
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 85
Mahesa heran melihat Manira seperti sedang memandangi seseorang hingga terus menatapnya untuk beberapa lama. Lalu Mahesa mengarahkan pandangan ke arah Manira memandang. Dia menemukan Gibran yang wajahnya sudah penuh dengan memar akibat perkelahian kemarin. Beberapa saat kemudian Mahesa dan Gibran saling menatap. Gibran sangat marah, seolah ingin mengutuk Mahesa yang sangat kejam. Meski tidak diucapkan secara jelas, mereka saling tahu apa makna di balik pelelangan ini. Mahesa terus menatap Gibran dengan nada menantang, seolah ingin bertanya, apa yang bisa Gibran lakukan untuk menyelamatkan kekasihnya?
“Manira,” sapa Gibran.
“Gibran???” jawab Manira kaget melihat Gibran bisa ada di tempat ini. Perempuan berhati lembut itu mencoba ceria untuk menutupi kesedihannya.
“Dengarkan aku, pergilah dari sini. Ikut denganku,” ajak Gibran.
“Apa yang kamu katakan? Aku tidak akan pernah meninggalkannya,” jawab Manira dengan mata berkaca.
__ADS_1
“Aku tahu semuanya. Dia tidak mencintaimu,” ucap Gibran menatap Manira.
Manira menangis. Dia tidak bisa menutupi kesedihannya lagi, “Aku sudah menunggunya sekian lama.... mengorbankan segalanya.... tidak sedikit air mata yang aku keluarkan, ada banyak orang yang sudah tersakiti... aku tidak akan membiarkan semuanya sia-sia,” ucapnya, menguatkan diri sendiri agar tidak menyerah.
“Manira dia sudah terlalu banyak menyakitimu,”
“Aku yakin suatu saat nanti dia pasti berubah,”
Cinta itu buta. Sebesar apapun kesalahan orang itu dia akan tetap memaafkannya. Seburuk apapun Mahesa, Manira hanya akan tetap melihat sisi baiknya saja. Cintanya terlalu besar hingga mengalahkan rasa sakitnya. Meski selalu menangis, dia tetap bisa tersenyum di sela-sela air mata itu. Setitik saja senyuman dari Mahesa,walau bohong, dia menganggapnya indah.
“Apa kamu sudah gila?”
“Kenapa kamu bodoh sekali?”
“Ketika kamu mencintai seseorang dengan tulus, kamu tidak akan takut jika dia memukulmu, kamu tidak akan takut jika dia menyakitimu, bahkan kamu tidak akan takut lagi jika dia mengkhianatimu. Satu-satunya hal yang kamu takutkan adalah.... takut berpisah dengannya,” jawab Manira.
Gibran tertegun mendengar keteguhan cinta Manira yang masih kokoh seperti tiang besi yang tidak gentar setelah segala hal buruk yang sudah terjadi.
__ADS_1
“Harus berhenti mencintai agar tidak semakin sakit...” ucap Gibran sambil memegang tangan Manira dan menatapnya.
Manira menatap Gibran dengan mata sendu seakan mengatakan betapa dia sangat ingin melakukannya tapi tetap tidak bisa.
Manira menggelengkan kepala, “Aku tidak bisa,”
“Dia akan menjualmu,” teriak Gibran, meyakinkan.
“Apa?” Manira kaget.
“Fang ihm!!” perintah Mahesa kepada anak buahnya.
Para pengawal Mahesa yang semuanya berseragam rapi itu memisahkan mereka. Orang-orang bertubuh kekar itu membawa Manira pergi. Mereka tidak mengijinkan Gibran bertemu dengan Manira. Manira mencoba bicara pada mereka agar memberinya kesempatan bicara dengan Gibran sebentar saja, tapi orang-orang itu tidak mau mendengarkannya. Mereka bahkan membawa Manira menjauh dari tempat itu.
“Manira!!!” teriak Gibran.
“Kamu mau bertemu dengannya?” tanya Mahesa, “Apa kamu punya uang?” lanjut Mahesa yang tiba-tiba muncul menghadang Gibran. Dia tersenyum puas melihat Gibran hancur karena merindukan kekasihnya.
__ADS_1
Gibran hanya menatap Mahesa dengan tatapan marah sambil mengepalkan tangannya.
Bersambung...