Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 39


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 39


“Hanya cinta masa kecil... apa yang bisa diharapkan? Apa kamu pikir dia juga menganggap itu sebagai sesuatu yang serius?”


“Aku tidak peduli. Aku hanya sangat mencintainya, itu saja,”


“Kalau kamu dengan dia sudah menikah, aku bisa terima. Itu adalah kesetiaan seorang istri untuk suaminya. Tapi kalian belum menikah. Penantianmu dan kesetiaan yang selalu kamu dengungkan dan kamu tunjukkan kepada semua orang adalah sebuah kebodohan dan ketololan,” umpat Imam, menyuarakan kekecewaannya atas penolakan Manira.

__ADS_1


Sebagai laki-laki dia merasa kecewa dan terhina saat lamarannya ditolak oleh seorang perempuan. Dia menilai perempuan itu sangat sombong sehingga menganggap seakan-akan dia tidak layak untuknya. Seorang perempuan yang angkuh dan hatinya sekeras batu hingga tidak bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain. Dia tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan keangkuhan Manira yang terlalu mencintai seseorang hingga tidak tergantikan oleh siapa pun.


Imam tidak bisa mencegah Manira lagi. Dia benar-benar masuk ke ruang tamu dan menyampaikan keputusannya di hadapan kedua belah keluarga yang sedang berbincang hangat, berharap bahwa anak-anak mereka bisa dipersatukan dalam pernikahan. Abah dan emak tampak tersenyum bahagia karena satu lamaran untuk Manira sudah datang. Lamaran itu disambut baik oleh abah dan emak. Karena sebelumnya kedua keluarga memang sudah lama saling kenal sehingga tidak ada keraguan satu sama lain untuk menyatukan anak-anak mereka.


“Maaf, tapi.... aku sudah memutuskan kalau aku tidak mau menikah,” ucap Manira dengan sangat tegas tanpa keraguan sedikit pun. Dia tahu segala resiko yang akan dia hadapi termasuk kemarahan abah dan emak.


“Manira!!!” bentak abah, marah.


Orang tua Imam sangat terkejut. Penolakan ini serasa seperti penghinaan yang sangat memalukan, terkesan seperti mempermainkan harga diri mereka. Niat baik mereka melamar Manira seolah dilepeh oleh Manira seperti membuang bekas permen karet. Mereka syok, tidak menyangka kalau dalam hidup, mereka akan dipermalukan seperti ini. Imam sendiri tidak tahu bagaimana mengendalikan masalah ini. Dia bingung, apa yang harus dia lakukan untuk meredam ketegangan ini.


“Bapak.... bapak... sepertinya ini hanya salah faham,” Imam mencoba meredam kemarahan orang tuanya.


“Maaf.... Pak Kadir.... Ibu Rosida, sepertinya Manira salah bicara, iyakan? Manira...” ucap emak mencari alasan agar orang tua Imam tidak kecewa.

__ADS_1


“Tidak, aku serius. Aku minta maaf... karena semuanya harus seperti ini,”


“Semua sudah jelas. Mak, sebelumnya kami tidak pernah dipermalukan seperti ini,” sahut ibu Imam sangat kecewa.


“Bu... tolong Ibu Rosida jangan tersinggung...” emak mencoba menjelaskan.


“Kalau tahu begini, kami tidak akan pernah datang ke sini dan mempermalukan diri kami sendiri,” ungkap ayah Imam.


“Pak... bapak...” Imam mencoba menjelaskan.


“Sudah, ayo kita pulang Buk, dasar keluarga tidak beradap. Di datangi tamu bukannya disambut baik malah dipermalukan seperti ini. Masih banyak perempuan lain di luar sana yang lebih cantik dan lebih baik dari Manira,” ayah Imam sangat kecewa, seakan tidak akan pernah melupakan kejadian ini seumur hidupnya.


“Pak.... tolong Bapak Kadir jangan pulang dulu,” emak mencoba menahan.

__ADS_1


“Kita pulang Pak, semoga suatu saat nanti Manira kena karmanya karena sudah berani mempermainkan orang tua seperti ini. Jangan mentang-mentang cantik lalu bisa bersikap angkuh seperti ini. Tuhan tidak tidur dan karma akan berlaku,” sumpah serapah ibu Imam mengolok-olok Manira.


Bersambung....


__ADS_2