
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 76
Tiba-tiba seorang perempuan cantik bergaun biru menghampiri Mahesa dan Manira.
“Hai, Mahesa. Belakangan ini kamu tidak meneleponku,” tanya perempuan itu.
__ADS_1
“Kenalkan, dia Manira, istriku,” jawab Mahesa.
“A, apa itu artinya kita tidak akan bertemu lagi?”
Mahesa tersenyum, “Sudahlah. Jangan seformal itu,” jawabnya santai.
Manira merasa sedikit aneh. Entah kenapa, perempuan bergaun biru itu membuat Manira cemburu. Dia merasa ada hubungan yang tidak biasa dengan Mahesa. Tetapi, Manira hanya bisa menyimpan keanehan itu dan berusaha memahami bahwa mungkin dia memang harus belajar menyesuaikan diri dengan keadaan Mahesa. Selama ini dia tidak tahu apa-apa tentang Mahesa. Manira merasa perlu banyak belajar dan memahami suaminya dengan lebih baik. Dia berusaha untuk bisa tersenyum pada perempuan itu meski hatinya merasa sedikit gelisah melihat kedekatan mereka.
Tetapi tidak tahu kenapa, Manira tidak bisa mengabaikan kegelisahannya. Dia merasa tidak tenang meninggalkan suaminya di tengah perempuan-perempuan cantik yang berkeliaran di sana. Bukan over protektif, tapi Manira hanya merasa sangat tidak tenang. Dia putuskan untuk kembali ke gedung pertemuan dan mencari Mahesa.
Di sana Manira melihat Mahesa dan perempuan itu kembali bertemu. Kesannya seperti sengaja menghindari Manira agar tidak melihat semua kejadian itu. Mereka bukan hanya berjabat tangan tapi juga berciuman. Diam-diam Manira mengamati mereka dari kejauhan. Hatinya sakit seperti diiris-iris, merasa bahwa cintanya sedang diduakan, merasa bahwa suaminya bukan hanya miliknya. Manira menangis. Perempuan polos yang hanya tahu stasiun tua di kampungnya, merasa ini bukan sesuatu yang biasa. Dia terlalu syok melihat ada laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri berciuman seperti itu. Tetapi Manira mencoba menahan dirinya. Dia berusaha memahami bahwa mungkin, ini cara bergaul di tempat ini. Ini negara asing dan Manira merasa harus siap dengan segala kejutannya.
__ADS_1
Mahesa merangkul perempuan bergaun biru itu sambil mengamati foto lukisan Mona Lisa dengan efek hitam putih yang di pajang di salah satu dinding. Mereka terlihat sangat mesra seperti sepasang kekasih.
“Siapa dia?” tanya perempuan itu sambil menatap foto lukisan Mona Lisa tetapi yang sebenarnya dia pertanyakan bukan lukisannya, melainkan Manira.
“Sebuah lukisan yang sangat indah yang semakin lama dipandang akan semakin mahal harganya,” jawab Mahesa mengisyaratkan bahwa Manira seperti lukisan yang indah yang semakin lama dipajang akan semakin mahal.
“O, begitu?” sahut perempuan itu sambil tersenyum seakan tahu kemana arah pembicaraan Mahesa. “Kenapa tidak dijual sekarang saja?”
“Aku perlu menunggu seseorang,” Mahesa menatap perempuan itu, “Akan ada tamu spesial,” lanjutnya.
Perempuan itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia sangat tahu seperti apa Mahesa yang sesungguhnya. Semua rencananya pasti menyimpan misteri yang sangat menarik dan mengejutkan. Dia tidak sabar menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagi perempuan itu, kehadiran Manira bukanlah sebagai seorang istri yang harus dihargai atau seseorang yang membuat dia harus menjaga jarak dengan Mahesa. Tapi bagi perempuan itu, Manira adalah gadis biasa yang mungkin akan berlalu seperti angin.
__ADS_1
Bersambung...