
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 28
Seluruh hariku aku habiskan untuk menunggumu
Seluruh nafasku aku hembuskan untuk menantikanmu
Seluruh jiwaku selalu memanggil namamu
Tidak ada yang lebih menyakitkan selain merindukanmu
__ADS_1
Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa berhenti mencintaimu
Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menggantikanmu dengan yang lain
Rasanya seperti mati bunuh diri
Rasanya seperti sekarat antara hidup dan mati
Kasihku... sayangku... kembalilah kepadaku
Kurang lebih seperti itulah isi lagu yang dimainkan oleh perempuan itu. Gibran seperti bisa merasakan kehampaannya yang sedang menantikan seseorang. Dia bisa merasakan betapa sakitnya dan sedihnya suatu penantian. Perasaannya terbawa oleh lantunan biola itu hingga tanpa sadar matanya pun berkaca.
Perlahan Gibran mengayunkan langkahnya, mendekati perempuan cantik itu. Semakin lama, sayatan biolanya semakin menyakitkan, semakin mengeluarkan rindu-rindu yang telah lama terpendam, semakin terasa sakitnya sebuah penantian. Hal itu membuat Gibran mengingat masa kecilnya bersama Ratmi dan Hasan. Mereka memancing bersama, bermain bola bersama, berjualan ikan bersama, makan bersama dan semuanya. Gibran menangis mengenang semua masa lalu yang sudah tidak mungkin bisa kembali lagi.
Setelah berdiri cukup lama di depan perempuan itu, akhirnya perempuan berambut coklat itu menghentikan permainan biolanya. Dia membuka matanya dan menatap lurus ke depan. Ke arah sebuah gerbong tua yang baru saja berhenti di hadapannya. Tatapan yang penuh dengan pengharapan bahwa seseorang akan datang bersama gerbong itu. Tetapi kemudian tatapan penuh dengan harapan itu berubah menjadi kekecewaan setelah semua orang di dalam gerbong itu habis dan masinis membawa pergi keretanya.
__ADS_1
“Sedang menunggu seseorang???” tanya Gibran yang sejak tadi memperhatikan perempuan itu.
Perempuan itu hanya menatap Gibran sebentar, lalu pergi meninggalkannya.
“Kekasihmu tidak datang???” teriak Gibran sekali lagi.
Perempuan itu terkejut mendengar teriakan Gibran, seolah Gibran bisa membaca isi hatinya.
“Sudah 18 tahun kamu melakukan hal ini,” lanjut Gibran.
Sejak 18 tahun yang lalu Gibran melihat perempuan yang sama, duduk di kursi yang sama, memainkan biola yang sama, menyuarakan kerinduan yang sama. Harapan yang sama, penantian yang sama dan kekecewaan yang sama. Tetapi baru kali ini, sepertinya kerinduan itu benar-benar tidak tertahan lagi hingga sayatan biola itu pun bisa membangunkan hati Gibran yang telah mati. Gibran penasaran, apa yang membuat perempuan itu begitu merindukan kekasihnya?
Dari salah seorang petugas kebersihan di stasiun itu, Gibran akhirnya tahu siapa nama perempuan cantik yang datang dari keluarga berada itu. Dari pakaiannya yang selalu harum, rambutnya yang rapi dan matanya yang indah, bisa ditebak bahwa dia datang dari keluarga kaya. Tetapi wajahnya suram karena menantikan seseorang selama belasan tahun, tanpa kabar kepastian.
Manira, nama perempuan itu. Putri salah satu orang terkaya dan terpandang di kota ini. Hampir semua orang mengenalnya berkat popularitas keluarganya yang kaya dan sukses. Begitu pula dengan kisah cintanya dengan seorang pemuda yang beberapa tahun yang lalu terpisah di stasiun ini. Hampir semua penduduk asli kota ini mendengar kisah dimana Manira kecil harus melepas kekasihnya yang juga masih anak-anak di stasiun ini dengan janji bahwa dia akan kembali. Bisa dibilang bahwa kisah cinta mereka adalah kisah cinta masa kecil –kisah cinta anak usia 12 tahun– yang masih Manira jaga sampai sekarang.
__ADS_1
Bersambung...