
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 40
__ADS_1
Manira hanya diam, menahan tangisnya karena sedih dihina dan dimaki-maki oleh orang tua Imam. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia juga sakit melihat orang tuanya harus dihina seperti ini, tapi dia benar-benar tidak bisa berpura-pura.
“Bah, abahkan orang terhormat dan dituakan di kampung ini. Sebaiknya abah didik anak perempuan abah dengan baik agar bisa bersikap sopan pada orang yang lebih tua,” pungkas ayah Iman seolah menghina abah yang tidak bisa mendidik Manira dengan baik.
“Pak.... bapak jangan begitu...” Imam mencoba menahan orang tuanya tapi mereka tidak mau dengar. Kedua orang tua Imam meninggalkan rumah Manira dengan perasaan kecewa dan penilaian yang sangat buruk terhadap keluarga abah.
Abah hanya diam, menunduk, menangis, sedih, tidak berani mengangkat wajahnya, tidak berani menatap orang tua Imam apalagi sampai melihat wajah mereka. Abah bahkan sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi saking malunya atas sikap Manira. Ini bukan pertama kalinya. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi dan kali ini abah benar-benar sudah lelah.
__ADS_1
Manira menangis, sedih. Sekali lagi dia harus dihadapkan pada situasi sulit seperti ini. Berkali-kali dia katakan bahwa dia tidak mau menikah selain dengan orang yang dia cintai. Tetapi semua orang seakan tidak mendengarnya. Mereka terus saja menjodohkan Manira dengan pemuda A,B, C dan semuanya harus berakhir seperti ini.
“Ini sudah lamaran yang kesepuluh. Mau sampai kapan kowe koyo ngene?” keluh emak, kecewa dengan keputusan Manira. “Hati-hati ndok, jangan sampai nanti kamu kuwalat. Semua laki-laki yang melamarmu sudah kamu tolak. Kalau suatu saat nanti kamu tidak laku menikah dan menjadi perawan tua, jangan salahkan emak sama abah. Karena semua ini karma dari dosa-dosamu sendiri,” emak sesumbar seakan mengutuk Manira yang sudah menutup rapat semua pintu hatinya untuk pria lain selain untuk kekasihnya.
Hati Manira miris, air matanya tumpah. Dia sakit, kecewa dan sesak mendengar umpatan emak. Dia sedih karena tidak ada satu orang pun yang bisa memahami perasaannya. Bahkan emak, seseorang yang seharusnya paling mengerti dan memahaminya pun tidak bisa melakukan hal itu. Manira sedih. Dia merasa sendiri.
“Apa pernikahan hanya didasarkan pada ketampanan saja? Kalau tampan menikah, kalau jelek ditolak?” jawab Manira, berani membantah emak dengan nada kasar.
__ADS_1
Dia sudah lelah mendengar makian semua orang yang terus saja menyalahkannya. Dia kecewa karena semua orang menganggap menikah hanya sebatas soal tampang saja. Mereka mengatakan bahwa setidaknya Manira harus melihat wajah mereka dulu. Lalu Manira berpikir apakah tampang bisa menjadi ukuran seseorang harus menikah dengan siapa dan harus tidak menikah dengan siapa. Apa jika wajahnya tampan lalu bisa dinikahi tapi jika jelek tidak jadi dinikahi. Bukankah ini tidak adil bagi mereka yang memiliki wajah pas-pasan? Sedangkan tidak seorang pun bisa memilih dia akan dilahirkan dengan berkulit bersih atau gelap, tidak ada seorang pun yang bisa memilih dia ingin dilahirkan tampan atau buruk rupa. Kenapa dangkal sekali pemikiran semua orang? Bukankah cinta itu harusnya didasarkan pada hati?
Bersambung....