
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 46
Gibran diam sejenak, menatap Manira. Manira mulai takut melihat tatapan Gibran yang sangat tajam.
__ADS_1
“Saat ini kamu masih hidup dalam fantasi-fantasimu sendiri yang berharap bahwa suatu saat nanti kekasihmu akan kembali. Tapi suatu saat nanti kalau kamu melihat kekasihmu bersama wanita lain, aku yakin keadaanmu pasti tidak akan jauh berbeda denganku, gila,” jawab Gibran.
Cinta yang sama. Cinta yang sangat besar yang Gibran tangkap di mata Manira untuk kekasihnya sama dengan cinta yang dia lihat dari mata Juragan Damar yang akhirnya lukanya pun juga akan sangat dalam. Saking dalamnya sampai tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri hingga akhirnya mati merana. Gibran khawatir, mungkin akan seperti itulah nasib Manira kelak. Terlalu mencintai lalu terlalu terluka hingga kemudian mati merana.
Ajaib bukan? Cinta adalah kata sederhana tetapi bisa menjadi racun yang luar biasa yang bisa menghancurkan semua orang yang ada di dalamnya. Cinta, adalah sebuah perasaan mengerikan yang bisa membunuh seseorang meski tanpa pisau.
Kasihan... adalah satu kata yang Gibran sematkan untuk Manira. Marah, adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan beberapa orang lainnya terhadap Manira. Tetapi Manira hanya mengukuhkan satu kata untuk dirinya sendiri, yaitu “bertahan”. Bertahan untuk cintanya dan kesetiaannya tanpa mempedulikan kekacauan apapun yang terjadi di sekitarnya.
Tidak, bukan tidak peduli, dia hanya terlalu mencintai hingga tidak bisa menggantikannya dengan siapapun, apapun alasannya. Bahkan jika jalan yang dia pilih adalah salah, dia putuskan akan mandi di dalam duka itu. Bukan pula keras kepala atau bodoh. Dia hanya sangat mencintai satu orang dan tidak akan pernah bisa mencintai yang lainnya lagi.
__ADS_1
Masalahnya adalah, semua orang terlalu menghakiminya. Semua orang menggunakan kaca mata yang berbeda dalam menatap dirinya yang ***** di dalam cintanya yang perih. Itulah sebabnya, kenapa sering terjadi banyak konflik. Karena mereka menggunakan sudut pandang yang berbeda dan tidak bisa saling disatukan. Kecuali jika ada salah satu yang mengalah. Tapi sampai detik ini, Manira masih berdiri di atas lintasannya. Begitu juga dengan abah dan emak dan beberapa orang lainnya yang masih menganggap Manira salah, bodoh dan kejam.
Salah karena sudah mengabaikan semua orang termasuk abah dan emak. Bodoh karena mengukuhkan diri menunggu satu orang tanpa kepastian yang jelas. Dan kejam karena sesuatu yang dia anggap sebagai cinta, keteguhan dan kesetiaannya ini, sudah melukai banyak orang. Tapi satu hal yang Manira ingin tekankan adalah bahwa dia juga terluka. Bukan ini yang dia inginkan. Tidak pernah sedikit pun terbersit di dalam hatinya untuk melukai, menyakiti atau mengecewakan siapapun.
Dia tahu sudah mengecewakan banyak orang. Dia hanya berharap semua orang bisa memahaminya dan berhenti memperdebatkan sesuatu yang jawabannya sudah Manira kunci dalam bentuk kesetiaan yang tidak akan pernah tergantikan.
Bersambung...
__ADS_1