Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 18


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 18


“Semoga Mbak Sari cepat sembuh,” ucap Ratmi dengan mulut manisnya.


“Jangan munafik,” jawab Sarifah sangat kesal. “Dasar perebut suami orang. Suatu saat nanti, kamu pasti akan kena karmanya,” umpat Sarifah menyumpahi Ratmi.

__ADS_1


“Untuk bisa melihat karmaku, Mbak harus tetap hidup. Jadi sebaiknya, sekarang Mbak pikirkan kesehatan Mbah dulu baru menasehatiku,” jawab Ratmi bernada mentertawakan Sarifah yang sudah tidak berdaya lagi.


Sejak Ratmi menemuinya, sejak saat itu kesehatan Sarifah semakin buruk. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak marah. Perlahan sakit Sarifah semakin parah dan bahkan menemui ajalnya. Mahesa sangat marah melihat ayahnya berdiri bersebelahan dengan Ratmi pada saat pemakaman Sarifah. Bocah kecil itu merasa bahwa kedua pasangan selingkuh itu sedang berpesta dalam hati mereka, menikmati kepergian ibunya yang akan meluruskan hubungan terlarang mereka. Tatapan penuh dendam dan kebencian itu menyala-nyala di mata Mahesa. Dia belum bisa melupakan setiap tetes air mata ibunya yang tumpah karena kedua orang itu. Dia berjanji bahwa suatu saat nanti dia akan membalas semua rasa sakit ibunya.


Sejak hari itu, Juragan Damar dan Ratmi semakin tidak sungkan bertemu satu sama lain. Mereka tidak lagi menutup-nutupi hubungan keduanya, seolah memaknai kematian Sarifah sebagai jalan lurus bagi mereka untuk bersama. Mahesa tidak terima melihat ketidakadilan terjadi pada ibunya. Tapi dia hanya anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap kali Mahesa berontak pada ayahnya,


“Mahesa tidak suka bapak menemui perempuan itu lagi,” teriak Mahesa seolah menuntut keadilan untuk ibunya.


Seminggu setelah pemakaman Sarifah, Juragan Damar bahkan berani membawa Ratmi pulang ke rumahnya dan menyuruh Mahesa memanggilnya ibu.


“Mahesa.... mulai sekarang kamu panggil dia ibu,” ucap Juragan Damar sambil menggandeng Ratmi yang sudah resmi menjadi istri barunya.

__ADS_1


“Tidak!!!” teriak Mahesa. “Dia bukan ibuku. Aku tidak mau memanggilnya ibu,” bantah Mahesa.


“Mahesa!!!!” bentak Juragan Damar hampir menampar Mahesa.


“Mas, sudah... jangan marahi dia,” sahut Ratmi berusaha melindungi Mahesa yang Mahesa tangkap sebagai sebuah sikap yang sok manis padahal munafik.


Mahesa melotot menatap Ratmi dengan penuh dendam. Diam-diam dia juga mengepalkan tangannya saat melihat Gibran berdiri di belakang mereka. Dendamnya semakin menyala, menyadari bahwa Gibran adalah musuh terbesarnya yang akan mengancam posisinya sebagai anak sah di rumah ini. Kebencian Mahesa kepada Gibran semakin menggunung yang membuatnya tidak pernah bisa bersikap baik kepada Gibran maupun ibunya. Dalam kepalanya hanya ada satu ambisi yaitu membalaskan dendam ibunya.


Pergolakan dendam dalam tubuh Mahesa terus berkobar. Dia tidak terima atas semua perlakuan buruk yang diterima ibunya. Mahesa seolah mengutuk semua orang yang bertanggung jawab atas luka hati ibunya dan harus mendapatkan balasannya. Dia tidak terima semua orang yang sudah menyebabkan ibunya meninggal bisa tertawa di atas kematian ibunya.


Masa lalu yang kelam, ketidakadilan yang diterima ibunya, membuat Mahesa hidup dengan penuh dendam kepada semua orang yang dianggap bertanggung jawab atas kematian ibunya. Mahesa tumbuh menjadi anak yang licik dan culas. Sama seperti Ratmi yang sudah menyingkirkan ibunya, Mahesa pun melakukan cara yang sama untuk menyingkirkan Ratmi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2