Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 89


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 89


“Ini tidak mungkin...” Gibran sangat syok.

__ADS_1


Seluruh tubuh Gibran terasa lemas, tidak berdaya. Hatinya menjerit kesakitan mendapati kenyataan bahwa malam ini Manira akan hancur. Gibran menangis di sudut sel tahanan setelah berkali-kali memukuli jeruji besi itu dan berteriak memohon agar dibiarkan pergi. Tidak ada yang mendengarnya. Sekarang tinggal Gibran seorang diri dalam sel itu dengan kesedihan dan segala sesalnya.


“Maafkan aku.... maafkan aku...” Gibran sangat merasa bersalah sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


Sebuah penyesalan yang menyiksa membuat dada Gibran terasa sesak. Dia bisa kembali gila dan menjadi gelandangan. Kali ini bahkan mungkin lebih parah. Mahesa berhasil membuat Gibran merasa bersalah dan terus menyiksa dirinya sendiri untuk menebus rasa bersalahnya. Dia memukuli kepalanya bahkan membenturkannya ke tembok karena tidak sanggup menerima kenyataan yang begitu menyakitkan.


Gibran tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja dia tidak pernah bertemu dengan Manira maka Mahesa tidak akan menggunakan Manira sebagai alat balas dendamnya. Semua terjadi karena dia. Manira yang malang harus menjadi korban dari dendam dua saudara tiri yang tidak berkesudahan meski waktu sudah sangat lama berlalu. Gibran menyesal. Dia merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Manira. Tangisnya tidak berhenti sepanjang malam. Dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada Manira malam ini.


Manira tinggal sejarah. Setelah kejadian itu, pagi harinya Manira terdiam di kamarnya dengan tatapan kosong. Dia syok karena laki-laki yang sangat dia percaya, laki-laki yang kepadanya dia percayakan seluruh hidupnya dan dia gantungkan harapannya ternyata memperlakukannya dengan lebih buruk dari seekor binatang. Manira jijik pada dirinya sendiri sampai tidak berani menatap dunia lagi. Semuanya sudah hancur.

__ADS_1


Dia bersimpuh di lantai kamarnya, menunduk, menangis. Dalam benaknya selalu dia pertanyakan,


“Kenapa aku tidak bisa berhenti mencintainya?”


Manira menangisi dirinya sendiri karena terperangkap dengan cintanya sendiri hingga tidak bisa menggantikannya dengan siapa pun. Terlalu banyak hal yang dia korbankan tetapi semuanya seperti tidak berarti sama sekali. Manira terus menangis, menyesalkan kenapa dia harus jatuh cinta pada Mahesa, seseorang yang tidak sedikit pun peduli padanya. Dia sangat putus asa. Seluruh dunianya sudah menjadi gelap. Satu persatu ingatannya tentang perlakuan Mahesa kepadanya terngiang kembali.


Manira sedih bahwa selama ini Mahesa sudah membuatnya menjadi pajangan yang diincar banyak laki-laki. Pelelangan itu, Manira semakin miris mengingatnya. Sebuah pelelangan yang semakin lama harganya semakin naik dan membuat Mahesa bahagia ternyata adalah pelelangan yang melelang keperawanannya. Sekajam itukah Mahesa yang sesungguhnya? Manira terus bertanya, apa salahnya? Kenapa dia harus diperlakukan seperti ini?


Manira teringat pada mimpinya waktu itu. Dalam mimpi itu Manira berkata,

__ADS_1


“Tidak bisakah, sekali saja kamu menjadi orang jahat agar aku bisa berhenti mencintaimu?”


Bersambung....


__ADS_2