Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 25


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 25


18 tahun kemudian...


Ngiiik.... ngookkk....ngiiik.... ngoookkk...

__ADS_1


Seorang perempuan cantik bergaun putih tampak duduk di salah satu kursi kayu, memanggul biola dan memainkannya. Sebuah lagu sendu menyayat hati seakan menggambarkan kerinduannya yang sangat dalam akan seseorang. Seseorang yang kedatangannya sangat dia harapkan di stasiun tua ini. Ada pengharapan yang melambai-lambai seperti anak kecil yang melambaikan tangannya, merindukan ibunya. Pengharapan yang sangat dalam yang turut menguraikan kesenduan di wajah perempuan berkulit putih itu.


Di belakang stasiun tua itu, ada seorang gelandangan sedang memegang sapu lidi, di bawah pohon beringin yang rindang. Hembusan angin sore yang kering terus menggugurkan daunnya hingga membuat pria berambut kumal itu kesulitan membersihkannya. Bukan hanya rambutnya yang kumal, pakaiannya juga kotor, sudah tidak jelas apakah warna aslinya coklat atau kuning karena terlalu dekil. Dia berdiri di bawah pohon besar seperti setan penunggu stasiun tua.


“Orang gila... orang gila... orang gila...” beberapa anak kecil berseragam SD meneriakinya sambil melemparinya dengan batu.


Pria menyeramkan itu menatap mereka lalu anak-anak itu lari ketakutan. Mereka takut jika orang gila itu mengamuk dan mengejar mereka. Inilah hari-hari yang harus dilalui oleh Gibran. Seorang anak usia 12 tahun yang menjelma menjadi laki-laki dewasa yang sudah seperti penunggu pohon tua yang mengerikan. Dia sangat terluka dengan masa lalunya hingga tidak lagi memiliki semangat hidup. Tidak memiliki tujuan hidup dan membiarkan dirinya hancur berantakan.


Gibran memutuskan meninggalkan kampung. Dia tidak mau hidup dalam masa lalu meski hingga kini masa lalu itu masih selalu mengikutinya. Dia tidak pernah bisa lepas dari kejadian itu bahkan setelah 18 tahun berlalu. Gibran tumbuh dan hidup di stasiun tua ini seperti orang gila yang bekerja sebagai tukang sapu, hanya sekedar untuk bisa makan. Tidak ada lagi yang dia harapkan dalam hidupnya selain hanya untuk makan dan bisa bertahan hidup sampai besok pagi.


Masih lekat dalam ingatan Gibran betapa dia mendapat penolakan dimana-mana,

__ADS_1


“Anak haram... anak haram.....” seru teman-teman sebayanya, waktu itu, yang salah satunya adalah Mahesa.


Gibran merasa tidak punya tempat dimana-mana. Sebelumnya, semua orang takut pada Juragan Damar sehingga tidak berani mengatakan apa-apa. Tapi setelah Juragan Damar meninggal, satu-persatu mulai berani mencibir Gibran sebagai anak yang terlahir dari hubungan yang tidak sah. Semua orang seperti menatapnya dengan tatapan jijik dan hina.


Suatu hari, ada salah satu teman dari kampungnya yang melintas di depan stasiun ini bersama ibunya. Anak kecil itu senang melihat Gibran yang sudah lama tidak dia temui,


“Gibran!!!” teriak bocah kecil itu dengan wajah sumringah. “Ma, itu Gibran Ma... teman sekelas Akbar,” lanjut anak itu sembari menunjuk Gibran yang sedang duduk di pojokan stasiun.


“Hush!!!” sentak ibu anak itu dengan nada marah. “Jangan main dengan anak yang tidak jelas seperti dia,” ucap ibu itu dengan nada jijik dan tatapan penuh penghinaan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2