
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 65
Manira menghentikan mobil putihnya ketika melihat laki-laki berkemeja kotak-kotak yang membiarkan kancingnya terbuka, terbawa angin menampakkan kaos putih yang ada di dalamnya. Imam berdiri di tengah jalan sambil memegang tongkat kayu. Setelah Manira keluar, dia berjalan cepat menuju mobil Manira lalu...
Brok!!!! Brok!!!! Imam menghancurkan kaca mobil Manira.
__ADS_1
“Aw...” teriak Manira, ketakutan.
Pria itu menunjukkan wajah marah dan kecewa. Sebuah kekecewaan yang tidak ada yang lebih besar selain seorang laki-laki yang lamarannya ditolak oleh perempuan pujaannya dengan alasan yang tidak masuk akal. Semua rasa cinta Imam berubah menjadi dendam. Dendam yang coba dia kendalikan tapi pada akhirnya tidak bisa lagi dia tahan. Dia ingin sekali marah dan memukuli Manira agar Manira menyadari kesalahannya. Menurutnya ini tidak adil. Ini adalah suatu kebodohan dan keangkuhan karena Manira tetap kekeh mempertahankan kesetiaannya kepada kekasihnya yang mungkin tidak akan pernah kembali padanya.
Rasa cinta yang terlalu dalam membuahkan kekecewaan dan kemarahan yang dalam pula. Itulah yang kini mengubah cinta Imam menjadi kebencian. Cinta yang terlalu dalam dan rasa sakit yang terlalu dalam. Hal yang sama yang juga pernah terjadi pada Juragan Damar kepada Ratmi, sekarang Iman rasakan pada Manira. Kecewa dan sakit. Dia terus berdiri menatap Manira seakan ingin membaca apa yang ada di dalam hati dan pikiran perempuan yang sekarang berdiri di hadapannya. Apa yang dia pikirkan? Apa yang dia inginkan? Dan kenapa dia begitu keras kepala? Apa hebatnya kekasihnya hingga membuat dia tidak bisa berhenti mencintainya dan bahkan tidak bisa sedikit pun membuka hatinya untuk laki-laki lain. Jika perempuan yang suaminya ada di sampingnya saja masih bisa berselingkuh, kenapa Manira yang terpisah jauh dengan kekasihnya tidak bisa membuka hatinya sama sekali? Apa yang salah dengan Manira?
Imam terus menatap Manira untuk waktu yang lama dengan mata berkaca antara sedih, marah dan kecewa. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi perempuan paling bodoh dan paling keras kepala ini. Perempuan yang demi kekasihnya berani mengabaikan segalanya bahkan keinginan orang tuanya sendiri. Jika anak-anak lain meresahkan orang tuanya dengan membuat keributan dimana-mana, maka Manira melakukannya dengan cara diam yang diamnya lebih menakutkan daripada badai.
“Kamu tahu, apa nama lain dari kesetiaanmu terhadap cinta?” tanya Imam.
Manira menunduk, diam.
__ADS_1
“Kedurhakaan kepada orang tua,”
“Maaf...” ucap Manira merasa bersalah.
“Hentikan semua kebodohan ini,” jawab Imam, menatap Manira, marah. “Semua orang menunggumu....”
Manira menggelengkan kepalanya dengan penuh rasa bersalah.
Bersambung...
__ADS_1