Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 84


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 84


Aku terlalu mencintainya


Aku tidak tahu kenapa aku sangat mencintainya


Terkadang aku merasa menjadi orang bodoh


Meski banyak hal buruk, aku tetap tidak bisa berhenti mencintainya


Segalanya, meski hanya rasa sakit yang dia berikan

__ADS_1


Aku terima dengan tangan terbuka


Aku anggap itu sebagai hadiah terindah darinya


Ungkap Manira berpuisi di dalam hati mengiringi alunan biolanya yang mengalun lembut. Dia sendiri tidak tahu, meski banyak rasa sakit, dia tetap tidak bisa berhenti mencintai. Dia seperti menjadikan Mahesa jantung baginya yang jika dia meninggalkannya maka dia akan mati. Lebih baik sakit tapi bisa tetap hidup daripada harus kehilangan jantungnya dan mati.


Akhirnya, Gibran melangkahkan kakinya di tempat ini. Sebuah gedung pertunjukan yang super besar dan megah. Ada banyak tamu terhormat datang ke tempat ini dengan gaya glamour mereka. Tidak ada yang berpenampilan sederhana, semua berkelas. Gibran berjalan perlahan menyusuri gedung pertunjukan yang sedang diadakan acara pelelangan sebuah cincin berlian.


Ngiik... ngok...


Terdengar suara biola memainkan nada klasik di gedung pertunjukan itu. Gibran menghentikan langkahnya. Dia merasa sangat yakin bahwa kali ini pasti Manira. Jantungnya berdetak kencang, takut, tegang. Dia tidak sanggup menatap wajah Manira yang penuh luka. Tetapi Gibran tetap harus melakukannya. Perlahan dia menoleh ke belakang dan menemukan seorang perempuan bergaun hitam sedang memainkan biolanya. Perempuan cantik yang seperti boneka yang dipajang di dalam lemari kaca dan dipamerkan. Perempuan berwajah sendu yang sama, yang dia temukan di stasiun tua beberapa waktu yang lalu.


Aku akan terus menunggunya... Sampai dia kembali...


Rasanya seperti mati bunuh diri


Rasanya seperti sekarat antara hidup dan mati

__ADS_1


Kasiku... sayangku... kembalilah padaku


Kasihku... sayangku... aku sangat merindukanmu


Lagu yang sama dengan lagu yang sering Manira mainkan di stasiun tua itu. Dia menunggu dan terus menunggu. Bahkan setelah kekasihnya ada di hadapannya pun Manira masih terus menunggu sampai kekasihnya bisa benar-benar kembali mencintainya seperti dulu. Kesedihan tampak di mata Manira. Dia tidak bahagia tapi tetap bertahan dalam ketidakbahagiaan itu karena dia benar-benar tidak bisa melepaskan kekasihnya.


Air mata Gibran menetes melihat Manira sekarat antara hidup dan mati karena cintanya pada seseorang. Gibran sedih melihat Manira seperti orang yang mati bunuh diri karena membiarkan dirinya tersiksa lagi dan lagi. Hatinya perih tapi tetap tidak bisa berhenti mencintai. Ini lebih dari bodoh. Lebih dari gila. Yang lebih menyedihkan adalah Mahesa memperlakukan Manira seperti pajangan yang dilihati oleh banyak laki-laki dengan mata jahat. Gibran miris melihat Manira seperti barang antik yang sedang dilelang. Siapa yang menawar dengan harga paling tinggi, mereka yang akan mendapatkannya.


Gibran berjalan diantara kerumunan orang yang menyaksikan permainan biola Manira. Di samping Manira masih ada cincin berlihan bernilai ratusan juta yang sejak kemarin sedang di lelang. Beberapa orang mengangkat tangannya dan memberikan penawaran yang tinggi untuk cincin berlian bermata indah itu.


“35.000 Euro,”


“45.000 Euro,”


“60.000 Euro,”


Terdengar suara bersahut-sahutan memperebutkan berlian itu. Gibran semakin sedih. Dia tahu bahwa yang sedang dilelang sesungguhnya bukan cincin berlian itu, melainkan Manira. Dia terus menatap Manira dengan wajah sedih. Perlahan Manira melihat Gibran diantara para peserta lelang. Manira terus memainkan biolanya sambil menatap Gibran dengan tatapan sendu. Air matanya mengalir menggambarkan bahwa dia tidak bahagia. Tetapi dia mencoba tersenyum menyambut kedatangan sahabat terbaiknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2