
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 56
Manira berjalan ke salah satu sudut jembatan. Dia menatap sebuah tanah kosong di samping jembatan itu. Sebuah tanah yang ditumbuhi ilalang yang mulai mengering. Beberapa meter di sampingnya ada danau yang kecil tapi airnya sangat jernih. Letaknya agak jauh dari jalan raya yang menghubungkannya dengan jembatan ini. Beberapa pohon cemara bahkan membuat tanah gersang itu seperti tidak terlihat. Dari kejauhan hanya seperti hutan kosong, tidak berpenghuni.
__ADS_1
“Kamu lihat itu?” ucap Manira menunjuk tanah kosong yang ditumbuhi tanaman liar.
Gibran melihat ke arah tanah kosong yang juga dilalui air terjun kecil tetapi indah. Sayangnya letaknya tersembunyi hingga tidak banyak dikunjungi orang. Ditambah lagi tumbuhan liar di kanan kirinya dan terowongan tua yang punggungnya sedang mereka injak ini, cukup membuat orang merasa ngeri jika harus berkunjung ke tempat itu.
“Sudah sepuluh tahun tanah itu dipasang plang ‘DIJUAL’, tapi sampai sekarang belum ada yang membelinya. Kalau kamu bisa membantu aku menjual tanah itu, aku akan memberimu komisi yang besar,” ungkap Manira menawarkan tantangan pada Gibran. Gibran bilang, jika hanya melakukan sesuatu yang kecil maka hasilnya juga pasti akan kecil. Kali ini, Manira menawarkannya pekerjaan besar dan tidak mudah. Kalau Gibran bisa melakukannya dengan baik, keuntungan yang dia dapat juga pasti tidak sedikit.
Gibran diam sejenak. Keragu-raguan mulai menyusup dalam jiwanya lagi. Sesekali rasa tidak percaya diri itu muncul kembali yang membuat langkahnya kembali ciut. Dia tidak yakin apakah orang gila seperti dia bisa melakukan pekerjaan sebesar ini. Dia menatap rel kereta di bawah jembatan itu, bingung, gelisah memikirkan apakah dia akan mengambil pekerjaan ini atau tidak.
“Apa yang tidak dimulai hari ini, tidak akan pernah selesai besok,” ucap Manira menyemangati Gibran yang mengisyaratkan jika dia tidak mulai bergerak hari ini, maka tidak akan ada perubahan apa-apa pada dirinya. Semakin menunda akan semakin jauh dari keberhasilan. Gibran tidak boleh berhenti, tidak boleh menyerah karena ketakutan-ketakutannya sendiri, karena keragu-raguannya sendiri yang sudah membunuhnya sebelum dia memulai sesuatu.
__ADS_1
Gibran tampak memikirkan semuanya dengan serius. Dia mencoba menghancurkan keragu-raguannya sendiri. Dia mencoba membangun kembali semangatnya dan kepercayaan dirinya. Dia mengepalkan tangan, memaksa dirinya sendiri untuk mau bergerak maju.
“Kamu yakin aku bisa melakukannya?” tanya Gibran.
“Keragu-raguan hanya bisa dihilangkan dengan melakukan tindakan. Jika kamu tidak melakukan apa-apa selamanya kamu akan merasa ragu dan takut untuk melakukan sesuatu. Seorang pelatih terjun payung pernah mengatakan, bahwa terjunnya itu sendiri tidak menakutkan. Yang menakutkan adalah menanti dan menunggu waktu penerjunan. Tidak ada jalan lain selain mencobanya atau kamu akan terus merasa ragu dan ketakutan seperti ini,”
“Untuk pertama kalinya.... aku ingin melanjutkan hidupku,” jawab Gibran bahwa dia benar-benar sudah menemukan alasan untuk hidup dan dia ingin segera bangkit dari keterpurukannya tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia masih ragu.
Sejenak ingin melangkah maju, sejenak kemudian keraguan menggelayut.
__ADS_1
Bersambung....