Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 83


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 83


“Mmmmm...” Manira menghapus air matanya. Dia bingung harus memberi alasan apa. “Aku akan keluar,” Manira berdiri dan bergegas kembali ke ruang pertunjukan sebelum Mahesa marah.


“Tunggu,” Mahesa menarik tangan Manira. “Memainkan biolanya seperti biasa,”

__ADS_1


“Lagi?” Manira kaget.


“Kenapa? Ada masalah?”


“Mahesa, aku tidak nyaman dengan cara mereka memandangiku. Mereka melihatku seperti melihat wanita penghibur dengan fantasi-fantasi kotor mereka,” keluh Manira yang mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan para lelaki yang melihatinya dengan tatapan nakal seolah ingin bermalam dengannya. Kadang Manira merasa seperti wanita murahan yang sedang menawarkan dirinya di depan para tamu Mahesa.


“Jangan berlebihan. Mereka teman-temanku dan mereka terhormat....” Mahesa mulai kesal dengan sikap membangkang Manira. “Lagi pula hanya bermain biola, apa salahnya?”


Pok!!!!!


Mahesa mulai berani memukul Manira. Pertengkaran mereka atau lebih tepatnya rasa arogansi Mahesa yang tidak pernah mau dibantah membuatnya memilih menyelesaikan masalah dengan cara memukul istrinya sendiri. Baginya itu adalah cara paling ampuh untuk menutup mulut seseorang yang terlalu banyak bicara. Sekali lagi Manira dibuat tidak percaya dengan sikap asli Mahesa yang ternyata sangat mengerikan.

__ADS_1


“Kamu pikir kamu pantas menjadi istriku?” tanya Mahesa yang akhirnya membahas kesenjangan sosial dan latar belakang mereka yang sangat jauh berbeda. Manira hanya gadis kampung biasa sementara Mahesa punya segalanya dengan segala kehidupan mewahnya.


“Mahesa...” Manira tidak percaya Mahesa mengungkit hal ini.


Manira tersinggung dengan ucapan Mahesa. Dia merasa bahwa Mahesa menyesal sudah menikahinya. Saat itu, Manira merasa bahwa dia tidak memiliki arti apa-apa di hadapan Mahesa. Dia seperti perempuan bodoh dari kampung yang bermimpi menjadi ratu di istana raja. Manira merasa harga dirinya sedang dipermainkan. Dia merasa terhina, merasa menjadi seseorang yang tidak memiliki harga diri di hadapan suaminya sendiri. Walau tidak secara jelas, sepertinya Mahesa mulai menunjukkan derajatnya sebagai orang hebat dan menganggap Manira hanya seperti lukisan kecil yang di pajang di salah satu dinding rumahnya.


“Satu-satunya yang kamu miliki adalah kecantikanmu dan kepandaianmu bermain biola. Hanya itu yang bisa kamu lakukan untukku jadi lakukanlah dengan baik dan buat mereka senang,” pungkas Mahesa.


Manira tidak punya pilihan lain. Dengan hati perih, dia kembali duduk di depan para tamu dan memainkan biolanya. Hatinya sangat sakit, bingung memikirkan tentang benarkah ini pria yang sangat dia cintai? Seorang pria yang ternyata tidak sebaik yang dia bayangkan tapi tetap, dia tidak bisa berhenti mencintainya. Perlahan air matanya mengalir, bukan karena lagu yang dia mainkan adalah lagu sendu tapi karena menangisi dirinya sendiri yang tidak pernah bisa berhenti mencintai Mahesa hingga detik ini. Menangisi bahwa sudah terlalu banyak hal yang dia korbankan bahkan sampai harus melawan orang tuanya dan menyakiti banyak orang tapi ternyata semua seperti tidak ada artinya sama sekali.


Di satu hatinya memberontak, di sisi lain dia tetap tidak bisa kehilangan. Seluruh hidupnya berubah. Dia merasa seperti boneka yang dikendalikan oleh Mahesa. Dia tidak menjadi dirinya sendiri. Kebahagiaan yang dia impikan selama ini, ternyata tidak seindah yang dia bayangkan. Dia seperti seseorang yang sudah mati dan meninggalkan jasadnya di tempat ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2