
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 97
Gibran menayangkan rekaman video Manira yang penuh ketakutan saat masuk ke dalam sebuah kamar hotel sambil membawa kotak hitam berisi perhiasan yang dijadikan alasan oleh Mahesa untuk mengirim Manira ke kamar itu. Lalu teriakan pilu Manira yang meminta tolong waktu itu hingga akhirnya pintu kamar hotel itu tertutup dan tidak ada yang berani membayangkan apa yang terjadi di dalamnya. Keesokan paginya, yang bisa orang temukan dari Manira hanyalah seorang perempuan yang depresi yang melampiaskan kesedihannya melalui permainan biolanya yang menyayat hati hingga tanpa sadar dia berjalan di balkon hotel yang tinggi dan akhirnya....
__ADS_1
Brokkkk!!!!
Sebuah video amatir di putar di atas pentas. Video yang tanpa sengaja direkam oleh seseorang saat Manira jatuh dari lantai 5 sebuah kamar hotel. Manira terkapar di atas mobil putih hingga bagian atas mobil itu ringsek dan seluruh kacanya pecah. Perempuan bergaun hitam itu tergeletak, menutup matanya dengan tangan masih memegang biolanya dengan erat. Selama ini, hanya biola itulah yang menjadi sahabat sejatinya, yang menemani seluruh penantiannya, keteguhannya untuk mencintai satu orang saja, kesabarannya saat dikhianati dan disakiti hingga akhirnya mati pun bersama biola indah itu. Bersama rekaman video itu terselip puisi Manira untuk kekasihnya.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak pernah bisa berhenti mencintainya
Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menggantikannya dengan siapa pun
Rasanya seperti sekarat antara hidup dan mati
__ADS_1
Semua penonton berdiri dan memberi tepuk tangan meriah atas kesuksesan drama yang berhasil menguras emosi dan air mata penonton. Mereka ikut sedih, menangis, mengenang kisah Manira yang harus mengalami kisah tragis karena terlalu mencintai seseorang. Drama yang memiliki kekuatan cinta luar biasa yang dibalut dengan kepiluan itu berhasil menarik hati penonton untuk ikut larut di dalamnya. Hingga beberapa detik, para penonton masih berdiri di sana, menatap Manira yang terkapar di atas mobil berwarna putih, antara takjup, sedih, kasihan dan semuanya. Mereka tidak menyangka bahwa di dunia ini ada seseorang yang bisa mencintai orang lain setulus itu hingga menghancurkan dirinya sendiri.
Setelah drama itu selesai, semua penonton berjalan satu persatu memberikan mawar putih di depan foto Manira yang di pajang di atas panggung, sebagai penghormatan dan bentuk simpati penonton atas kisah tragis Manira. Gibran tetap berdiri di depan tempat duduknya, sampai semua penonton meninggalkan gedung pertunjukan itu. Dia terus menatap foto Manira yang sedang memainkan biolanya dengan gaun hitam yang indah dan wajahnya yang sendu, karena hanya itu yang bisa Gibran lakukan.
Sejak hari itu, kisah “Manira” menjadi sebuah kisah cinta yang besar dan cukup menarik simpati masyarakat. “Manira” dianggap sebagai salah satu kisah cinta paling fenomenal tahun itu. Bukan hanya di Frankfurt tapi seluruh dunia, membicarakannya. Beberapa seniman dari negara lain bahkan sudah ada yang menemui Gibran dan meminta ijin agar drama itu bisa dipentaskan di luar Frankfurt dan dialihbahasakan ke beberapa bahasa berbeda di seluruh dunia.
Masyarakat juga mulai membicaraan ketulusan dan kesetiaan Manira terhadap kekasihnya. Mereka salut, bangga dan kagum melihat keteguhan hatinya yang tidak pernah berhenti mencintai meski kekasihnya selalu menyakitinya. Sebaliknya, mereka mulai mengutuk perbuatan kekasih Manira yang dianggap sebagai manusia berhati iblis yang tega melelang istrinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung....