
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
__ADS_1
Episode 11
Entah karena kehidupannya yang miskin atau karena Gibran adalah anak yang terlahir dari rahim perempuan yang dia cintai, rasa sayang Juragan Damar jauh lebih besar kepada Gibran daripada kepada Mahesa, anak sahnya. Sedikit demi sedikit perlakuan tidak adil Juragan Damar, membuat Mahesa menyimpan dendam kepada Gibran. Bukan hanya ibu Gibran yang dia anggap sebagai perempuan jahat yang sudah membuat ayahnya meninggalkan ibunya, dia juga sangat membenci Gibran karena berhasil merebut perhatian ayahnya darinya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Juragan Damar di depan ruang kepada sekolah sambil jongkok, menatap Gibran.
__ADS_1
“Bagus, juragan tahu kalau Gibran adalah anak yang hebat,” jawab Juragan Damar sambil membelai kepala Gibran penuh kasih sayang sekaligus kebanggaan karena Gibran sangat berjiwa besar yang tidak mudah terbakar emosi dalam menghadapi kenakalan Mahesa.
Mahesa mengepalkan tangannya di belakang Juragan Damar yang sedang tersenyum pada Gibran. Mahesa sangat marah, kesal dan iri karena tidak sekalipun ayahnya menanyakan keadaannya, tidak pernah bertanya apakah dia baik-baik saja, tidak pernah bertanya bagian mana yang sakit dan tidak pernah mengajak Mahesa berobat. Melihat lukanya saja tidak pernah. Juragan Damar juga tidak pernah mau dengar apa alasan Mahesa berbuat seperti itu. Yang selalu Juragan Damar lakukan hanyalah marah dan kecewa karena punya akan yang liar seperti preman jalanan. Mahesa selalu berteriak menuntut keadilan atas dirinya dan ibunya tetapi Juragan Damar tidak pernah sedikit pun menanggapi hal itu. Juragan Damar justru semakin menikmati kehidupan bersama ibu Gibran dan mengabaikan Mahesa dan ibunya.
Hasan juga sudah muak berpura-pura. Dia tidak bisa lagi bersikap baik-baik saja padahal semua sangat menyakitkan. Setiap hari dia harus melihat istrinya menghabiskan waktu dengan Juragan Damar. Menjadi simpanannya, selingkuhannya atau apalah namanya. Dia juga harus mengakui di hadapan semua orang bahwa Gibran adalah putranya. Bagi Hasan, Gibran hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Dia bisa sayang kepada Gibran seperti anaknya sendiri. Tetapi jika mengingat pengkhianatan Ratmi yang tidak pernah berubah, membuatnya miris. Dia merasa sebagai laki-laki yang tidak dihargai sama sekali. Dia merasa menjadi orang yang sangat bodoh dan bisa dengan mudahnya dipermainkan oleh Ratmi dan Juragan Damar. Dia hanya digunakan sebagai tameng oleh kedua pasangan mesum itu untuk membuat semua keadaan tetap terkendali dan baik-baik saja, untuk meredam semua berita miring, untuk menutup mulut semua suara sumbang yang sudah mulai membicarakan perselingkuhan mereka. Karena posisi Ratmi adalah perempuan yang bersuami, otomatis itu bisa meredam semua pemberitaan miring dan tetap memberi status terhormat bagi Ratmi sebagai perempuan yang masih bersuami.
__ADS_1
Kesabaran Hasan ada batasnya. Dia benar-benar sudah kehilangan Ratmi, perempuan yang pernah sangat ia cintai sepenuh hati, nyatanya semua berubah karena uang. Ratmi tidak puas hidup dengannya yang miskin dan serba kekurangan. Ratmi dikuasai dengan keserakahannnya sehingga dia ingin mendapatkan segalanya, cintanya dan kemewahan. Dari Hasan dia mendapatkan cinta yang dia inginkan sementara dari Juragan Damar dia mendapatkan kemewahan. Dia egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan perasaan Hasan.
Bersambung...