Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 86


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 86


“Katakan berapa uangmu, baru bisa bicara dengan Manira,” lanjut Mahesa dengan jelas menunjukkan bahwa dia sedang memperdagangkan Manira.


“Dasar kurang ajar,” umpat Gibran.


Mahesa tersenyum. “Pelelangannya berhenti di angka 1,25 M. Kalau kamu bisa membawa uang lebih dari itu, aku akan berikan dia padamu,”


“Aku tidak akan melepaskanmu!!!”

__ADS_1


Gibran berusaha menyerang Mahesa. Dia sangat marah hingga membuatnya seperti orang kalap yang bisa melepaskan diri dari para pengawal Mahesa yang memeganginya. Gibran menarik kerah baju Mahesa dan memukulinya. Dia menghajar Mahesa dan tidak sedikitpun melepaskan kerah bajunya. Setelah dijatuhkan ke lantai, dibenturkan ke tiang, dipukul, dilemparkannya ke lantai. Beberapa pengawal Mahesa mencoba menghadang. Tapi tenaga Gibran terlalu kuat hingga mereka kewalahan menghadapi Gibran.


Dalam sekejap, Mahesa dibuat babak belur oleh Gibran yang sudah termakan amarah. Mahesa sangat marah. Dia berusaha melawan tapi selalu kalah menghadapi pukulan Gibran. Sejenak acara pelelangan itu kacau. Semuanya berantakan. Kaca pecah, meja dan kursi hancur, terdengar banyak teriakan dimana-mana. Gibran benar-benar sukses membuat keributan. Dia ingin menjelma menjadi pahlawan untuk melamatkan kekasihnya. Tetapi semua itu tidak berhasil dia lakukan karena pada akhirnya polisi datang dan menyeretnya keluar.


Gibran harus melewati malamnya di dalam penjara. Menunduk, menangis tidak berhenti menyesalkan semua yang sudah terjadi. Dia sangat marah. Berkali-kali mencoba memukuli jeruji besi yang mengurungnya tapi tidak ada gunanya. Yang bisa dia lakukan hanyalah menangis. Menangisi nasib Manira yang dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.


“Antarkan cincin ini pada pemiliknya,” perintah Mahesa.


Mahesa memberikan cincin berlian yang diletakkan di dalam kotak berwarna hitam kepada Manira. Manira heran. Manira merasa aneh, kenapa harus dia yang mengantarkannya?


“Aku?” Manira heran.


“Bukan begitu. Cincin ini sangat mahal, kenapa harus aku yang mengantarnya? Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan?”


“Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa,”

__ADS_1


Manira tidak berani menolak. Dia menerima kotak hitam itu dengan tegang dan sangat was-was. Manira sangat takut dan sangat mencemaskan sesuatu tetapi tidak tahu apa yang sedang dia cemaskan. Sebelumnya dia tidak pernah merasa setakut ini. Tapi dia tidak pernah bisa menolak permintaan Mahesa. Meski tegang, dia mencoba melaksanakan perintah Mahesa.


Manira berjalan di lorong hotel dan melewati puluhan pintu kamar bercat putih. Manira berjalan perlahan sambil membawa kotak berisi cincin berlian bernilai miliaran. Keringat dingin mengucur di keningnya, jantungnya berdetak kencang. Bukan karena dia sedang membawa berlian mahal bernilai fantastik. Ada hal lain yang membuatnya cemas tapi tidak tahu hal apa itu.


Tok... tok.... tok....


Manira berdiri di depan kamar 308. Wajahnya masih tegang, tangannya dingin. Beberapa saat kemudian seorang laki-laki membuka pintu kamar itu. Laki-laki yang sama yang beberapa saat lalu melemparkan tatapan nakal pada Manira yang membuat Manira jijik melihatnya. Melihat laki-laki menakutkan itu membuat Manira semakin tegang.


“Ma.... Ma.... Mahesa menyuruhku mengantarkan ini,” ucap Manira, gugup.


“Masuklah,” jawab laki-laki itu dengan senyuman misteriusnya.


Manira masuk ke kamar itu setelah sempat ragu apakah dia harus melakukannya atau tidak. Tetapi dia benar-benar tidak bisa menolak permintaan Mahesa. Yang dia pikirkan dalam benaknya hanyalah semoga tugas ini lekas selesai dan dia bisa segera pergi dari tempat mengerikan ini.


Klik!!!

__ADS_1


Manira terkejut mendengar laki-laki itu mengunci pintunya. Manira langsung membalikkan badan. Dia melihat laki-laki berkepala botak itu tersenyum nakal kepadanya. Manira semakin ketakutan. Tubuhnya gemetaran.


Bersambung....


__ADS_2