
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 67
“Ada apa?” tanya Gibran, berdiri di depan Manira seolah bisa merasakan bahwa Manira sedang dalam masalah besar.
“Abah sudah pergi,” Manira menangis, sedih. Dia sangat menyesal karena abah meninggal sebelum dia bisa mewujudkan keinginan terakhir abah yaitu menikah.
“Aku turut berduka,” ucap Gibran sambil memeluk Manira.
__ADS_1
“Dasar anak durhaka! Kalau kamu mau menuruti keinginan abah, semua tidak akan seperti ini,” samar terdengar suara emak yang sempat memaki dan menyalahkan Manira atas kejadian ini.
“Aku ini.... jahat kan,” Manira menyalahkan dirinya sendiri. “Kenapa aku tidak bisa berhenti mencintainya?” Manira sendiri menyesalkan kenapa dia tidak bisa memindah hatinya untuk orang lain.
“Tidak ada manusia yang sempurna. Yang adalah adalah semua selalu berusaha menjadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Kamu juga sedang berusaha melakukannya...” jawab Gibran menghibur Manira.
“Aku hanya ingin menjadi orang yang baik. Aku ingin semuanya bahagia. Kenapa sulit sekali? Kenapa justru banyak sekali orang yang tersakiti???” Manira tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja,”
Aku tidak ingin menjadi lebah yang menyengat
Aku tidak ingin menjadi ular yang berbisa
__ADS_1
Aku tidak ingin menjadi pisau yang bisa melukai
Aku hanya ingin menjadi bunga yang memberi keharuman
Manira menangis dalam pelukan Gibran. Diam-diam Gibran salut, kagum dengan kesetiaan Manira kepada kekasihnya yang membuatnya mengabaikan segalanya selain hanya menunggu satu orang. Sedikit banyak, Gibran mulai percaya bahwa kesetiaan itu masih ada, ketulusan itu masih ada. Paling tidak, anggapannya tentang pengkhianatan seperti yang pernah dilakukan Juragan Damar dan ibunya, tidak sepenuhnya benar. Masih ada orang-orang tertentu di dunia ini yang memiliki perasaan yang tulus yang tidak tergantikan oleh siapa pun seperti Manira.
Tutttt..... jenggg.... jizzzzzz.... jenggg...... jizz....
Kereta jam sembilan malam datang. Gemuruh suara kereta yang kencang dengan getaran yang cukup terasa di stasiun, disambut Manira dengan penuh ketakutan. Sorot lampu kereta yang tajam menyilaukan mata Manira. Untuk pertama kalinya, Manira berharap kereta tidak segera datang. Untuk pertama kalinya dia berharap kereta malam ini akan datang terlambat sampai besok pagi. Karena dia takut bahwa setelah malam ini, dia akan kehilangan cintanya untuk selamanya. Dia sudah memutuskan jika malam ini kekasihnya tidak datang, dia akan berhenti menantikannya. Walau berat, dia akan menjalaninya. Menikah dengan Imam mungkin yang terbaik karena itu adalah keinginan terakhir abah yang menjadi wasiat baginya setelah abah pergi untuk selamanya.
Jezzzz..... terdengar rem kereta. Kereta tua berwarna hitam berhenti tepat di depan Manira. Gibran juga melihat ke arah kereta. Dia pun penasaran apakah kali ini kekasih Manira akan benar-benar muncul? Puluhan penumpang turun, berhamburan berpeluk tangis dengan keluarga masing-masing yang telah lama tidak bertemu. Ada tawa renyah anak kecil yang digendeng ayahnya yang baru saja datang dari luar kota. Ada senyum kebahagiaan. Semua riuh dengan kesibukan mereka masing-masing. Ada tawa, ada pula tangis bagi mereka yang melepas kekasihnya untuk pergi bersama kereta itu, malam ini.
Tidak jauh dari Manira ada sepasang kekasih yang juga sedang mengulurkan tangan mereka satu sama lain. Pemuda itu mengulurkan tangannya dari atas kereta sementara kekasihnya berdiri di luar kereta dengan wajah sendu. Sebuah perpisahan yang tidak akan pernah ada yang tahu apakah akan dipertemukan kembali atau tidak. Melihat mereka, membuat Manira miris, mengingat kepergian kekasihnya dengan cara yang sama beberapa tahun yang lalu. Pergi meninggalkan janji untuk kembali yang memerangkap Manira dalam kehidupan yang penuh dengan penantian yang hingga kini masih selalu Manira nantikan.
__ADS_1
Bersambung...