukti surat wasiat Juragan Damar yang asli yang menyatakan bahwa Gibran memiliki hak lebih banyak daripada Mahesa. Dengan surat wasiat itu, Gibran bisa mengambil alih kepemimpinan perusahaan dan mengendalikan Mahesa di bawah kekuasaannya.
“Aku melakukan ini sebagai seseorang yang setia kepada Juragan Damar. Aku hanya ingin semua harta kekayaannya jatuh ke tangan yang tepat,” ungkap Pak Anwar yang mengungkapkan sikap netralnya. Dia tidak ingin memihak pada Gibran atau Mahesa. Dia ingin memihak pada yang berhak dan bisa dipercaya untuk mengatur semua kekayaan Juragan Damar.
“Bapak percaya padaku?” tanya Gibran.
“Tentu,”
Dimulai dari gedung pertunjukan itu. Dia menggunakan surat wasiat itu untuk menggeser Mahesa sebagai pemimpin utama. Mulai hari itu, semua keputusan atas gedung pertunjukan itu ada di tangan Gibran, suka atau tidak suka. Dia juga berhak membatalkan semua kontrak yang sudah disepakati oleh Mahesa sebelumnya. Dia tidak masalah jika harus membayar ganti rugi hingga sepuluh kali lipat dari harga yang sudah mereka bayarkan. Bagi Gibran tidak masalah uangnya habis karena dia sudah terbiasa hidup miskin. Tetapi Mahesa terlalu mencintai uangnya hingga dia tidak mau tinggal diam melihat bisnisnya rugi hingga miliaran atas pembatalan kontrak yang tidak masuk akal ini.
“Dasar penjilat,” umpat Mahesa menggambarkan Gibran yang menurutnya sudah menjilat ludahnya sendiri. Setelah sebelumnya mengatakan tidak mau mengambil sedikitpun uang peninggalan Juragan Damar, nyatanya hari ini Gibran kembali untuk mengambil semuanya, “Munafik,” imbuh Mahesa, kesal.
“Kamu yang memaksaku melakukan semua ini,”
__ADS_1
“Ini namanya bukan mengurus perusahaan tapi membuat bangkrut perusahaan,”
“Aku tidak peduli,”
“Apa yang kamu tahu tentang bisnis? Kamu tidak tahu apa-apa,”
“Aku memang tidak tahu apa-apa soal bisnis tapi aku sangat tahu apa yang harus aku lakukan,”
“Dasar anak haram,”
“Jangan sebut aku anak haram lagi,” teriak Gibran.
“Pak Anwar, kenapa dia bisa melakukan semua ini?”
Bersambung...
__ADS_1