Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 60


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 60

__ADS_1


“Apa rencanamu?” tanya Pak Arman mulai tertarik dengan ide yang akan Gibran sampaikan.


“Sesuatu yang bisa menarik orang untuk datang ke tempat ini seperti.... resort. Tempat yang tenang, jauh dari kebisingan kota, di kelilingi dengan tanaman cemara di sepanjang jalan dari kota menuju tempat ini,” Gibran menjelaskan.


Pak Arman baru menyadari bahwa di kanan kiri jalan memang dikelilingi pohon cemara yang indah. Hanya saja saat ini sedang musim kemarau jadi agak layu. Tapi jika musim hujan tiba, pasti akan tampak hijau dan rindang. Ini bisa dijadikan nilai plus untuk membuat seseorang rehat sejenak dari perjalanan jauh mereka. Tidak jauh dari mereka ada sebuah keluarga yang menghentikan mobilnya, menggelar tikar di pinggir jalan sekedar melepaskan penat dari perjalanan jauh sembari menikmati hutan cemara yang indah. Pak Arman mulai berpikir bahwa benar saran Gibran, kenapa mereka tidak membangun tempat istirahat untuk mereka???


“Kalau aku punya uang...” Gibran menyampaikan gagasan-gagasannya, “Aku akan membangun sebuah hotel sekaligus tempat rekreasi. Di sana,” Gibran menunjuk ke sebelah kanan. Ada sebidang tanah yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya. “Aku akan membangun sebuah hotel bergaya Eropa. Ini cocok dengan pemandangan sepanjang jalan menuju tempat ini yang dipenuhi dengan pohon cemara. Lalu di sana,” Gibran menunjuk bergeser ke sebelah barat dari wacana hotel itu, “Aku akan membangun sebuah lapangan golf, sebuah tempat rekreasi yang mahal yang hanya orang-orang nomor satulah yang akan datang ke tempat ini. Orang-orang seperti itu tidak akan lagi memikirkan soal mahal atau tidak mahal. Yang mereka inginkan hanyalah liburan berkelas di tempat yang berkelas,”

__ADS_1


“Lalu di sana.... ada sebuah air terjun yang bermuara di danau kecil tapi indah. Airnya sangat jernih. Aku akan menjadikannya sebagai tempat hiburan sekaligus tempat berenang tanpa harus membangun kolam. Dan ini.... terowongan tua ini.... akan menjadi semacam destinasi kota tua yang bisa sesekali mencerahkan mata pengunjung jika ingin mendapatkan suasana klasik yang tidak bisa mereka temui di kota besar,” Gibran menjelaskan panjang lebar.


“Jika Bapak mengambil gagasan ini dan tidak melihat tanah ini sebagai tanah kosong yang mati, Bapak pasti bisa melihat tambang emas dimana-mana,” imbuh Gibran.


Manira terpanah melihat Gibran yang kelihatannya gila, ternyata memiliki otak cemerlang. Sebuah gagasan muncul dari kepalanya yang belum tentu terpikirkan oleh orang-orang waras dengan titel sarjana. Dia melejit jauh dari penampilannya. Gibran membuktikan bahwa dia bukan manusia biasa. Otaknya penuh dengan emas.


Dia memiliki bakat berbisnis yang sangat bagus. Meski tidak mengenyam pendidikan tinggi tapi dia tahu lebih banyak tentang bisnis dibanding orang yang punya IQ tinggi. Mungkin, ini adalah salah satu bukti bahwa darah Juragan Damar memang mengalir dalam tubuhnya, seorang pengusaha hebat yang bisa menguasai perdagangan di Kampung Nelayan dan bahkan sudah melebarkan sayapnya ke bisnis berlian di Eropa. Sekarang, Gibran seolah membuktikan bahwa dia bisa menguasai bisnis penjualan tanah hanya dengan gagasan-gagasannya yang dia sampaikan kepada orang lain yang bersedia membeli atau membiayai idenya. Kelihatannya hanya khayalan masa depan, tapi bagi seseorang yang bisa melihat potensi besar dari setiap gagasan Gibran pasti bisa melihat bahwa kesuksesan akan ada di depan mata.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2