
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 81
“Aku masih belum lupa setiap tetesan air mata dan rintihan ibuku saat menanti bapak pulang tapi ternyata dia malah bersama selingkuhannya. Aku masih belum lupa di tengah hujan lebat malam itu, saat ibuku harus menerima kenyataan bahwa suaminya tidur dengan wanita lain. Aku tidak pernah lupa saat laki-laki itu membawa kamu dan ibumu datang ke rumah dengan senyum kebahagiaan di atas kematian ibuku,” jawab Mahesa penuh dendam yang masih menyala-nyala.
“Kenapa harus Manira?”
“Karena dia adalah nyawamu. Aku akan menghancurkanmu. Sama seperti ibumu yang tidak aku biarkan hidup dengan tenang, aku pun tidak akan membiarkanmu hidup bahagia. Aku akan menghancurkanmu sehancur-hancurnya sampai kamu menyesal karena sudah dilahirkan ke dunia ini oleh orang tuamu yang menjijikkan,”
Gibran tidak terima ibunya dihina seperti itu. Dia menarik kerah baju Mahesa dan menempelengnya,
__ADS_1
“Jangan hina ibuku,” teriak Gibran.
“Aku juga tidak terima ibuku diperlakukan seperti itu,” bantah Mahesa berusaha melepaskan tangan Gibran dari kerah bajunya.
“Apa yang sudah kamu lakukan pada Manira?” teriak Gibran dengan tatapan marah.
“Segalanya yang bisa membuat kamu sakit dan merana,” jawab Mahesa dengan senyuman licik.
Gibran mengepalkan tangan, menahan marah.
Mahesa tidak bisa menyentuh Gibran dari sisi materi karena memang Gibran tidak punya apa-apa. Mahesa tidak bisa menyewa preman untuk memukuli atau bahkan membunuh Gibran karena dia sendiri sudah mati, sejak kehilangan ibunya. Tapi akan lebih indah jika bisa melihat Gibran menggelepar-gelepar kesakitan melihat kekasihnya menderita.
Dia tahu, Gibran mewarisi sifat ayahnya yang seolah tidak bisa hidup tanpa cinta. Ayahnya bahkan mati merana karena cintanya. Dia ingin melihat hal yang sama pada Gibran. Dia ingin melihat Gibran mati perlahan-lahan menangisi cintanya. Sama seperti ayahnya yang tidak bisa dihancurkan dengan kemiskinan atau kekerasan, Gibran pun akhirnya luluh dan tunduk oleh cinta. Kedua ayah dan anak itu memiliki sifat yang sama yaitu seorang pencinta yang mencintai kekasihnya dengan sangat dalam hingga pada akhirnya keduanya hancur oleh cinta itu sendiri.
“Sekarang kamu bisa merasakan betapa hancurnya perasaan ibuku waktu itu. Sangat pedih dan sakit,” ungkap Mahesa yang tidak hentinya menunjukkan betapa dia ingin membahlas dendam atas semua penderitaan ibunya waktu itu. Dia ingin semua orang yang bertanggung jawab atas keadaan itu menerima akibatnya. Dulu ibu Gibran, ayahnya sendiri dan sekarang giliran Gibran yang harus menderita. Mahesa akan menghancurkan semua orang yang sudah menyakiti ibunya sampai ke akar-akarnya hingga tidak bersisa sama sekali.
__ADS_1
Sebenarnya Gibran hanyalah korban. Mahesa juga korban dari keegoisan orang tua mereka. Sekarang kedua anak malang ini, bahkan kedua saudara itu harus saling bermusuhan sebagai bekas dari riak-riak kepedihan masa lalu yang ditinggalkan oleh orang tua mereka. Rasa marah yang terlalu besar, kekecewaan yang terlalu dalam, pemberontakan yang tidak bisa dikendalikan membuat Mahesa bertekat untuk membalas dendam atas semua kejadian buruk itu seumur hidupnya sampai Gibran benar-benar hancur.
“Tidak cukupkah kamu membunuh ibuku?” teriak Gibran, tidak terima dengan semua kekejaman Mahesa.
“Tidak akan pernah cukup sampai semua orang yang membuat ibuku menderita... mati merana,” jawab Mahesa.
“Dimana Manira?” Gibran menarik kerah baju Mahesa.
“Di suatu tempat yang tidak pernah bisa kamu bayangkan betapa mengerikannya tempat itu,”
“Hey!!!” Gibran memukul Mahesa.
Beberapa pengawal Mahesa langsung datang menghajar Gibran hingga babak belur. Mahesa merapikan jasnya dan menikmati kehancuran Gibran. Dia menikmati setiap pukulan yang dilayangkan anak buahnya kepada Gibran. Dia tampak sangat bahagia menikmati kehancuran saudara tirinya. Mahesa dan anak buahnya meninggalkan Gibran yang sudah tidak berdaya terkapar di pinggir jalan seperti gelandangan.
Bersambung...
__ADS_1